Amri Ikhsan Istilah 'gemoy' tiba-tiba jadi perbincangan. Gara-garanya, salah satu calon presiden diteriaki 'gemoy'. Istilah 'gemoy' pun kini ramai jadi percakapan publik. Gemoy sendiri merupakan salah satu bahasa gaul. (CNN Indonesia)
Gemoy jadi salah satu ungkapan yang populer di tengah masyarakat, utamanya anak muda. Gemoy sebenarnya merujuk pada ungkapan akan sesuatu yang lucu dan menggemaskan. 'Gemoy' sendiri merupakan hasil plesetan dari 'gemas' dengan mengganti beberapa huruf agar terlihat lebih imut (detik).
Dalam KBBI VI, gemas sendiri memiliki dua definisi yang cukup berbeda: sangat jengkel (marah) dalam hati, sangat suka (cinta) bercampur jengkel; jengken-jengkel cinta. Pada dasarnya, penggunaan kata ini mencerminkan apresiasi terhadap sifat atau tingkah laku yang mengundang perhatian, dan menyenangkan.
'Gemoy' sebetulnya merujuk pada ungkapan akan sesuatu yang lucu dan menggemaskan atau menggelitik. Ungkapan ini biasanya disampaikan dengan nada gregetan atau manja. Namun demikian, 'gemoy' dalam konteks bahasa gaul tidak mengindikasikan adanya rasa jengkel, 'gemoy' di sini menggambarkan ungkapan gemas yang positif (MR.com).
Dalam pendidikan dan pembelajaran, sifat menggemaskan harus ditunjukkan guru, tujuannya agar siswa kasmaran untuk selalu bertemu guru. Ini merupakan langkah positif untuk menciptakan suasana antusias dalam pembelajaran.
“Menggemaskan’ itu diniatkan dalam rangka menarik perhatian siswa, minimal siswa merasa betah berada di dalam kelas. Gemoy bukan merujuk pada fisik guru, tapi cara guru berinteraksi dengan siswa.
Pertama. guru yang gemoy itu membelajarkan siswa. Dia membekali dan menyampaikan pesan (baca-materi pembelajaran) yang bermakna bagi siswa.
Bermakna berarti tuturan guru bisa langsung dicerna siswa sebagai ’bahan baku’ siswa untuk berfikir, karena mengajak siswa berfikir merupakan inti dari proses pembelajaran. Dengan kata lain, berfikir akan memfokuskan siswa untuk belajar sekaligus melenjitkan prestasi siswa.
Menggemaskan, karena guru kreatif dalam mengarahkan kegiatan belajar siswa. Pengarahan ini diawali dengan kemampuan berkomunikasi yang baik sehingga siswa terdorong untuk aktif dalam kegiatan diskusi dalam pembelajaran. Diskusilah ini yang melatih siswa menyelesaikan permasalahan kehidupan.
Kedua, ‘gemoy’ dalam memotivasi siswa, Selain menyampaikan materi pembelajaran, guru juga piawai dalam memotivasi siswa. Tanpa motivasi, bisa dipastikan siswa tidak akan semangat dalam pembelajaran. Motivasi bisa dengan memberikan gambaran mengenai masa depan, bagaimana cara belajar, bagaimana bisa lolos Perguruan Timggi, pekerjaan apa yang paling dicari dimasa depan, pekerjaan apa yang ‘sudah hilang’ dll.
Kemudian, berikanlah spirit dan rasa percaya diri menghadapi problema dan tantangan hidup dengan cara cara yang positif dan religius. Berikanlah mereka inspirasi-inspirasi yang dapat merangsang daya nalar mereka untuk berpikir, bertindak dan berperilaku sesuai kompetensi dasar, capaian pembelajaran yang dipelajari. Akhirnya, mereka menjadi ‘orang baik’, bukan karena ada guru, atau takut dihukum guru, tapi karena mereka melakukan pekerjaaan itu atas dasar “kesadarannya” demi masa depan mereka.
Ketiga, mengajar dengan cara berbeda dari guru lain, sehingga membuat siswa ‘terkesan’ dalam pembelajaran. Hal ini berguna sekali untuk membuat siswa termotivasi untuk belajar. Menggunakan metode, strategi, materi pembelajaran dan media belajar yang berbeda dalam setiap pertemuan akan membuat siswa penasaran. Siswa akan selalu menantikan kejutan apalagi dalam setiap pertemuan selalu ada dilematic problem’ yang dibahas.
Keempat, selalu memberi kepercayaan pada siswa. Guru gemoy berprinsip bahwa percaya bahwa semua siswa adalah istimewa dan bisa diandalkan. Percayakan bahwa mereka memiliki potensi untuk mengerjakan tugas tugas akademik yang diberikan. Pilihlah penugasan yang menantang siswa untuk berpikir, memecahkan masalah, dan berkreasi supaya segala potensi siswa tersalur secara maksimal.
Yakinlah bahwa kepercayaan dari guru akan menambah semangat siswa untuk terus belajar dan mendorong siswa terus menuntut ilmu walaupun tanpa perintah guru, mereka dengan sendiri, dengan kesadaran sendiri mau belajar (independent learning).
Kelima, berinteraksi dan berkomunikasi dengan penuh kasih sayang, penuh kelembutan, mampu mengendalikan emosi menghadapi segala macam tingkah laku siswa, berempati kepada siswa yang mungkin punya masalah. Ini kelihatan sepele dan tidak ‘tertulis’ dalam RPP guru, namun sangat bermakna, karena sikap guru yang peduli akan menguatkan ‘stamina’ siswa untuk belajar. Siswa akan mempersepsikan kepedulian dan keteladanan sebagai benteng yang kuat untuk bertahan dalam berbagai kesulitan hidup.
Guru ‘gemoy’ itu mendidik dengan hati, sangat memperhatikan ‘kebutuhan’ siswa, memanusiakan manusia, memilih kegiatan pembelajaran yang paling disukai siswa. Interaksi dihiasi dengan sikap lemah lembut, kasih sayang dengan raut wajah yang tulus dan selalu tersenyum. Bahasanya penuh dengan ungkapan ‘puja-puji’ yang menggembirakan dan menyenangkan.
Keenam, guru gemoy itu pemurah dalam memberi pujian dan penghargaan. Apapun yang dikerjakan siswa dihargai secara proporsonal. Tidak hanya pujian dengan kata kata, guru juga menggunakan media sosial dalam berkomunikasi. Dalam konteks ini, guru menggunakan bahasa gaul yang positif, menggunakan gambar, simbol dan meme yang konstruktif, karena itu yang disenangi siswa generasi Z.
Guru gemoy itu kreatif dalam metode dan asesmen. Guru memiliki banyak pilihan dalam pembelajaran. Guru yang kreatif menampilkan hal hal yang berbeda setiap kali pertemuan dalam kelas. Metode dan asesmen yang digunakannya bervariasi, dengan menggabungkan atau menambah atau mengurangi metode atau asesmen yang sudah ada. Asesmen yang diberikan diniat sebagai ‘mesin’ yang mendorong siswa untuk belajar (Cowan, 2011), bukan sebaliknya.
Ketujuh, guru gemoy tidak suka membesar-besarkan masalah kecil atau mengecilkan masalah masalah besar, tidak mau pusing dengan masalah yang diluar kontrolnya. Guru gemoy bukan tidak punya masalah, tapi dapat mengatasi masalah dengan respon yang benar. Guru yang bahagia bukan karena hidup tanpa kesusahan, tapi kesusahan diubahnya menjadi kekuatan.
Bagi guru gemoy, mengajar itu adalah ibadah. Jika guru menyadari bahwa mengajar adalah ibadah, maka guru akan melaksanakan tugas dan fungsinya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Guru selalu mensyukuri akan karunia-Nya. Kalau sekiranya guru berbuat dosa dan kesalahan. Guru berkewajiban istighfar dan memohon ampunan atas dosa dan kekhilafannya selama berlangsung proses pembelajaran. Dan yang paling penting adalah bersabar dalam mendapat cobaan.
Akhirnya, guru gemoy itu seharusnya memudahkan bukan mempersulit siswa. Guru semestinya memberikan kabar gembira dengan motivasi-motivasi yang dapat membangkitkan semangat belajar siswa bukan dijejali dengan ancaman dan kata-kata yang berpotensi membunuh semangat belajar dan bahkan karakter baik yang ada dalam diri siswanya.
Guru gemoy belajar dari hukum alam, yang mengajarkan guru tentang filosopi tabur tuai, sebagaimana bola yang dilemparkan ke atas pasti akan jatuh kembali. Begitu juga dengan kebaikan dan keburukan yang dilakukan pasti akan berbalik.
Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir, “Cukuplah Allah sebagai tempat diri bagi kami, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami”
(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)