Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP Oleh: Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP
Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) selalu menjadi momen penting untuk merayakan perjuangan bangsa dalam mencapai kemerdekaan dan membangun fondasi negara. Namun, saat kita merayakan kemerdekaan, tidak hanya penting untuk melihat masa lalu, tetapi juga untuk merefleksikan peran partai politik dalam masyarakat demokratis kita saat ini.
Dalam konteks masyarakat demokratis, partai politik memiliki peran krusial dalam menjaga dan memperkuat nilai-nilai demokrasi yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun. Mereka seharusnya menjadi wadah bagi perwujudan aspirasi rakyat, menghubungkan antara pemerintahan dan masyarakat, serta menjadi penjaga prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keadilan.
Bung Karno, dalam sebuah bukunya pernah menulis, "Partailah yang memegang obor, partailah yang berjalan di muka, partailah yang menyuluhi jalan yang gelap dan penuh dengan ranjau-ranjau sehingga menjadi jalan terang." Bagi Bung Karno, di alam demokrasi, partai politik ibarat lentera di tengah kegelapan malam. Tak bakal tentu arah demokrasi tanpa kehadiran partai politik. Namun sayang, di Indonesia, idealitas partai politik yang dibayangkan Bung Karno, bahkan hingga kini, belum sepenuhnya terwujud. Alih-alih menjadi penyuluh, partai politik justru kerap kehilangan arah bagi dirinya sendiri.
Idealnya, partai politik seharusnya menjadi representasi keinginan dan aspirasi masyarakat. Mereka harus berfungsi sebagai alat untuk menghubungkan dan mewujudkan harapan rakyat, serta menjadi pengemban nilai-nilai demokrasi. Namun, realitanya seringkali berbeda. Banyak partai politik yang lebih fokus pada kepentingan internal, persaingan kekuasaan, dan jauh dari perjuangan memajukan kesejahteraan masyarakat.
Pada banyak kesempatan, kita melihat bagaimana partai politik sering terperangkap dalam permainan politik yang kurang memihak kepada kepentingan publik. Ambisi untuk memenangkan pemilihan umum (Pemilu), mendapatkan posisi, dan mempertahankan kekuasaan kadang-kadang mengalahkan komitmen pada tugas sejati mereka. Pemilu akan menyempurnakan demokrasi. Namun demokrasi dan pemilu hanyalah alat untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Maka janganlah alat ini memecah belah bangsa, menimbulkan saling dengki, saling benci, karena nafsu dia mau kursi semata (Bung Karno).
Dalam menyongsong Pemilu Serentak 2024, pesta demokrasi akbar bagi rakyat Indonesia akan dilangsungkan pada 14 Februari 2024 melalui Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak. Hari pemungutan suara itu dihelat bersamaan dengan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) serta Pemilu Legislatif (Pileg) untuk memilih anggota DPR RI, anggota DPRD provinsi, anggota DPRD kabupaten/kota, dan anggota DPD RI. Sementara, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk memilih gubernur, bupati, dan wali kota diselenggarakan serentak di seluruh daerah pada 27 November 2024. Memahami esensi demokrasi sebagai sarana untuk mencapai keadilan dan kemakmuran adalah langkah awal yang penting. Kita perlu mengambil pelajaran dari masa lalu dan merujuk pada nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendiri bangsa.
Ungkapan bijak dari Bung Karno ini menyoroti pentingnya pemahaman yang mendalam terhadap tujuan sejati demokrasi dan pemilihan umum. Pemilu, sebagai salah satu pilar utama demokrasi, seharusnya menjadi sarana untuk mengukuhkan prinsip-prinsip keadilan dan kemakmuran dalam masyarakat. Namun, risiko terjadinya perpecahan dan ketidakharmonisan dalam masyarakat juga harus diwaspadai. Dalam konteks pemilu, munculnya persaingan yang sehat antara berbagai kelompok dan partai politik adalah wajar. Namun, perlu diingat bahwa tujuan akhir dari demokrasi dan pemilihan umum adalah kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Ketika kompetisi politik beralih menjadi pertarungan tanpa batas, di mana pemenuhan ambisi pribadi mengalahkan kepentingan kolektif, dampak negatif pun mungkin muncul.
Polarisasi politik, pragmatisme, dan intervensi dari kepentingan eksternal kadang-kadang merusak visi dan tujuan asli partai politik. Sikap yang tidak konsisten dengan prinsip-prinsip demokrasi, seperti korupsi, nepotisme, dan ketidaktransparanan, mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap partai-partai politik. Sebagai hasilnya, banyak warga yang merasa bahwa partai politik telah menjauh dari esensi perjuangan untuk kepentingan masyarakat. Namun, perlu diingat bahwa sementara ada kesenjangan antara idealitas dan realitas, tetapi ada sejumlah partai politik yang berupaya untuk menjalankan peran mereka dengan baik.
Beberapa partai politik berusaha untuk mendorong reformasi internal, meningkatkan akuntabilitas, dan mengartikulasikan aspirasi masyarakat secara lebih baik. Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan upaya kolaboratif antara partai politik, pemimpin masyarakat, dan seluruh warga negara. Masyarakat memiliki peran penting dalam memilih dan mengawasi partai politik serta pemimpin yang akan mewakili mereka. Dengan demikian, idealitas yang pernah diungkapkan oleh Bung Karno dapat diwujudkan, di mana partai politik benar-benar menjadi obor yang menerangi jalan demokrasi, membantu masyarakat mengatasi ranjau-ranjau, dan mencapai jalan terang yang diharapkan.
Ketika kita melangkah menuju masa depan dengan mengintegrasikan semangat patriotisme dan kesadaran akan tanggung jawab terhadap masyarakat, partai politik bisa menjadi kekuatan positif dalam masyarakat demokratis. Penting bagi semua pemangku kepentingan, baik pemimpin politik maupun rakyat, untuk menjaga etika dan integritas selama proses pemilihan umum. Sikap saling menghormati, mendengarkan pandangan yang berbeda, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan merupakan fondasi yang penting dalam menjaga stabilitas negara. Oleh karena itu, penting untuk mengingat bahwa demokrasi adalah lebih dari sekadar pemilu. Demokrasi adalah landasan untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur, di mana setiap warga negara memiliki kesempatan yang setara untuk berkontribusi dan meraih kebahagiaan.
Pemilu adalah sarana untuk mencapai tujuan ini, tetapi harus dilakukan dengan tanggung jawab dan kesadaran atas dampaknya terhadap persatuan dan harmoni bangsa. Dengan demikian, kata-kata bijak dari Bung Karno harus terus menginspirasi kita semua untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, memelihara persatuan, dan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur melalui proses pemilu yang bermartabat dan mengingatkan kita tentang risiko perpecahan dan permusuhan yang bisa ditimbulkan oleh ambisi yang terlalu berlebihan harus tetap menjadi panduan dalam setiap langkah menuju pemilu.
Dalam perjalanan menuju HUT yang ke-78 tahun RI, menjadi relevan untuk mengenang pesan pendiri bangsa kita dan mempertanyakan sejauh mana partai politik telah menerjemahkan semangat kemerdekaan menjadi aksi nyata.
Momentum HUT yang ke-78 RI harus dijadikan peluang untuk berintrospeksi. Apakah partai politik kita telah berhasil menjadi penghubung yang kuat antara masyarakat dan pemerintahan? Apakah mereka telah berjuang untuk mencapai kesejahteraan bersama dan menghindari dinamika yang merugikan demokrasi? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk membantu mengukur apakah partai politik telah mewujudkan harapan dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para pahlawan kita.
Esensi peran partai politik yang sejati seharusnya menjadi pilar yang kokoh dalam membangun masyarakat demokratis yang bermartabat, adil, dan inklusif. Janganlah partai politik menjadi alat bagi segelintir individu untuk menggapai kepentingan pribadi, tetapi hendaklah menjadi alat untuk mewujudkan cita-cita dan harapan bersama. Dengan demikian, perayaan HUT RI bukan hanya menjadi ajang untuk mengenang sejarah, tetapi juga untuk kemajuan dan komitmen kita dalam membangun negara yang lebih baik melalui peran partai politik yang kuat dan bertanggung jawab. Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia. Terus Melaju untuk Indonesia Maju
(Penulis merupakan Tenaga Ahli Gubernur Bidang Tata Kelola Pemerintahan)