JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Ditengah pesatnya perkembangan teknologi informasi di seluruh dunia, telah merubah gaya hidup, kebutuhan hidup, perilaku hidup bahkan kebiasaan dan kepentingan hidup setiap orang.
Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu plus seorang anak, maka akan lahir tiga gaya dan perilaku hidup yang berlainan, boleh saja duduk semeja, tapi dengan android di tangan mereka, maka tampil tiga gaya yang berlainan, boleh jadi sang ayah cemberut dengan androidnya, bisa saja si ibu senyum-senyum sendiri dengan gadgetnya dan si anak terbahak-terbahak dengan permainan gamenya.
Aneh bukan, semeja tanpa saling sapa, tanpa komunikasi hilangnya nilai-nilai silaturrahim antar sebuah keluarga. Ini yang dikenal zaman now dengan "Phubbing", yang bermakna kesibukan individu dengan gadgetnya di tengah komunitas, tanpa peduli orang lain.
Realitas ini disebabkan, tiap saat orang dapat dengan mudah akses ke seluruh penjuru dunia, karena difasilitasi oleh gadget yang didukung oleh teknologi yang sangat canggih.
Ini yang dikenal dengan teknokogi industri generasi keempat, yang ditandai selain oleh teknologi infornasi juga hadirnya era distrupsi, satu era yang membikin orang maju dan modern tapi makin kebingungan dan tidak menentu, disebabkan informasi yang setiap saat dapat dikemas dalam beragam gaya dan kepentingan, ada yang positif yang mencerahkan dan tidak sedikit yang negatif yang memecah belah. Kemasan pesan negatif dikenal dengan kejahatan dibidang teknologi informasi (cyber crime).
Hadirnya teknologi informasi yang sangat memudahkan kehidupan manusia ini, selain telah merubah gaya hidup juga merubah atau menambah profesi orang. Seorang yang awam agama tiba-tiba jadi ustd, seorang guru tiba-tiba jadi pengamat politik, seorang politisi tiba-tiba jadi ulama, seorang yang berprofesi ekonomi tiba-tiba berubah jadi pakar hukum.
Ini terjadi karena orang dengan sangat mudah mengakses informasi atau melakukan forwade pesan yang tidak jelas asal usulnya, maka jadilah pesan berantai yang abal-abal, entah dari mana sumbernya, tanpa cek, rechek, dan crosschek atau tanpa tabayyun dalam Islam.
Padahal pesan-pesan yang bergulir dilihat dari subtansi dan sumber hampir 95% syarat dengan kepentingan, kebohongan dan tidak sedikit berisi fitnah, inilah yang dikenal dengan "pesan hoax".
Pesan hoax dilihat dari sudut isi, setidaknya mengandung empat virus GIFA "Gosif, Intrik, Fitnah, dan Adu domba". Inilah yang berseliweran mewarnai hampir di semua sistem android yang ada di tangan kita.
Dalam Islam sangat dilarang menyebar informasi atau pesan hoax, alalagi yang mengarah pada fitnah. Karena fitnah itu sangat mudah disebarkan manusia, tapi tidak bisa dipulihkan oleh manusia. Walaupun pesan hoax itu kelihatan kecil, namun tindakan hoax dianggap besar di sisi Allah, dan sangat dibenci.
Dalam sejarah rasulullah, Umi Aisyah RA. Pernah difitnah oleh orang fasik dan munafik, melakukan perzinahan, padahal itu fitnah. Tapi tidak ada satupun orang yang bisa memberi pembelaan atas fitnah yang keji itu. Sehingga Allah harus menurunkan wahyu kepada rasulullah membersihkan nama dan diri Umi Aisyah RA. Begitu kejinya fitnah, dapat menjatuhkan dan bahkan mengubur orang hidup-hidup tanpa ada pembelaan diri secara adil.
Maka itu ajaran Islam berpesan harus sangat hati-hati menyikapi pesan atau berita yang muncul. QS. Al-Hujurat ayat 6:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar tidak menimpakan musibah bagi orang lain. Mereka yang penyebar berita hoax dalam Islam dikenal sebagai orang "fasik" yakni mereka yang dikecam sebagai kufur dan munafik, ingkar dari perintah Allah dan RasulNya. Maka mereka juga dikecam sebagai sekutunya iblis, yang nyata-nyata ingkar Allah dan Rasul. Waspada hoax. Salam Ramadhan.