Opini Amri Ikhsan: Berkomunikasi dan Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Penulis: Amri Ikhsan - Selasa, 26 April 2022 , 11:26 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Bisa dirasakan, umat Islam adalah satu-satunya umat yang paling beruntung di dunia sekarang ini karena kita memiliki wahyu Allah yang terpelihara dalam keadaan utuh dan dalam bentuknya yang asli, bebas dari kekotoran campur tangan manusia. Setiap kata-kata yang ada di dalamnya masih persis sama ketika ia diturunkan kepada Rasulullah SAW (Shumsudin Yabi, 2015).

Sebagai orang Muslim yang selalu membaca Al-Qur’an, sudah waktunya kita jadi sebagai petunjuk untuk mendapatkan kebahagiaan, kemenangan dan solusi terhadap permasalahan kehidupan. Kalau memang selama ini kita belum mendapatkan hal tersebut, alangkah bijak bila kita ‘revisi’ cara kita berkomunikasi dengan Al-Qur’an.

Menurut Imam Ghazali (1999), berkomunikasi dan berinteraksi dengan Al-qur’an perlu melibatkan lisan, akal, dan hati. Tugas lisan adalah membaca huruf per huruf secara tepat. Tugas akal adalah memahami makna dan kandungan. Manakala, tugas hati adalah mengambil pelajaran dan nasihat untuk kemudian dipatuhi dan ditaati.

Sebagai motivasi, bila membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan banyak sekali pahala yang akan diterima. Satu huruf saja dihitung pahala. Tentu banyak kaum muslimin yang mampu membacanya sehari satu atau lebih juz, luar biasa pahala yang akan diterima. “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad).

Bukan saja sekedar pahala. Bagi mereka yang sering membaca Al-Qru’an akan Allah lindungi dari kesesatan. “Abdullah bin Abbas RA berkata: “Allah telah menjamin bagi siapa yang mengikuti Al Quran, tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat”. “Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123).

Al-Qur’an adalah kitab yang penuh berkah. Inilah yang harus kita didapatkan selama bulan Ramadan. Mendapatkan keberkahan dengan mengubah diri kita dengan Al-Qur’an. Bagaimana kita berubah dengan Al-Qur’an? Salah satu cara dengan berkomunikasi, berdiskusi dan berinteraksi intensif dengan Al-Qur’an Memperbaiki kualitas interaksi dengan Al-Qur’an, tentu bukan sekadar membacanya saja, tetapi menjiwai secara total.

Pertama, menambah pemahaman terhadap Al-Qur’an (Republika). Karena Al-Qur’an adalah petunjuk. Sebuah petunjuk tidak akan bisa ‘berfungsi’ bila kita tidak memahami. Petunjuk itu adalah memahamkan. Pengetahuan tentang tafsir Al-Qur’an harus selalu dikembangkan. Intinya, harus ada ikhtiar untuk terus-menerus memperbaiki dan meningkatkan kualitas pemahaman kita pesan pesan Al-Qur’an.

Seperti diketahui, Al-Qur’an itu berbahasa Arab, kita juga hendaknya terus menambah wawasan bahasa Al-Qur’an. Harus diyakini bahwa hidayah dari Allah SWT banyak tercurahkan saat kita memahami dan langsung bisa merasakan pesan Al-Qur’an.
Ini akan bertambah bila pengetahuan bahasa Arab terutama makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an meningkat.

Kedua, menghadirkan hati dan pikiran saat membaca Al-Qur’an (Al-Hasanah), niat dari pemahaman Al-Qur’an adalah untuk mendapatkan hidayah untuk menjadi lebih baik dengan menghadirkan hati dan pikiran secara maksimal, saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan Al-Qur’an: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” [Qaaf: 37].

Ketiga, merenungi dan memikirkan masalah yang sedang dibicarakan Al-Qur’an (Mahdar). Al-Qur’an adalah kitab untuk manusia. Inshaallah, konteks, masalah dan tema yang dikomunikasikan adalah masalah dan tema kehidupan manusia.
Agar bisa berubah dengan Al-Qur’an, maka setiap masalah dan tema yang sedang Al-Qur’an bicarakan hendaknya kita carikan kesamaan dan kenyataannya dalam diri kita sendiri atau orang-orang di sekitar kita. Sehingga Al-Qur’an yang sedang kita baca benar-benar hidup, nyata, dan bisa kita lihat sehari-hari.

Harus diakui, Al-Qur’an harus dirasakan sebagai kitab kehidupan. Kita harus merekayasa Al-Qur’an sebagai sesuatu yang nyata dan bisa kita lihat. Al-Qur’an harus diposisikan sebagai media seakan akan sedang berdiskusi tentang seluk-beluk kehidupan kita, dan sisi kehidupan diri yang kita lihat dan rasakan. Kita akan mendapatkan dan merasakan pesan Al-Qur’an, berupa pelajaran, nilai, prinsip, pedoman, petunjuk, rambu, dsb untuk kehidupan kita.

Keempat, menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi kehidupan (Zainuddin). Ini adalah praktik yang sangat penting dalam memahami pesan Al-Qur’an. Menjadikan Al-Qur’an menjadi petunjuk dalam hidup kita, menggunakan Al-Qur’an sebagai jalan kehidupan bagi manusia. Membaca Al-Qur’an untuk mencari petunjuk dan solusi bagi masalah yang sedang kita hadapi: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya).” [An-Nisa’: 59].

Kelima, belajar dari kisah kisah dalam Al-Qur’an (ojs.uim.ac.id). Sebagai ‘penikmat’ pemahaman Al-Qur’an sejatinya merasakan peristiwa yang Al-Qur’an kisahkan akan sangat membantu kita belajar dari peristiwa itu. Tujuan Allah SWT mengabarkan peristiwa itu merupakan pelajaran bagi manusia.

Ayat-ayat tentang kehancuran umat-umat terdahulu, kesombongan kaum-kaum yang menentang para nabi, akibat yang mereka rasakan di akhir kisah kehidupan mereka. Kita idealnya memetik pelajaran dan tidak meniru perbuatan yang membuat mereka rugi dunia akhirat. “dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan?” [Ibrahim: 45].

Kita sepakati, Al-Quran diturunkan bukanlah untuk dibaca dari kuantitas semata-mata atau membaca sebanyak mungkin supaya mendapat ganjaran. Prinsip ini adalah benar dan bisa diterima. Namun, tujuan hakiki yang diharapkan bukanlah mendapat pahala, tetapi mendapat ‘pembelajaran’ untuk mendapat kebahagiaan dunia akhirat.

Ini hanya bisa didapatkan bila kita memperbaiki cara kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mari kira mulai!.

(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID