Amri Ikhsan Oleh: Amri Ikhsan
FOMO atau Fear Of Missing Out adalah rasa takut, cemas, kecewa dan kurang bahagia merasa “tertinggal” atas sesuatu (Przybylski). Ini menarik untuk didiskusikan karena istilah ini merupakan kondisi psikologis atau persepsi seseorang sering dialami baik di dunia nyata apalagi di dunia maya.
Seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dunia maya, perasaan FOMO makin terasa. Dia selalu melibatkan diri dalam setiap akun media sosial dan men-share apa saja. Pantang sekali bagi dia bila melihat orang lain meng-uploud sebuah kegiatan, maka langsung membuat dan share kegiatan yang sama di media sosialnya. Pokoknya dia tidak mau kalah dengan orang lain.
Dia selalu merasa kalah bila tidak upload sesuatu di media sosialnya. Dia selalu mencari momen agar dia mendapatkan gambar atau photo untuk di-share apapun hasilnya. Kadang kadang dia sengaja datang ke suatu tempat yang sebenarnya tidak urgen hanya untuk menunjukkan dia bisa melakukan hal yang sama. Pokoknya, apa yang dikerjakan orang lain dia akan melakukan hal yang sama.
Begitu juga di dunia nyata. Sifat di dunia maya ternyata juga bisa berlanjut di dunia nyata. Dia merasa ketinggalan bila ada orang lain sudah berbuat sesuatu atau melakukan sesuatu, maka dia akan meniru dan melakukan hal yang sama. Begitu juga bila ada orang lain memakai sesuatu yang baru, kembali dia merasa khawatir takut ketinggalan. Dan dia dengan berbagai cara akan membeli hal yang sama walaupun sebenarnya itu tidak perlu atau dia tidak sanggup membelinya.
Dia selalu memanfaatkan setiap momen dalam setiap gerak hidup untuk mengabadikan dan di-upload di media sosialnya. Ditambah lagi dia dan kelompoknya selalu mendisain kegiatan sehingga bisa diabadikan ke dalam photo. Kecemasan dan ketakutan ini membuat dia dan kelompoknya selalu punya ide untuk menunjukkan eksistensinya dan dunia maya tempat ‘pamer’ nya.
Ada ada saja rekayasa kegiatan yang dilakukan: mengujungi tempat tempat wisata dimanapun walaupun ‘disudut dunia’, sengaja mencari tempat makan yang ‘aneh aneh’, merental mobil wisata ‘terbuka’, mencoba makan semua jenis makanan yang ada dikota, sengaja mengadakan kegiatan agar kelompoknya bisa berkumpul, dll, dan tentunya di-share ke media sosial.
Orang yang termasuk FOMO ini sudah menyiapkan semua peralatan atau instrumen agar tetap tampil beda saat diphoto. Mereka sudah menyiapkan kaca mata khusus, khusus untuk ‘jalan jalan’, membeli sepatu dan topi khusus, dan tentu pakaian khusus. Mereka juga berphoto dengan berbagai gaya, yang tua tidak kalah dengan yang muda.
Orang yang terinfeksi FOMO mengharuskan dirinya berada dilokasi tertentu dan ikut mengalami kejadian yang ada disana sama seperti orang lain dan selalu mengikuti aktivitas tertentu kalau tidak dia akan merasa cemas dan takut akibat ketinggalan sesuatu yang baru, seperti informasi, peristiwa, ataupun pengalaman, berita, tren, dan hal lainnya. Dia takut kalau orang yang berada dilokasi bahagia dan bersenang senang. (Yankes.kemkes.go.id)
Orang FOMO cenderung merasa cemas dan merasa kehilangan sesuatu yang penting bila tidak terhubung atau tidak bersama dengan orang lain (tribun). Yang lebih parah, dia akan merasa tertekan bila tidak dapat menghadiri suatu kegiatan, atau tidak diundang dalam kegiatan tertentu, misalnya acara pesta perkawinan, acara arisan atau pengajian. Perasaan FOMO inilah memaksakan seseorang tetap datang dan hadir walaupun tidak diundang.
Dia selalu mencari perhatian, validasi dan pengakuan dari orang lain (jawapos), dia ‘kepingin’ selalu terlihat menonjol dan diakui oleh orang lain di dunia maya dan mendapatkan komentar yang enak didengar telinganya. Kadang kadang dalam selfie, dia biasanya menggunakan kamera ‘berfilter’ agar kelihatan lebih muda, lebih glowing, agar orang lain berkata: “Wow, cantiknya”. Dan inilah yang membuat dia senang dan bahagia.
Pengakuan dan pujian yang diterima di media sosial dianggap lebih penting daripada hubungan sosial dalam kehidupan nyata, dan jumlah "like" (Kompas) atau komentar positif dianggap sebagai sumber kebahagiaan dan kepuasan yang lebih besar. Ketergantungan pada media sosial juga dapat membuat individu mengabaikan kehidupan nyata mereka, lebih memilih terlibat dalam aktivitas online daripada berinteraksi langsung dengan orang lain (fkg unair).
Karena terus menerus mencari pengakuan dan selalu tergoda untuk mencari perhatian dari orang lain, maka dia selalu menciptakan momentum untuk bersefie dan men-share ke media social, dan dia sudah menciptakan budaya "over sharing" (EDTECH.ID), agar kelihatan bahagia di media sosial.
Sifat yang menonjol dari orang yang FOMO adalah kepo atau selalu ingin tahu kehidupan orang lain. Seringkali banyak dijumpai orang-orang yang mengakses sosial media hanya untuk mencari tahu kabar atau kehidupan orang lain. Selalu ingin tahu gossip-gosip terbaru (fbi.co.id). Kemudian, selalu mengatakan “ya”, walaupun sedang, sibuk atau saat sedang tidak ingin (kompasiana). Ini terjadi karena dia takut kelilangan momentum untuk berselfie dan kelihatan bahagia.
Ciri khas orang FOMO biasanya tidak tenang melihat kebahagiaan orang lain di media sosial (UGM). Merasa iri terhadap kebahagiaan yang terlihat dari unggahan seseorang di media sosial, sering merasa iri dan sedih saat melihat teman-temannya membagikan momen bahagia, seperti pergi jalan jalan, makan ditempat tertentu, atau membeli barang baru. Makanya dia terus-menerus memeriksa ponsel untuk melihat notifikasi atau update terbaru tentang ‘kebahagiaan’ orang. Semakin bahagia orang lain di media sosial, semakin tidak tenang hidupnya.
FOMO berefek negatif dalam kehidupan sehari hari baik didunia nyata maupun di dunia maya (tribun), oleh karena itu, batasi menggunakan media sosial secara berlebihan. Semakin sering kita berselancar di media sosial, semakin besar kemungkinan kita akan merasa cemas, sedih, takut dan kehilangan kebahagiaan. Media sosial inilah sumber terbesar dari perasaan FOMO ini. Gunakan media sosial seperti filosopi garam, secukupnya saja.
Kemudian, perbanyak bersyukur dan berpikiran positif dan nikmati hidup di dunia nyata. FOMO menyebabkan kita berpikir yang tidak-tidak atau cenderung ke arah negatif. Oleh karenanya belajar lah untuk terus bersyukur atas apa yang kita punya dan berpikir positif. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, oleh karenanya kita tidak mungkin bisa sama persis dengan mereka atau apa yang kita lihat di sosial media.
Harus disadari bahwa perasaan FOMO menyebabkan kehidupan kita jadi boros, menghambur hamburkan uang, semuanya mau dibeli barang yang sebenarnya tidak penting seperti yang ada di media sosial. Sengaja dibeli untuk mengikuti apa yang terlihat di media sosial dan tidak ingin ketinggalan zaman. Untung uangnya ada, kalau tidak, terpaksa berutang dengan orang lain dan menambah beban hidup.
Mari kita menerima diri kita sendiri. Hidup dengan apa adanya sesuai dengan kemampuan sendiri. Jangan memandang bahwa kehidupan yang bahagia dan sempurna seperti terlihat di media sosial. Wallahu a'lam bish-shawab!
(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)