Opini Amri Ikhsan: Bekerja dengan 5 AS

Penulis: Amri Ikhsan - Senin, 09 Mei 2022 , 09:57 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Harus diakui, merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga merupakan momen yang ditunggu tunggu, apalagi momen ini didahului dengan mudik lebaran, pulang kampung sambil liburan. Sangat terasa liburan ini berlangsung dengan singkat dan cepat. Apalagi pekerja yang harus kembali menjalankan aktivitasnya.

Sudah menjdi hukum alam’, terlalu lama liburan di kampung menimbulkan ‘masalah baru’, membuat kita menjadi ‘malas’ kembali ke tempat kerja. Terlalu lama berlibur, terlalu menikmati suasana kampung membuat lupa tugas dan pekerjaan yang selama ini dikerjakan di tempat bekerja. Libur panjang Idul Fitri salah satu contohnya.

Kembali bekerja setelah libur lebaran bukan hal yang ringan dilakukan, di mana kita harus beradaptasi dengan suasana baru. Banyak orang yang mengalami ‘demotivasi setelah melewati masa liburan yang panjang. Biasanya, kita masih terbawa dengan suasana ‘santai’ selama liburan.

Kerinduan untuk ‘pulang kampung’ untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri yang dipicu meredanya kasus virus Covid-19 yang hampir lebih dari dua tahun ‘menyerang’ sehingga larangan mudik dalam bentuk PPKM tidak lagi diberlakukan. Maka, mengawali mulai bekerja pasca libur lebaran, ada baiknya kita ‘ingat ingat’ 5 (lima) macam kualitas kerja: kerja keras, kerja cerdas, kerja mawas, kerja ikhlas dan kerja tuntas.

Pertama, kerja keras, kerja yang lebih banyak menggunakan sebuah tenaga (Kemenkeu), yakni pekerjaan yang dilakukan dengan tenaga atau otot dan butuh stamina yang keras dan kuat.
Kerja keras menunjukkan bekerja haruslah kerja dengan sungguh-sungguh dengan harapan hasil kerja kita ini membuahkan hasil. Namun, kerja keras masihlah belum cukup. Sering ditemukan tidak sedikit orang yang sudah kerja keras membanting tulang dengan bercucuran keringat, namun hasilnya tidak memuaskan orang tersebut.

Seorang buruh kasar dengan waktu kerja 8 jam per hari akan dihitung gaji sesuai dengan jumlah jam yang sudah dilakukan selama 8 jam tersebut. Jika merasa gajinya ‘tidak cukup’, maka aia juga harus kembali mengerahkan tenaga dan menambah jam kerja untuk mendapatkan gaji yang lebih. Itulah kalau hanya mengandalkan ‘kerja keras’.

Kedua, kerja keras belumlah cukup, kita mesti kerja cerdas. Kerja cerdas merupakan satu tingkat lebih tinggi daripada kerja keras. Kerja cerdas adalah bekerja dengan dengan menggunakan akal dan biasanya system bekerja ini didominasi oleh kaum intelektual dan cendikiawan atau ilmuan (Ateja).

Kerja cerdas tidak hanya mengandalkan fisik atau tenaga yang kuat melainkan adanya peran otak dalam berpikir untuk mengambil suatu tindakan atau aktivitas.

Pekerja dalam bekerja cerdas menggunakan konsep keilmuan, misalnya penggunaan teknologi tepat, berbasis penelitian, menggunakan konsep hitung menghitung (matematika), menggunakan rujukan berbahasa global, hebat bernegosiasi, berkomunikasi dan mengelola informasi.

Jadi, kerja keras harus diimbangi dengan kerja cerdas, memahami tahu bagaimana suatu pekerjaan membuahkan hasil yang maksimal dalam waktu yang relative efektif. Tapi, kerja cerdas memerlukan kerja keras. Jika suatu pekerjaan tidak dilaksanakan dengan semangat kerja keras, hasilnya biasanya tidak maksimal. Kerja cerdas ini hanya menghasilkan sesuatu secara maksimal bila dilakukan dengan kerja keras.

Ketiga, kerja ikhlas, sering terjadi sudah bekerja keras dan bekerja cerdas, tapi belum mendapatkan hasil, karena ternyata takdir Allah SWT berkata lain. Maka kita selain bekerja keras, bekerja cerdas, harus bekerja ikhlas.

Kerja ikhlas merupakan bekerja secara tulus dengan dilandaskan hati yang ikhlas setelah berusaha dengan sungguh-sungguh. Bekerja dengan ikhlas, yakni penuh kerelaan dan kesucian hati untuk mencari keridlaan Allah (haloedukasi), dengan mengkoneksikan pekerjaan dengan Tuhan Yang Kuasa, tidak keberhasilan tanpa izin-Nya.

Kerja ikhlas bisa dikata adalah kerja hati. Bisa jadi kita sudah kerja keras, kerja cerdas belum tentu mampu bekerja ikhlas, kerja yang diniatkan beribadah kepada Allah SWT, karena kita sering lupa untuk menyertakan nilai nilai religiusitas selama bekerja. Untuk itu, kita harus melatih dan membiasakan diri untuk bekerja ikhlas, supaya nilai kerja kita penuh dengan ibadah.

Kerja yang terbaik adalah kerja yang melibatkan Sang Pencipta yang telah memberikan kita kesempatan, kesehatan untuk bekerja. Ikhlaskan batasan kemampuan tubuh, pikiran dan jiwa (Newsmalang). Keikhlasan adalah perbuatan yang sifatnya kerelaan hati atau merelakan dengan tulus mengharapkan ridha ALLAH SWT (Kemenkeu) Seseorang yang kerja ikhlas akan menikmati ketenangan hati dan pikiran, terhindar dari energi negatif sehingga tidak mudah marah, tersinggung selalu bahagia atas pekerjaan yang dilakukan serta ikhlas tanpa mengharapkan imbalan dari orang lain.

Keempat, kerja mawas diri itu tidak tergesa-gesa dalam mengambil suatu tindakan, tidak mudah terpancing oleh suasana dalam menerima suatu kritikan maupun pujian. Kerja mawas adalah bekerja dengan tetap mengelola emosi dan stress sehingga tercipta suasana yang harmonis di tempat kerja (haloedukasi).

Pasti kita punya masalah pribadi di rumah dengan keluarganya, tidak boleh membawa masalah itu ke tempat kerja. Kalaupu ada masalah pribadi, kita mampu memilah milah permasalahan dan mampu mendisain masalah ‘pribadi’ untuk dijadikan motivasi untuk produktif bekerja, bukan sebaliknya.

Dengan bekerja secara mawas, seorang akan mampu menguasai emosi dan mengerti bagaimana menciptakan ruang kerja yang nyaman dan tenang (Ateja). Dia tidak akan mudah merasa cepat puas diri, merasa hebat, dll. Sebelum bertindak dipikirkan dengan matang keputusan apa yang akan diambil. Oleh karena itu sikap hati-hati perlu diterapkan agar tidak mudah terjebak pada kesia-siaan.

Kelima, kerja tuntas ini adalah bekerja maksimal, tidak setengah-setengah, harus totalitas mengerjakan sebuah tugas dengan sempurna dengan memuaskan semua pihak. Apabila kiat diminta mengerjakan sebuah pekerjaan, dianjurkan untuk menyegerakan apa yang telah ditugaskan kepadanya.Selalu menyegerakan tugas yang diberikan merupakan ciri yang nampak dari sosok pekerja tuntas. (Kompasiana.com)   

Bekerja dengan 5 (lima) AS harus dilengkapi dengan praktek bersikap dan berperilaku mencontoh Rasulullah yang bersifat siddiq, fathonah, amanah dan tabligh agar kita diberikan keselamatan dunia dan akhirat. Sifat siddiq adalah dapat dipercaya dan jujur. Sifat fathonah adalah harus pintar. Sifat amanah adalah melaksanakan tugas yang dibebankan dan tabligh adalah mampu melakukan komunikasi yang baik (UNPAD).

Insya Allah, kita diberi kemudahan dalam menyelesaikan semua pekerjaan kita, aamiin!

(Penulis adalah seorang pendidik di Madrasah)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID