Madrasah Kehidupan: Guru dan Jam Dinding

Penulis: Redaksi - Jumat, 07 Juli 2023 , 11:12 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Oleh: Amri Ikhsan

Setelah beberapa semester, guru tidak dibolehkan ‘menikmati’ libur akademik selayaknya siswa, maka mulai semester genap tahun pelajaran 2022/2023, guru boleh senyum sumbringah karena libur yang ditunggu bisa dinikmati. Kenapa namanya ‘libur akademik’? Diyakini, istilah ini merujuk pada suatu masa dimana tidak ada pembelajaran tatap muka, guru belum melaksanakan proses pembelajaran.
Menggunakan waktu secara ‘akademik’ sangat menentukan dalam menjalankan tugas dan fungsi tenaga pendidik. Persepsi guru tentang waktu sangat berdampak pada bagaimana guru menggunakan libur secara akademik.

“Waktu terasa lambat bagi yang sedang menunggu, terasa cepat bagi yang merasa takut, terasa sangat lama bagi yang sedang sedih dan terasa sangat pendek bagi yang merasa senang, tapi bagi mereka yang mencintai, waktu itu abadi”, begitu kata William Shakespeare. (enero.co.id)

Waktu adalah sesuatu yang vital bagi kehidupan manusia. Setiap dari kita memiliki waktu 24 jam setiap harinya, namun kita juga memiliki durasi waktu hidup yang berbeda-beda tergantung bagimana kita menyikapi waktu itu.
Pertama, terkurasnya ‘energi, pikiran dan biaya’ hanya ‘mengurus’ yang bukan substansi tugas guru dalam pembelajaran. Sebagian guru ‘begitu peduli’ dengan presensi, sehingga tema ini selalu menjadi subjek pembinaan guru disetiap kegiatan. Padahal inti dari pendidikan adalah proses pembelajaran. Seharusnya ‘proses pembelajaran’ lah yang harus menjadi perhatian guru.

Tidak ada jaminan seorang guru yang begitu rajin masuk di saat hari masih gelap dan pulang di ‘penghujung hari’. Belum bisa dklaim bahwa waktu itu digunakan untuk merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran ‘yang sebenarnya’. Dan tidak bisa diklaim bahwa ada guru yang terlambat masuk atau pulang sedikit lebih cepat tidak melaksanakan tugas dan fungsi guru.

Kalau ukuran kinerja guru itu melaksanakan ‘tupoksi’: merencanakan pembelajaran, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran dan mengikuti PKB, maka catatan kehadiran masuk dan pulang guru tidak terkait secara langsung dengan ‘kinerja’ seutuhnya. Tidak seharusnya, tunjangan kinerja itu dihitung berdasarkan data ‘kehadiran’ atau data terlambat atau pulang cepat. Ini mendegradasi tupoksi guru.

Kedua, harus diakui, panjang pendeknya sebuah waktu kadang bukan basis utama seseorang untuk berhasil dalam tugasnya. Melainkan seberapa bijak dan cerdas kita menggunakan waktu yang tersedia. Waktu selalu mengajarkan kita bagaimana menikmati hidup.

Waktu itu memiliki sifat relativitas (gramedia). Secara objektif, kuantitas waktu itu sama, satu jam sama dengan 60 menit, satu menit sama dengan 60 detik. Namun secara subjektif, kualitasnya bisa saja berbeda beda atau terasa berbeda dalam pikiran kita. Satu menit kita menunggu akan terasa begitu lama, namun satu jam bersama keluarga akan terasa begitu singkat.

Begitu pun dalam pembelajaran ini, saat guru bekerja berlandaskan apa yang disukai dan cintai, semua pembelajaran akan terasa singkat atau terasa sebentar. Sebaliknya saat kita tidak menikmati pembelajaran, waktu akan lama dan menyiksa dan membosankan.

Bagi guru memang harus belajar dari jam dinding, terus bekerja, walaupun tak terlihat, namun senantiasa membelajarkan peserta didik. Diperhatikan atau tidak, ia tetap berputar. Dihargai atau tidak, ia tetap bersama siswanya untuk mendidik. Walaupun tak seorangpun mengapresiasi, ia tetap merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajarana. Setiap saat guru selalu memberikan yang terbaik buat siswanya.

Karena jam dinding tidak pernah mengeluh, selalu memberikan petunjuk waktu tanpa henti. Meskipun berhenti, itupun waktu baterainya habis, ketika diganti baterai baru, maka jam itu akan kembali bekerja, tanpa peduli apapun penilaian orang.

Dalam pembelajaran di sekolah atau madrasah harus bisa seperti jam dinding itu, meskipun hari demi hari berada di ruang kelas, guru harus tetap mendidik, mengajar, membimbing. Guru harus tetap terus semangat berbuat baik untuk siswanya, meskipun suatu saat kita belum berhasil, maka berhenti untuk bermuhasabah, kemudian terus bergerak, memberi inspirasi kepada siswanya.

Jam dinding juga tidak pernah merasa kecewa walaupun dia dipandang atau tidak ia tetap berdetak, Dipandang atau tidak ia tetap berputar, Dihargai atau tidak ia tetap 'bekerja', tak peduli siang atau malam, gelap atau terang. Dia menyadari suatu saat akan ada yang membutuhkan dirinya, akan ada yang menghargainya.

Jarum jam tiap detik selalu bergerak. Tiap menit selalu berputar. Tiap jam terus berpindah dan tiap hari terus berputar. Mau dihargai atau tidak, mau diperhatikan atau tidak, mau dikasih seyum atau tidak. Guru tetap saja bergerak mendidik anak bangsa.
Detik demi detik. Menit demi menit. Hari demi hari terus berdetak sampai tiba masanya, dia berhenti ketika baterainya harus diganti. Jam memberi kita pelajaran penting. Jam dengan ikhlas terus berdetak. Diminta atau tidak, dia selalu mengabarkan waktu kepada kita.

Andai saja ia ‘mogok’ bekerja, maka kacaulah dunia ini. Dunia akan berjalan tak karuan. Jam masuk kerja dan pulang jadi tak jelas. Kita tidak tahu kapan waktu shalat, kapan dimulai bulan Ramadhan. Kita mengetahui kapan hari raya idul fitri dan idul adha. Keberangkatan pesawat terbang tak pasti waktunya. Tidak ada lagi pergantian tahun baru baik tahun hijriyah dan masehi.

Bagi guru, berdetaklah terus, mengabdilah terus. Bekerjalah terus untuk mendidik kehidupan agar melahir putra putri bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia, seperti tak henti-hentinya jam berdetak, dan bergerak untuk mengingatkan kebaikan kepada siswa, seperti habisnya kehidupan dalam diri manusia.

Dilihat orang atau tidak, ia tetap berdenting. Dihargai orang atau tidak, ia tetap berada di ruang kelas bersama siswa. Walau tak seorangpun mengucapkan terima kasih, dia tetap bekerja. Jangan sia-siakan pekerjaan mulia ini. Dan teruslah mendidik, membimbing peserta didik walaupun tidak dinilai dan diperhatikan oleh orang lain.

Bagi stakeholder, jangan mengukur kerja dan hasilnya dengan variabel waktu. Itu keliru. Ada orang yang bekerja dalam waktu singkat, mendapatkan hasil yang berlipat-lipat. Ada yang bekerja sepanjang hayat, tetapi hasilnya hanya sekedar untuk bertahan dan tidak sekarat. Pastikan bekerja dengan benar dan efisien. Lakukan dengan sabar dan lengkapi dengan shalat. Hasilnya pasti akan bermanfaat untuk bukan saja kehidupan dunia, tetapi juga akhirat (Dr. Mohammad Nasih).

Bijaklah menggunakan waktu, bekerjalah dan mendidiklah walaupun tidak dilihat, diperhatikan, diapresiasi. Jadi kesemua itu sebagai ibadah, karena memang manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya, Wallahu a'lam bish-shawab!

(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)

Tag:


PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID