Madrasah Kehidupan: Qodarullah

Penulis: Redaksi - Ahad, 11 Juni 2023 , 21:04 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Oleh: Amri Ikhsan

Bagaimanapun, sekeras, sekuat apapun kita menolak, yang datang, tetaplah datang, sekuat apapun kita tahan, yang pergi, tetaplah pergi. Itu fenomena madrasah kehidupan yang harus diambil hikmahnya. Tempat dimana kita belajar banyak hal tentang kehidupan, termasuk urusan takdir atau qadar.

Madrasah ini memandu kita untuk memetik pelajaran apapun yang terjadi pada diri kita. Tempat ini juga panggung bagi kita untuk sederhana dalam menyikapi takdir. Jika Allah belum menghendaki maka yang kita inginkan tidak akan kita dapatkan, begitu juga sebaliknya.

Sesuatu itu, ditarik dengan rantai baja yang besar dan kuat tidak akan datang pada kita, karena memang itu bukan takdir kita, tapi dengan benang yang sangat tipis sesuatu itu bisa menghampiri kita, itu karena takdir kita.

Qodarullah atau takdir Allah merupakan kehendak Allah yang terjadi pada diri kita. Manusia tidak dapat luput dari takdir, yang baik maupun buruk (Shihab). Apapun takdir terjadi pada diri kita, baik atau buruk harus diterima dengan lapang dada.

Kedua-duanya harus disyukuri. Benar, kita tidak punya kekuatan untuk mengubah takdir kita, namun kita bisa belajar menyesuaikan dengan takdir yang sudah terjadi.

Apapun yang terjadi pada diri kita, itu telah tertulis di Lauhul Mahfudz, dengan siapa kita berkawan, siapa pasangan hidup kita, dan kapan kematian kita akan tiba. Begitu juga rizki, ajal, amal, sakit, sehat dan sengsara atau berbahagia. Jadi tidak perlu risau dengan kesemua itu. Memang, kita hanya bisa berencana. Tapi allah lah sebaik baiknya perencana. Serahkanlah semua urusan kita sama Allah, bila kita sudah berusaha.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua yang datang dan pergi itu atas itu kehendak Allah, yang baik mengajarkan kita untuk terus bersyukur, yang belum baik mengajarkan kita untuk bersabar. Bahagia itu bukan ketika semua keinginan kita terwujud akan tetapi bahagia itu adalah ketika kita mampu ridho atas semua takdir yang Allah tetapkan, karena tidak ada satupun yang terjadi di atas muka bumi kecuali atas kehendak Allah SWT.

Kita wajib menyadari bahwa kita adalah makhluk yang lemah tidak berdaya, hanya Allah itulah Yang Maha Perkasa dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dia berkuasa menetapkan sesuatu. Tugas kita adalah hanyalah menyakini bahwa segala sesuatu itu telah ditentukan oleh Allah Swt.
Qadarullah merupakan ketetapan dari Allah SWT, sehingga tidak perlu lagi dipertanyakan atau disesali atas apa yang terjadi. Akui saja apapun yang terjadi memang merupakan kehendak Allah SWT.

Tapi takdir tidak menghalangi kita untuk terus berusaha semaksimal mungkin, sekiranya tidak sesuai harapan, maka kita tidak boleh melampiaskan semua kesalahan kepada Allah SWT (Shihab, 2016)
Kalau sudah terjadi, kita wajib memiliki rasa optimistis dan menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya merupakan kehendak takdir Allah dan tugas kita memunculkan rasa syukur dan tetap melanjutkan tugas kita sebagai hambaNya.

Takdir merupakan pengetahuan Allah swt secara sempurna tentang masa lampau dan masa yang akan datang, akan tetapi kita masih belum memahami kebenaran takdir. Allah swt menguasai seluruh waktu dan ruang, segala sesuatu telah ditentukan dan ditakdirkan oleh Allah swt. (Shihab, 2016)

Dalam hidup, terkadang kita sering mengharapkan sesuatu yang berlebihan dan sulit menerima ‘kenyataan’ yang berlawanan dengan harapan kita. Sehingga tidak jarang kita merasa ketidakpercayaan, dan ketidakpuasan dan sering berandai-andai. Misal, seandaiya begini, seandainya begitu, itu pasti tidak akan terjadi, dan semacamnya.

Hikmah dari kesadaran akan adanya qodarullah: 1) mampu menghilangkan perasaan putus asa dalam diri seseorang; 2) tidak akan membuat seseorang untuk bersikap sombong dan lupa diri saat meraih kesuksesan dan kegembiraan; 3) selalu merasa dekat dengan Allah sehingga menimbulkan kedamaian dan ketenangan hati; 4) selalu berprasangka baik (husnuzan) terhadap segala takdir dan keputusan yang Allah tetapkan; 5) sebagai pengingat bahwa kita adalah hamba-Nya yang lemah dan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. (liputan6)

Sebagai makhluk yang lemah, kadang-kadang sangat sulit menerima takdir yang menimpa diri kita, apalagi jika itu berupa sesuatu yang bukan harapan kita. Pada saat itulah, seringnya kita tidak sadari. Allah Yang Maha Kuasa lebih tahu apa yang terbaik buat hambaNya. Kita harus sadar, Allah SWT akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Laa yukalifullahu nafsan illa wus’aha.

Boleh jadi, takdir yang menimpa diri kita adalah ‘petunjuk’ bahwa kita pernah berbuat dosa. Dosa-dosa kecil yang kita abaikan dan kita semai dan tumbuh subur. Takdir itulah pintu masuk bagi kita untuk bertaubat dan memohon ampun.

Bisa jadi, takdir yang menimpa diri kita merupakan jalan untuk meninggikan derajat kita. Allah akan senantiasa menguji kita dan untuk mengidentifikasi kesabaran hambaNya. Ujian diberikan untuk menyeleksi hamba-Nya yang terbaik untuk mendapatkan redho-Nya. Memang perlu daya tahan yang kuat dan persiapan yang matang untuk dapat menyelesaikan segala bentuk ujian.

Bisa jadi, takdir yang menimpa kita merupakan kesempatan terbaik untuk berbuat baik kepada orang tua, anak, keluarga, teman. Mungkin ini peluang kita untuk fokus pada pekerjaan, yang bisa jadi selama ini terabaikan. Takdir itu membuatmu begitu sibuk dan kesulitan, agar lelah dan tak sempat untuk berbuat kemaksiatan.

Bisa jadi, takdir hanya membuat kita sakit, tapi hanya orang yang sakit bisa merasakan nikmatnya sehat. Takdir membuat kita lapar, tapi orang lapar yang tahu rasa nikmatnya kenyang. Takdir bisa jadi membuatmu menderita, tapi orang menderitalah yang benar benar tahu nikmatnya bahagia.

Dengan takdir, Allah tidak menjanjikan hidup mudah, tapi Alllah menjanjikan disetiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ini madrasahku, inilah tempatku belajar, memahami apa yang sudah Engkau ‘tulis’ dengan rapi.

Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir, “Cukuplah Allah sebagai tempat diri bagi kami, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami”

(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID