Konflik di Laut China Selatan

Penulis: Redaksi - Ahad, 10 September 2023 , 12:01 WIB
Dosen UNTAG Banyuwangi Andhika Wahyudiono
Dok. Pribadi
Dosen UNTAG Banyuwangi Andhika Wahyudiono


Oleh: Andhika Wahyudiono

Situasi di Laut China Selatan kembali memanas ketika Filipina secara tegas mengutuk tindakan yang dianggap ilegal yang dilakukan oleh kapal-kapal Tiongkok. Ketegangan yang berkepanjangan di wilayah ini mencapai puncaknya ketika kapal-kapal Tiongkok diduga telah mencampuri misi pasokan ke pos militer terpencil di Laut China Selatan yang menjadi sumber perselisihan antara kedua negara. Peristiwa ini mengundang perhatian dunia internasional dan meningkatkan keprihatinan tentang stabilitas di wilayah tersebut.

Pernyataan keras ini datang dari Satuan Tugas Nasional untuk Laut Filipina Barat, sebuah badan pemerintah Filipina yang mencakup lembaga-lembaga kunci dalam pemerintahan. Mereka dengan tegas menyatakan bahwa tindakan kapal-kapal penjaga pantai dan "milisi" Tiongkok di perairan tersebut merupakan tindakan ilegal yang merusak stabilitas wilayah tersebut.

Peristiwa yang memicu kontroversi ini terjadi pada Jumat pagi ketika Penjaga Pantai Filipina melakukan pengawalan terhadap kapal-kapal pasokan yang menuju Second Thomas Shoal di Kepulauan Spratly. Wilayah inilah yang menjadi lokasi di mana sejumlah tentara Filipina ditempatkan di sebuah kapal angkatan laut yang telah rusak akibat berbagai tantangan di wilayah ini. Meskipun misi pasokan tersebut akhirnya berhasil, Satuan Tugas tersebut melaporkan bahwa kapal-kapal "Penjaga Pantai Tiongkok dan Milisi Maritim Tiongkok" melakukan tindakan yang dianggap sebagai pelecehan, manuver berbahaya, dan perilaku agresif terhadap kapal-kapal Filipina.

Persoalan ini semakin memanas ketika Tiongkok telah mengklaim hampir seluruh jalur perairan di Laut China Selatan. Wilayah ini memiliki nilai perdagangan yang mencapai triliunan dolar setiap tahunnya dan menjadi sangat penting dalam hubungan perdagangan global. Namun, klaim Tiongkok atas wilayah tersebut telah diabaikan oleh keputusan internasional yang menyatakan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Juru bicara Penjaga Pantai Tiongkok memberikan tanggapan yang tegas terhadap klaim Filipina dengan mengklaim bahwa kapal-kapal Filipina telah memasuki perairan di sekitar terumbu karang tanpa izin dari pemerintah Tiongkok. Mereka mengancam dengan peringatan keras dan mengklaim bahwa tindakan mereka adalah sesuai dengan hukum internasional yang berlaku.

Second Thomas Shoal, yang menjadi pusat peristiwa ini, terletak sekitar 200 kilometer dari pulau Palawan di bagian barat Filipina dan lebih dari 1.000 kilometer dari pulau Hainan, daratan utama Tiongkok yang terdekat. Misi pasokan ini diadakan hanya sehari setelah Presiden Filipina, Ferdinand Marcos, secara terbuka mengungkapkan keprihatinannya terhadap penggunaan "kapal penjaga pantai dan milisi maritim" oleh Tiongkok di Laut China Selatan.

Marcos menyampaikan keprihatinan ini dalam Kontes Tingkat Tinggi Asia Timur yang dihadiri oleh 18 negara di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, dia secara tegas menyatakan keprihatannya terhadap pemasangan fasilitas militer di wilayah yang direklamasi seperti pulau-pulau kecil dan terumbu karang serta pelanggaran hukum internasional yang terus berlangsung.

Pertikaian di Laut China Selatan semakin rumit dengan mengerahkannya ratusan kapal oleh Tiongkok untuk melakukan patroli di wilayah tersebut dan mengelilingi terumbu karang yang menjadi sumber perselisihan. Kapal-kapal penjaga pantai dan angkatan laut Tiongkok secara rutin melakukan tindakan penghalangan atau intimidasi terhadap kapal-kapal Filipina yang beroperasi di wilayah yang menjadi sumber konflik ini. Filipina, yang merupakan sekutu lama Amerika Serikat, memiliki posisi yang sangat penting di sembilan terumbu karang dan pulau di Kepulauan Spratly, termasuk Second Thomas Shoal.

Filipina bahkan pernah mendaratkan BRP Sierra Madre, sebuah kapal era Perang Dunia II, di perairan dangkal Second Thomas Shoal pada tahun 1999. Tindakan ini dimaksudkan untuk menghambat kemajuan Tiongkok di wilayah tersebut. Saat ini, pasukan yang ditempatkan di kapal berkarat ini bergantung pada pengiriman reguler untuk kelangsungan hidup mereka.

Riwayat konflik panjang antara Filipina dan Tiongkok di Laut China Selatan telah menciptakan situasi yang penuh ketegangan, sering kali meningkat menjadi bentrokan fisik. Sebagai contoh, hanya beberapa bulan yang lalu, situasi semakin memanas ketika kapal-kapal Penjaga Pantai Tiongkok mengambil tindakan drastis dengan menggunakan meriam air terhadap kapal-kapal pasokan Filipina. Tindakan ini menghambat salah satu kapal Filipina dalam upaya pengiriman muatannya ke wilayah yang menjadi sumber konflik.

Peristiwa-peristiwa seperti ini adalah bukti konkret bahwa ketegangan yang meruncing di Laut China Selatan masih belum menemukan penyelesaian yang memuaskan. Terlebih lagi, konflik ini terus menjadi sorotan utama dalam geopolitik regional dan global. Isu ini melibatkan tidak hanya kedua negara terlibat, yaitu Filipina dan Tiongkok, tetapi juga menarik perhatian komunitas internasional yang semakin prihatin tentang stabilitas wilayah tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas internasional telah mendesak untuk menyelesaikan sengketa Laut China Selatan melalui dialog dan perundingan yang damai. Namun, tantangan yang kompleks dan klaim atas wilayah yang saling tumpang tindih membuat penyelesaian menjadi sulit. Akibatnya, ketegangan terus tumbuh, dan insiden-insiden seperti penggunaan meriam air oleh kapal Penjaga Pantai Tiongkok terjadi secara teratur.

Dalam konteks geopolitik global, Laut China Selatan menjadi sorotan karena wilayah ini memiliki nilai strategis yang besar. Ini adalah jalur perdagangan utama yang menghubungkan berbagai negara, dan ketegangan di wilayah ini dapat berdampak pada stabilitas ekonomi dan politik di seluruh dunia. Oleh karena itu, penyelesaian yang adil dan damai terus menjadi tujuan yang sangat diharapkan oleh masyarakat internasional.

Sementara situasi di Laut China Selatan tetap rumit dan penuh ketidakpastian, penting untuk terus memantau perkembangan selanjutnya dan berharap agar kedua belah pihak dapat menemukan jalan keluar yang menghormati hukum internasional dan mempromosikan perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut.

(Penulis merupakan Dosen UNTAG Banyuwangi)

Tag:


PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID