Edutainment: Belajar dalam Kabut

Penulis: Redaksi - Rabu, 04 Oktober 2023 , 14:54 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Oleh: Amri Ikhsan

Kabut asap yang melanda sejumlah daerah di Provinsi Jambi telah mencapai titik yang membahayakan bagi kesehatan. Kondisi cuaca di hampir seluruh Jambi sudah masuk kategori tidak sehat. Instansi terkait sudah meliburkan proses pembelajaran di semua tingkat dengan dikeluarkan Surat Edaran tentang kegiatan pembelajaran selama kabut asap.

Oleh karena itu, boleh saja sekolah diliburkan, siswa tidak datang ke sekolah tapi yang namanya belajar tidak boleh libur. Disadari, kabut menimbulkan trauma psikologis bagi semua orang yang mengalaminya. Akibat kabut asap: (1) menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungkin juga infeksi; (2) memperburuk penyakit asma dan paru kronis lain; (3) kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan mudah lelah dan kesulitan bernapas; (4) kemampuan dalam mengatasi infkesi paru dan saluran pernapasan menjadi berkurang; (5) berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk; (6) infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jadi lebih mudah terjadi. (diolah dari berbagai sumber).

Guru sebagai ujung tombak pendidikan harus piawai dalam mengelola proses pembelajaran sehingga siswa bisa ‘lupa’ dengan kondisi asap kabut diluar kelas. Mesti disadari bahwa pembelajaran selama kabut asap bukan pembelajaran biasa, harus ada ‘extra ordinary action’ dari guru agar aktivitas pembelajaran berjalan dengan lancar.

Dalam proses pembelajaran, guru memang memiliki peran yang sangat penting. Guru dituntut mampu menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif sehingga siswa dapat melakukan pembelajaran dalam suasana psikologis yang mendukung dengan memperhatikan kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan yang optimal (Surya, 2006:46). Suasana pembelajaran yang kondusif tersebut hanya dapat diciptakan, jika guru bersikap ramah kepada siswa, menggunakan bahasa yang santun, sehingga tidak mengancam “muka’ siswa.

Pertama, benahi komunikasi guru dan siswa, karena polanya sudah berubah dari tatap muka ke tatap maya. Komunikasi diusahakan memancing pikiran siswa untuk ‘melupakan’ suasana kabut asap diluar ruangan, yang bisa mengganggu pikiran siswa dalam belajar dengan mengkondisikan siswa bebas menyampaikan pendapat, saran bertanya dan menjawab dalam satu interaksi yang akrab, menyenangkan, saling berbagi ilmu, dsb.

Maka, disain pembelajaran mengedepan kesantunan berkomunikasi. Melalui komunikasi yang santun dan menyejukkan, seorang guru akan dengan mudah memanfaatkan dan mendayagunakan potensi siswa. Ini sesuai dengan Permendikbud nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses: Guru wajib menggunakan kata-kata santun, lugas dan mudah dimengerti oleh peserta didik.

Komunikasi pembelajaran diharapkan disesuaikan dengan prinsip kesantunan: 1) pembelajaran penuh dengan kata kata ‘puja-puji’ yang mendidik terhadap apapun yang dilakukan siswa; 2) santun berarti memberi tempat yang ‘menyenangkan; sehingga siswa tidak memiliki ‘halangan’ untuk berpartisipasi dalam pembelajaran; 3) posisi guru dalam konteks ini adalah bagaimana menyalurkan potensi yang dimiliki siswa sesuai dengan ‘kadar’ kompetensi yang dimilikinya.

Kedua, belajar sambil trauma healing, suatu tindakan yang dilakukan guru untuk membantu siswa mengurangi bahkan menghilangkan gangguan psikologis yang sedang dialami yang diakibatkan lingkungan yang tidak menyenangkan (Parkinso, 2000). Hindari memberikan materi pembelajaran hanya dengan ‘ceramah’ tapi lebih banyak memberikan hiburan melalui serangkaian kegiatan menyenangkan, seperti permainan edukasi, bernyanyi, mendongeng, dan hal-hal yang bisa membuat siswa melupakan bencana.

Dalam pembelajaran, trauma healing merupakan pemberian bantuan berupa penyembuhan untuk mengatasi gangguan psikologis seperti kecemasan, panik, dan gangguan lainnya karena lemahnya ketahanan fungsi-fungsi mental yang dimiliki individu. Peran trauma healing adalah mampu mengalihkan pikiran buruk terhadap bencana agar siswa tidak berlarut-larut dalam kesedihan serta bisa mengambil hikmahnya (UNS).

Ketiga, pembelajaran harus mengedukasi siswa ketika menghadapi situasi yang berbahaya. Secara naluriah, ketika ada bahaya manusia akan bereaksi berupa tindakan fight (menghadapi), flight (menghindari) atau freeze (terdiam). Berbagai reaksi ini merupakan respon yang normal sebagai upaya manusia untuk menyelamatkan diri dari bahaya yang mengancamnya. Reaksi-reaksi ini pun seringkali masih tampak setelah bahaya yang dihadapi sudah berlalu (Kementerian PPPA).

Kemudian, membangkitkan semangat resiliensi, kemampuan siswa untuk mengambil tindakan yang dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam mengatasi situasi yang sulit dan penuh tekanan dengan cara yang efektif (PPPA). Kemampuan ini harus dibangkitkan, dikuatkan dan dikembangkan guru selama pembelajaran daring.

Keempat, mengajar sambil hiburan (edutainment) merupakan upaya mengembalikan kondisi siswa sesuai dengan hakikat diri siswa sebagai manusia, dengan kegiatan pembelajaran lebih mengedepankan kesenangan dan kebahagiaan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran atau belajar dilakukan dengan cara yang menyenangkan, bukan sebaliknya membosankan dan dalam kondisi tertekan (Fadlillah). Karena diyakini, perasaan gembira akan mempercepat pembelajaran, sedangkan perasaan negatif, seperti terancam, takut, sedih, merasa tidak mampu akan memperlambat belajar bahkan menghentikannya.

Sebelum memberikan pembelajaran daring, perlu diperhatikan: (a) pembelajaran yang memudahkan, dengan lingkungan belajar tanpa stress (rileks), nyaman dan aman. (b) pilihlah materi pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswa, dan dekat dengan lingkungan siswa; c) pilihlah konteks pembelajaran yang memang diperlukan dan berguna bagi siswa untuk dipelajari. (c) kegiatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk kerja sama, saling berbagi dan menolong; d) gunakan aplikasi yang paling mudah digunakan dan diyakini semua HP siswa terinstal dengan aplikasi itu; e) kesalahan itu itu wajar dalam pembelajaran, motivasi siswa untuk menyadari kesalahannya dan mengoreksi sendiri.

Kelima, kalau memang pembelajaran berisi tugas yang harus dikerjakan siswa, pemberian  tugas hendaknya proporsional: (1) tidak memberikan tugas yang berlebihan alias terlalu membebani siswa; (2) memberikan tugas  kepada siswa disesuaikan dengan kemampuan siswa ; (3) dalam  memberikan  tugas diusahakan tidak terlalu sulit atau justru terlalu mudah untuk dikerjakan.

Pemberian tugas yang terlalu mudah akan menyebabkan siswa menjadi kurang termotivasi dan cenderung menyepelekan. Sedangkan jika terlalu sulit dapat menimbulkan rasa frustasi, bahkan mungkin hanya akan menimbulkan kebencian terhadap mata pelajaran maupun terhadap guru yang  bersangkutan.
Mengajar daring memang tidak mudah seperti dibayangkan banyak orang.

Pembelajaran daring tidak hanya menyibukkan guru dan siswa, tapi juga menyibukkan orang tua siswa. Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan bermanfaat abadi. Aamiin!

(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID