Cerita Pasien Isolasi Covid-19, Terpenjara di Kamar ‘Wiro Sableng’

Penulis: Redaksi , Editor: Muhammad Syafe'i - Sabtu, 03 Oktober 2020 , 15:49 WIB
Kamar 202 isolasi di Bapelkes Pijoan
Istimewa
Kamar 202 isolasi di Bapelkes Pijoan


JERNIH.ID, Jambi – Kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) saat ini semakin meningkat di Provinsi Jambi, data teranyar pasien terkonfirmasi positif Covid-19 berjumlah 558. Lalu untuk pasien sembuh berjumlah 273 dan meninggal dunia 14 orang.

Tentunya bagi pasien yang terkonfirmasi positif menjalani perawatan dengan terpisah dari keluarga dan kerabat sangatlah tidak mengenakan, tapi keadaan mengharuskan untuk itu.

Pengalaman menjalani isolasi di Balai penelitian kesehatan (Bapelkes) Pijoan, Jambi diceritakan JP pasien (423), dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG) Covid-19 asal Kota jambi.

Meski sarana yang disediakan pemerintah bisa dikatakan baik dan terbatas disini khsus pasien OTG, namun ia menyarankan agar orang-orang yang diluar sana jangan sampai seperti dirinya.

“apapun alasannya, paling enak tinggal dirumah dan berkumpul dengan keluarga dan kerabat, bisa pergi kesan-kesini” kata JP, Sabtu, (3/10/2020).

Awal dikabari positif Covid-19

Diceritakannya, pada hari Sabtu, 26 September 2020 iya mendapatkan kabar dari salah satu tim gugus tugas Covid-19 Provinsi Jambi.

Melalui pesan whatsapp yang dikirim ke handphone pribadinya itu sekira pukul 15.00 WIB, menyebutkan bahwa Iya dinyatakan positif Covid-19

“Ass, sabar ya,, harus dilalui dengan tabah dan semangat agar cepat sembuh, dindo dinyatakan terkonfirmasi positif” begitu bunyi pesan yang dikirim Jubir Covid-19 Provinsi Jambi Johansyah, sontak membuat saya shock.

Lanjutnya, setelah mendapat kabar itu, iya langsung berkontek keluarga dirumah memberikan kabar itu.

“Saya langsung telepon isteri, saya sampaikan dengan pelan-pelan. Ma kita harus tabah dan kuat ini semua ujian dari yang kauasa, papa dinyatakan positif Covid-19,” katanya menirukan saat mengabari isteri waktu itu.

Mendengar kabar tersebut isteri saya terkejut, dan sempat tidak percaya.

“Papa sehat tidak ada gejala apa-apa, kok bisa”, ungkap isteri saya sambil menangis

Namun saya tetap menguatkan isteri, meskipun sebenarnya saya lah yang hampir ngedrop saat itu. “Tidak apa-apa, kita harus ikhlas dan kuat, percaya semua pasti berlalu,” kata saya ke isteri saya.

Kamar 212 nomor cantik ‘Wiro Sableng’

Sepekan saya menjadi penghuni kamar ‘212’ lantai dua rumah Isolasi pasein OTG dan harus berdamai dengan keadaan dan realitas. Harus membersihkan tempat tidur sendiri, ngepel sendiri, dan cuci pakain sendiri.

Sementara, Untuk Tim Nakes yang bertugas disni, iya hanya mengantar makanan dan ditaruh di depan pintu kamar.

“Untuk pelayanannya disini ngelayanin diri sendiri, berbenah sendiri, ketawa sendiri, bermain dan bercanda sendiri. “,jelasnya.

Aktivitas fisik dikatakan JP ditempat isloasi, senam pagi bersama dibagi tiga sesi pada pukul 08.00 wib kurang lebih 30 menit setiap harinya. “Jadi selain senam pagi, kita mendap dikamar nonton, dari pagi ketemu pagi lagi, ya.. kurung lebih 22 jam kemudia”,jelasnya.

Suntuk, ya itu nyatanya

Aturan yang ada disini tidak membolehkan keluar kamar/atau bertandang ke tentangga, apalagi berkatifitas diluar ruangan selain jam yang telah ditentukan.

“Wi-Fi tidak ada hanya sebagain gedung isloasi yang tercoper, Pasien OTG Covid-19 harusnya banyak olahraga, namun jika hanya mengurung diri dikamar dikhawatirkan mengundang penyakit baru, ya stress,” ungknya.

Andaikan diperbolehkan olahraga pagi dan sore..jenuh dan stress itu pasti teratasi, sembuh pun menanti.

JP yang masih harus menjalani isolasi hingga sepekan ke depan ini mengaku masih dalam keadaan tanpa gejala. Meski tidak mendapat obat khusus yang diyakini menyembuhkan corona, ia tetap mengonsumsi vitamin yang diberikan nakes untuk meningkatkan imunitasnya.

“Mudah-mudahan swab kedua nanti hasilnya Negatif, mohon doanya,” kata JP.

“Yang paling menyeramkan itu adalah kesepian, menahan rindu terhalang corona,” tukasnya.

Sumber: Ampar.id



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID