Curi Star Pemilu 2024, Pandemi Menjadi Ajang Cari-cari Perhatian Masyrakat

Aldi Afrihadi
Dok Aldi Afrihadi
Aldi Afrihadi
Penulis: Redaksi

Oleh: Aldi Afrihadi

Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 adalah ajang pesta demokrasi serentak akbar di nusantara, bagaimana tidak yang seharusnya pilkada di beberapa daerah baik di tingkat kabupaten/kota hingga provinsi yang sejatinya akan dilaksana kan di tahun 2022 dan di tahun 2023 di sepakat kan oleh DPR dan pemerintah menjadi tahun 2024 sekaligus momentum pemilihan legislatif dan pemilihan presiden untuk periode selanjutnya. Hal itu di jelaskan setelah adanya pencabutan rancangan undang-undang pemilu (RUU) dari daftar proglegnas sehingga memastikan bahwa pilkada 2022 dan 2023 di lakukan serentak pada tahun 2024 mendatang.

Kebijakan Ini diambil oleh dewan perwakilan rakyat atas dasar kemanusian karena masih mengganasnya dampak pandemi covid-19 sehingga dalih memikirkan rakyat dengan tatanan kehidupan dan pemulihan ekonomi nasional adalah fokus utama pemerintah bersama para dewan ketimbang harus sering menggelontorkan dana yang besar dalam melangsung kan pilkada serentak yang di lakukan setiap tahun, ada baiknya di lakukan serentak di tahun 2024 entah itu lebih dulu atau lebih lambat dari pesta pileg dan pilpres. Kebijakan ini tentunya banyak menuai pro hingga kontra di kalangan politisi, partai politik dan ranah birokrasi.

Contoh kecilnya karena dengan adanya masa perlambatan dalam pergantian kepemimpinan tentunya akan mempengaruhi kinerja terhadap pelayanan publik kepada masyrakat, yang diakibatkan masa tenggang kekosongan jabatan yang terbilang lama hingga satu tahun bahkan lebih dan masa jabatan pelaksana tugas yang terlalu lama. Namun kita tidak berbicara mengenai pro dan kontra terhadap penghapusan pemilu serentak di tahun 2022 dan 2023-nya, melainkan penulis mencoba menganalisa dimana momen pandemi yang semakin hari semakin belum menunjukan akan berakhir, mampu di manfaatkan oleh para aktor politik yang hendak berlaga di pikada, pileg bahkan pilpres pun tidak menutup kemungkinan.

Seperti yang dikutip penulis dari kompas.com yang di sampaikan oleh salah satu tokoh nasional menyebutkan bahwa “Pandemi menjadikan terang benderang mana pejuang dan mana penjahat kemanusiaan” (Anies Baswedan). Kata kata ini kemudian bisa di tafsirkan oleh penulis bahwa momen pandemi dimana masyrakat yang terdampak sangat memerlukan uluran tangan dari pemerintah maupun dermawan lainya dianggap sebagai momen ampuh dalam memeperkenalkan dan mencuri perhatian para masyrakat tentunya. Rasa kemanusian yang di bungkus di dalam keiklasan membantu dan mendapatkan reward di kenali oleh masyarakat hingga di populerkan oleh media di rasa adalah suatu hal pemula dalam mendapatkan modal untuk mengikuti kontestasi pemilihan umum, baik pilkada, pileg ataupun pilpres.

Meski terbilang masih lama kurang lebih dua tahun lagi, namun untuk saat ini sudah mulai nampak kegiatan sosialisasi memperkenalkan nama, baik melalui pemasangan di bilbord, famplet, poster hingga memanaskan dunia media sosial dengan kegiatan-kegiatan kemanusiaan terhadap masyrakat yang terdampak pandemi akibat kebijakan pemerintah yang kian hari semakin membatasi ruang kegiatan masyrakat, nah momentum seperti inilah yang kemudian di gencarkan oleh para aktor-aktor, partai politik ataupun pejabat petahana yang semakin hari semakin menunjukan kinerja yang baik, semua itu di lakukan tidak lain untuk menghimpun simpatisan masyrakat sebagai modal memenangkan kontestasi demokrasi mendatang.

Curi star di awal awal seperti saat ini merupakan hal yang wajar menurut penulis, karena saat ini masyarakat Indonesia sudah tidak buta lagi akan poltik, masyarakat akan menilai mana yang memang betul-betul ingin berkerja, berbuat dan mengedepankan kepentingan masyrakat ketimbang hanya pencitraan dan sibuk mencari simpatisan ketika hari H pemilihan dengan mengeluarkan jurus jitu serangan fajar. Di lain hal 2024 mendatang memperlihatkan bahwa jumlah pemilih muda mendominasi di setiap DPT, oleh karen itu anak muda saat ini sudah tidak bisa di kelabuhi lagi yang bejuang dari awal dengan semangat yang luar biasa dan keiklasan yang luar biasa pasti akan mendapatkan jalan yang baik dari pada menghamburkan serangan fajar namun tetap kalah.

Lebih baik menjadi pejuang kemanusiaan di tengah keresahan penderitaan masyrakat demi menjemput ridha dan keberkahan kehidupan, dengan mencuri star jika ingin benar-benar bekerja untuk umat biarpun merugi di awal, namun perjuangan tetap akan dikenang oleh mereka yang terbantu bukan mereka yang di bayar namun setelah itu di lupakan, melalui tulisan ini penulis berharap pembaca akan lebih pandai dalam menentukan pilihan demi menitipkan satu suara sah demi membangun negeri ini, mari kita sama-sama melihat mana yang memang sudah mulai berjuang demi umat meski belum memiliki jabatan, dengan keiklasan dan kebesaran hatinya mari kita hantarkan niat baik itu untuk memimpin negeri ini.

(Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi)