Opini Amri Ikhsan: Deep Learning Berawal dari Deep Thinking dan Deep Teaching

Penulis: Redaksi - Jumat, 25 April 2025 , 13:00 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Beberapa waktu yang lalu, Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyampaikan ide tentang pendekatan baru dalam pembelajaran yang disebut Deep Learning. Pendekatan ini berfokus pada membangun pemahaman yang lebih komprehensif, di mana siswa tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga mampu menganalisis dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata (Jonassen, 2010).

Banyak ahli yang berpendapat tentang pendekatan ini. Davis (2019) menyatakan bahwa deep learning mencerminkan bagaimana manusia dapat belajar secara intensif dan mendalam yaitu proses belajar yang tidak hanya sekadar menghafal, tetapi memahami secara konseptual dan aplikatif. Proses pembelajaran terjadi dengan menekankan pemahaman mendalam, di mana siswa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki, menciptakan keterkaitan konseptual, dan mampu mengaplikasikannya dalam konteks nyata.

Jadi menurut Mendikdasmen, pendekatan ini menekankan penguasaan materi secara mendalam dan bermakna. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk tidak hanya memahami, tetapi juga menghubungkan dan menerapkan pengetahuan secara kreatif dan kritis. Ini sesuai dengan pendapat Biggs dan Tang (2011) yang menyatakan bahwa pembelajaran mendalam merujuk pada keterlibatan aktif siswa dalam memahami konsep, membangun hubungan antar ide, serta mencari makna dari materi yang dipelajari.

Ada 3 (tiga) kata kunci Deep Learning, pertama, Mindfull Learning, kesadaran bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dan gaya belajar yang berbeda, pembelajaran yang efektif harus mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakteristik individu siswa, sehingga mereka merasa dihargai dan terlibat dalam pembelajaran (Tzenios, 2022). Dan dalam pembelajaran, siswa harus disadarkan bahwa mereka sedang belajar yang perlu usaha berpikir, aktif dan serius setiap kegiatan.

Kedua, Joyfull Learning, suasana pembelajaran harus menyenangkan dan menggembirakan baik guru maupun siswa dan ini dapat meningkatkan motivasi siswa dan memperkuat pemahaman mereka terhadap materi. Siswa yang merasa senang dan termotivasi lebih cenderung untuk berusaha lebih keras dalam belajar dan mencapai hasil yang lebih baik (Dweck, 2006).

Ketiga, Meaningfull Learning, mengedepankan pentingnya pemahaman yang mendalam terhadap materi yang dipelajari. Pembelajaran yang bermakna terjadi ketika siswa dapat menghubungkan pengetahuan yang mereka peroleh dengan situasi nyata (Freeman dkk, 2014). Artinya, materi pembelajaran harus bermanfaat bagi siswa untuk kehidupanya.

Diyakini bahwa deep learning merupakan sebuah produk hasil dari kegiatan lain. Artinya, deep learning muncul bila diiringi dengan kegiatan kegiatan lain. Deep learning bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Proses dan hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kompetensi guru, kurikulum dan struktur pembelajaran yang diterapkan. Guru yang akan mengimplementasikan pendekatan ini 'wajib' menguasai elemen lain, yaitu deep thinking dan deep teaching.

Oleh karena itu, deep learning harus diintegrasikan dengan deep thinking (berpikir mendalam) sebagai bentuk kehati-hatian dan kewaspadaan dan bisa jadi digunakan juga untuk kerja lebih fokus (Wahyudi). Sebenarnya, deep thinking merupakan alat utama untuk mendorong deep learning, yaitu kemampuan berpikir mendalam untuk membantu siswa membangun pemahaman yang lebih konseptual dan mendalam, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan (Kompas).

Deep thinking adalah cara pikiran berfungsi secara alami, bukan sesuatu yang harus dipaksakan untuk dilakukan oleh pikiran karena pikiran selalu ada, aktif, dinamis, dan kreatif (Broughton). Pikiran selalu ada dalam diri siswa, tergantung bagaimana guru memanfaatkan potensi siswa ini, ia bisa diaktifkan, dia juga bisa menjadi pasif. Deep thinking dan deep learning adalah konsep yang saling melengkapi dan dapat diterapkan secara sinergis dalam pembelajaran untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan efektif.

Dengan kata lain, deep thinking adalah kemampuan untuk merenungkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara kritis (Kompasiana). Orang yang memiliki kemampuan berpikir mendalam mampu melihat dan mengidentifikasi suatu persoalan dari berbagai sudut pandang dan mencari solusi terbaik, sehingga memudahkan dalam mengambil keputusan yang tepat dan mengurangi kemungkinan ketidaktepatan akibat analisis yang dangkal.

Bisa disimpulkan bahwa tanpa pemikiran mendalam, pembelajaran menjadi kurang bermakna, dan tindakan bisa tidak efektif, pembelajaran dan pemikiran hanya akan menjadi teori tanpa hasil nyata (Wahyudi). Tapi deep thinking dan deep learning tidak akan berjalan maksimal dalam konteks pembelajaran bila guru tidak melaksanakan deep teaching (pembelajaran mendalam)
Deep Teaching adalah kemampuan mengajar secara mendalam, di mana guru mampu menggali potensi siswa untuk berpikir lebih mendalam, menemukan pola baru, hingga menciptakan terobosan baru (Agustian). Guru yang memahami deep teaching dapat menyempurnakan potensi intelektual, emosional, sosial dan spiritual siswa melalui interaksi dan komunikasi yang yang tepat.

Deep teaching akan mengarahkan guru untuk memperhatikan apakah materi yang disampaikan dapat dipahami, dipraktekkan dan dieksekusi oleh siswa bukan hanya hapalan saja. Dengan deep teaching, siswa akan menjadikan guru tetap sebagai mitra yang tak tergantikan, walaupun sudah mendapat banyak informasi dari sumber lain.

Dengan deep teaching, guru mendapatkan data tentang pola belajar siswa sehingga guru bisa mempersonalisasi pembelajaran. Dengan data ini, guru bisa menemukan pendekatan dan metode pembelajaran terbaik untuk memecahkan tantangan pembelajaran yang kompleks. Dengan data yang dimiliki, guru akan menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif sehingga memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran melalui diskusi terkonseptual, eksplorasi kreatif, dan berpartisipasi dalam pemecahan masalah.

Menyatukan kompetensi guru dalam deep thinking, deep teaching dan deep learning merupakan langkah terbaik dalam menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih bermakna dan efektif bagi siswa. Deep thinking mengacu pada kemampuan guru untuk menganalisis, mengevaluasi, dan merumuskan pemikiran kritis tentang materi ajar, deep teaching mengacu pada kemampuan guru dalam mengeksplorasi potensi siswa sedangkan deep learning berfokus pada pemahaman yang mendalam dan aplikatif dari pengetahuan yang dipelajari siswa.

Dengan mengintegrasikan ketiga aspek ini, guru dapat mengarahkan siswa tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga memahami, menganalisis, mensintesis dan dapat mengkomunikasikan idenya secara komprehensif dan menerapkannya dalam konteks nyata. Pengintegrasian ini, guru dapat mendisain pertanyaan-pertanyaan yang menantang dan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan mengeksplorasi ide-ide baru yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di dunia nyata.

Ketiga hal ini akan mendorong guru untuk merancang pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan siswa dengan mengaitkan materi ajar dengan konteks kehidupan siswa, sehingga proses pembelajaran terasa lebih aplikatif dan bermanfaat. Guru dapat memberikan tugas dan proyek yang berkolaborasi dengan siswa lain, menerapkan pengetahuan mereka dalam situasi nyata, serta merefleksikan proses pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan sosial dan emosional siswa.

Menyatukan kompetensi guru dalam deep thinking, deep teaching dan deep learning akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa dalam membelajarkan siswa dan tidak hanya membekali siswa dengan pengetahuan tetapi juga dengan keterampilan berpikir kritis dan kreatif yang esensial untuk kehidupan di abad ke-21.

Tanpa deep thinking, deep teaching, deep learning hanya meperkaya guru dengan istilah tanpa makna. Wallahu a'lam bish-shawab.

(Penulis adalah Pendamping Satuan Pendidikan)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID