Amri Ikhsan Pemerintah akhirnya memutuskan tidak ada libur sebulan penuh untuk bulan puasa ramadhan tahun ini seperti banyak yang harapkan oleh banyak pihak. Istilahnya bukan libur selama puasa ramadhan tetapi pembelajaran selama puasa ramadhan.
Dan akhirnya pemerintah membuat 3 (tiga) skenerio pembelajaran selama puasa ramadhan: 1) pembelajaran secara mandiri di lingkungan keluarga, tempat ibadah dan masyarakat dan guru dapat melakanakan tugas secara work from home atau work from anywhere, dan presensi dilakukan dari rumah atau mana saja; 2) dilanjutkan dengan pembelajaran tatap muka seperti biasa di lingkungan sekolah dan 3) kembali pembelajaran mandiri.
Oleh karena itu, satuan pendidikan, pendamping satuan pendidikan dan tenaga pendidik (guru) harus memanfaatkan kesempatan ini (baca- pembelajaran selama Ramadhan) sebagai momentum untuk menyatukan 2 (dua) pandangan tentang pendidikan, yaitu, belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan belajar sebagai bagian dari ibadah.
Untuk mewujudkan hal ini, guru diharuskan menentukan pendekatan pembelajaran yang bisa menyatukan kedua hal ini dan yang paling ideal adalah dengan memilih pendekatan profetik sebagai landasan pembelajaran selama puasa ramadhan.
Ini bukan tanpa alasan, berbagai tantangan dunia global yang dihadapi dunia pendidikan dewasa ini dan upaya-upaya menjawabnya melalui pemantapan akidah dan intelektual, pemantapan moral dan nilai, sinergitas ilmu pengetahuan dan agama yang dirumuskan dalam teori pendidikan yang memadai (Syihabudin).
Teori itu ialah teori yang pernah dipraktikkan Nabi saw. melalui metode pembelajaran yang holistik dan sempurna. Beliau telah terbukti berhasil dalam mendidik generasi pertama umat ini dengan menyatukan hati mereka dalam mengapresiasi akidah Islam dan menjalankan ajarannya (Syihabudin). Metode Nabi SAW diyakini masih relevan diimplemtasikan di zaman kekinian.
Dan metode itu adalah tilawah ayat, tazkiyah, dan ta‟lim (Syihabudin). Metode ini diawali dengan membaca dan membacakan ayat-ayat Allah, membaca alam semesta, dan yang ada pada diri manusia sendiri. Kemudian diikuti dengan proses penyucian dan penghilangan sifat sifat buruk yang dapat menistakan kemanusiaan manusia (proses memanusiakan manusia) dan terakhir baru pembelajaran, yaitu kegiatan mengajar, mengajari, mengajarkan, membelajarkan manusia, menerangkan, mendemonstrasikan, menyebarkan, mengajak, mengajar dengan mempertimbangkan potensi intelektual anak.
Pendekatan profetik tidak hanya berkenaan dengan aspek akademis dengan membuat siswa paham, tetapi menyangkut juga aplikasinya dalam kehidupan nyata. Pendekatan ini memiliki landasan yang bersumber dari Alquran dan Assunnah, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun sikap Nabi saw. Alquran telah menjelaskan pendekatan dan metode yang selayaknya digunakan untuk mendidik diri, keluarga, dan umat manusia, di antaranya metode kisah, nasihat, dialog, dan keteladanan (UPI).
Sewaktu dalam pembelajaran, seorang guru meneladani Nabi dalam merancang kegiatan, menetapkan tujuan, harapan, dan cita-cita pendidikan yang ingin diwujudkan pada masa depan, berarti guru itu memiliki visi profetik. Jika dia mendidik para siswa dengan menggunakan cara yang digunakan para nabi, berarti dia telah menggunakan pendekatan profetik (UPI).
Pendekatan profetik dalam pendidikan mengacu pada prinsip-prinsip ajaran agama yang mendalam dan mengutamakan nilai-nilai kebaikan, moralitas, dan etika dalam setiap aspek pendidikan. Kata "profetik" berasal dari kata "nabi" atau "rasul", yang merujuk pada individu yang diutus untuk membawa wahyu dan pedoman hidup bagi umat manusia (uinsaizu). Dalam konteks pembelajaran, pendekatan profetik tidak hanya berfokus pada pengetahuan akademik semata, tetapi juga mencakup pengembangan karakter siswa agar mereka menjadi pribadi yang berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, dan dapat berperan aktif dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.
Pendekatan profetik dalam pembelajaran di bulan Ramadhan memberikan kesempatan untuk tidak hanya mengajarkan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai spiritual yang terdapat dalam agama.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya menjadi cerdas dalam hal kognitif, tetapi juga bijaksana dalam hal moral dan sosial. Dengan mengajarkan nilai-nilai seperti kesabaran, empati, disiplin, dan kasih sayang, guru dapat membantu siswa untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, lebih beradab, dan lebih bertanggung jawab baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam proses pembelajaran.
Dengan pendekatan profetik selama Ramadan, pembelajaran tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepribadian yang baik. Peserta didik diajak untuk memahami dan mempraktikkan nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial yang diajarkan oleh para nabi, sehingga mereka dapat menjadi individu yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat.
Konsep profetik dalam Islam merujuk pada nilai-nilai dan sifat-sifat yang dimiliki oleh para nabi (anbiya) sebagai teladan bagi umat manusia. Pertama, As-Sidq, mengajarkan siswa untuk selalu berperilaku jujur dalam kehidupan mereka, baik di madrasah/sekolah maupun di luar sekolah. Guru harus menjadi contoh integritas yang dapat diteladani oleh siswa. Sebagai pendidik, guru yang jujur dapat membangun hubungan yang harmonis dan transparan dengan siswa, orang tua, dan para guru dan tenaga kependidikan. Guru jujur dalam memberikan nilai dan feedback, berinteraksi, dan berkomunikasi penuh keterbukaan dengan siswa dan saling hormat menghormati.
Kedua, amanah, siswa diajarkan untuk memahami dan melaksanakan tanggung jawab mereka, baik dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Guru juga bertanggung jawab untuk membuat skenario pembelajaran yang akan melatih dan membiasakan siswa untuk belajar bertanggung jawab dan memegang amanah.
Ketiga, fatonah (kebijaksanaan), fatonah merujuk pada kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat. Guru yang fatonah tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah pembelajaran siswa. Guru bijak dalam memahami konteks dan karakteristik siswa, mata pelajaran, mempertimbangkan berbagai faktor, dan memilih solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan siswa.
Keempat, Tabligh (Menyampaikan), berkomunikasi dengan jelas dan benar. Dalam konteks pembelajaran, tabligh berkaitan dengan kemampuan guru untuk menyampaikan informasi, pengetahuan, atau pesan dengan cara yang jelas, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru yang tabligh tidak hanya berbicara tetapi juga mendengarkan, memahami, dan memberikan penjelasan yang mudah dipahami.
Seorang guru yang tabligh akan mampu menyampaikan materi seolah olah siswa sedang dalam tidak belajar tapi pesan pembelajaran dapat ditangkap siswa dengan sempurna. Tidak hanya materi pembelajaran, guru juga mampu menyampaikan nilai-nilai moral, etika dan tata krama untuk diimplementasi dalam kehidupan siswa. Tabligh juga termasuk kemampuan guru untuk berkomunikasi dengan, orang tua, dan teman sejawat dan masyarakat sekitar dengan cara yang efektif dan penuh empati.
Pada bulan Ramadhan, siswa Muslim berpuasa sebagai salah satu ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ini memberikan kesempatan bagi guru untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan moral dalam pembelajaran di kelas, yang dapat memberi dampak positif baik secara intelektual maupun emosional bagi siswa. Wallahu a'lam bish-shawab!
(Penulis adalah Pendamping Satuan Pendidikan)