Amri Ikhsan Pendidikan harus mencapai tiga fondasi utama agar memberikan ruang interaksi dinamis bagi siswa dalam pembelajaran: pertama, pendidikan harus membebaskan; kedua, pendidikan harus memberikan akses yang sama kepada setiap siswa; ketiga, pendidikan harus memberikan ruang bagi terbentuknya interaksi yang seimbang antar setiap siswa (Yusuf, 2017).
Kebebasan siswa dalam pembelajaran biasanya terhenti bila guru berasumsi: siswa ini sekedar menerima ilmu dari guru, siswa hanya belajar bila ada guru, siswa tidak akan belajar dirumah, siswa itu malas, dll.
Guru harus bisa memotivasi siswa untuk kasmaran dalam belajar, kecanduan belajar. Ada pengalaman menyenangkan, sampai otaknya terus meminta lagi dan lagi. Yakni, kondisi seseorang yang sangat hanyut dalam sebuah aktivitas sehingga seakan tidak ada hal lain yang bisa mengganggu perhatiannya. (Teori Flow).
Pengalaman tersebut terasa sangat menyenangkan untuk tetap dilakukan, sehingga siswa akan tetap melakukannya walaupun tantangannya besar dan memakan waktu lama. Ada sensasi positif yang dirasakan ketika siswa melakukan suatu aktivitas dengan keterlibatan total dan konsentrasi penuh tanpa sedikitpun rasa kebosanan.
Berdasarkan penelitian, ada banyak pola bagaimana siswa belajar, ada yang suka belajar sambil melakukan, ada juga dengan mencari atau menemukan dalam diri, ditemukan siswa kalau belajar harus berinteraksi dengan orang lain.
Memang cara dan pola belajar siswa tidak bisa sama, sering siswa itu belajar kalau disuruh baca, jangan heran juga bila siswa akan belajar bila diinformasi alasan kenapa harus belajar sebuah topik, alasan inilah yang mendorong siswa untuk belajar. Kadang kadang siswa akan belajar bila ada tantangan terlebih dulu, mereka diberi masalah terlebih dahulu, baru mereka akan belajar.
Tidak jarang juga bila siswa akan belajar bila dihadapkan ‘rasa takut’, misalnya, guru mengatakan, bila tidak mengerjakan tugas ini, siswa tidak akan naik kelas. Rasa takut inilah yang mendorong siswa untuk belajar.
Sepanjang belum ada informasi ‘yang menakutkan’, gairah belajar siswa tidak akan meningkat. Banyak juga siswa yang akan belajar serius bila mereka diminta untuk bereksperimen, mereka diminta untuk mencoba coba dulu, melihat lihat dulu
Perlu ada kiat guru dalam memunculkan rasa kasmaran (Indrajit). Pertama, Elements of Surprise, berikan atau lakukan sesuatu yang siswa tidak pernah duga sebelumnya.
Ajaklah siswa ‘berikhtiar’ untuk hal hal yang tidak terduga. Misalnya, dalam memanggil siswa untuk tampil ke depan, jangan pernah memanggil berdasarkan nomor urut absen. Tapi panggil secara acak, atau ‘minta tolong’ siswa yang sudah tampil untuk memanggil temannya.
Surprise bisa juga dengan sekali kali mengajak siswa belajar diluar, dibawah pohon, belajar sambil ‘makan’, belajar sambil duduk lesehan, dll. Guru bisa juga ‘menukar posisi’, siswa diminta untuk menjelaskan materi pelajaran, siswa memeriksa jawaban siswa, dll.
Kedua, Always a new thing, tampilkan sesuatu yang merupakan baru bagi siswa, untuk menarik perhatian. Menggunakan LKS atau buku teks yang ‘dibeli’ siswa akan membuat pembelajaran tidak menarik.
Usahakan dicari materi baru yang lebih menantang. Tentu guru tidak ‘berpangku tangan’ menunggu jam mengajar, tapi ‘beliau’ harus kreatif mencari, menulusuri materi baru baik di internet atau pada sumber lain.
Hal baru tidak hanya materi pelajaran, guru juga bisa memakai media baru, realia, misalnya, guru memang membawa ‘barang asli’ ke kelas. Misalnya dalam membuat teks prosedur membuat ‘kopi susu’, guru memang membawa termos, kopi, gula, susu, gelas, sendok dan memang membuat kopi susu secara ‘real ’ bukan hanya menggambarkan atau mendeskripsikan bagaimana membuat minuman itu.
Ketiga, ‘Safe’ to learn, pastikan bahwa para siswa tidak berhadapan dengan resiko jika salah atau gagal dalam memaknai konten. Dalam pembelajaran, salah dan benar adalah sesuatu yang biasa. Tidak ada ditemukan siswa selalu benar atau selalu salah. Itu adalah ‘nature’ nya siswa belajar.
Tugas guru dalam konteks ini adalah membuat siswa menyadari dengan sendirinya bahwa mereka berbuat atau melakukan kesalahan tanpa guru ‘mengomentari’ kesalahan itu.
“Biarkan” saja siswa berbuat salah atau menjawab salah sebuah permasalahan pada waktu itu, tidak perlu guru memberi komentar atau menegur, biarkan saja. Guru cukup menjelaskan kembali materi itu tanpa ‘memandang’ siswa itu. Atau meminta teman sekelasnya untuk menjelaskan materi itu. Atau meminta ‘siswa yang salah itu’ untuk membaca materi yang dijawab salah bisa juga dilakukan.
Keempat, ‘Adrenaline’ First, mulailah dengan sesuatu yang membuat siswa terangsang untuk segera melakukan aktivitas cepat. Kegiatan yang bersifat kompetitif diyakini dapat meningkatkan rasa keingintahuan siswa terhadap suatu permasalahan.
Menumbuhkan rasa kompetitif membuat siswa terangsang untuk melakukan sesuatu dengan cepat. Perasaan ‘ingin cepat’ akan mendorong siswa untuk belajar mandiri. Siswa diyakini akan berusaha mencari informasi dengan cepat agar bisa ‘menang’ dalam kompetisi itu dengan atau tanpa kolaborasi dengan teman. Ini memang tujuan pembelajaran yang sesungguhnya.
Kelima, The Choice is Yours, biarkan siswa memilih sesuai dengan selera, pilihan dan kesukaannya dalam berbagai hal. Memang siswa tidak bisa dipaksakan belajar sesuai dengan salera guru, memang guru tidak boleh mengajak siswa berpikir seperti guru dan ini aplikasi dari merdeka belajar. Siswa diberi kebebasan untuk belajar sesuai kebutuhan dan potensi siswa.
Bagi guru, merasa bebas bukan berarti ‘bebas sebebas bebasnya’, tapi bebas menemukan, mencari, mengalami pembelajaran sesuai potensi dan kondisi siswa. Peran guru disini memfasilitasi siswa untuk beraktivitas sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.
Keenam, Dillematic Problems, kemukakan masalah yang mengandung unsur pro kontra yang seimbang. Tujuan pembelajaran secara umum adalah siswa mampu mengungkapkan secara komprehensif apa yang mereka pelajari.
Mengajak siswa ‘berbicara’ dalam pembelajaran bukan yang mudah dilakukan, perlu ada kiat guru untuk merangsang siswa untuk ‘berani’ bicara.
Ada satu cara yang mendorong siswa untuk bicara walaupun tidak diminta bicara dengan menawarkan masalah yang dilematis, masalah yang tidak menekankan benar atau salah. Tapi siswa bebas menyampaikan pendapat sesuai perspektif mereka. Guru harus menampung semua opini siswa yang berbeda beda, bisa saja saling bertentang. Dan perbedaan ini adalah rahmah pembelajaran.
Ketujuh, Out-Of-The-Box Thinking, ajak siswa memecahkan misteri atau teka teki yang menggoda. Guru yang akan masuk ke ruang kelas harus membawa ‘misteri’ yang mesti dipecahkan siswa. Misteri ini akan membawa siswa ke situasi ‘penasaran’. Kalau penasaran sudah tercipta, maka guru akan dengan mudah ‘menggerakkan’ siswa belajar. Kalau penasaran sudah muncul pada diri siswa, maka apapun komunikasi guru akan didengar dan akan dilakukan siswa.
Kedelapan, Know Where to Stop, aktivitas pelajaran tidak harus lama, tapi berhenti pada saat yang tepat, ketika mereka dalam keadaan penasaran terhadap suatu hal. Ini harus menjadi perhatian guru. Guru harus mempertimbangkan dengan jeli kapan ‘penasaran’ siswa berada pada puncak. Kalau menurut guru, waktu ini sudah datang, bersegeralah mengakhiri kegiatan itu, dan alihkan pada kegiatan lain.
Ini sangat penting, jangan sampai rasa penasaran siswa berubah menjadi kebosanan, akibat terlalu lama siswa melakukan kegiatan yang sama dalam satu waktu.
Sudah saatnya guru memikirkan cara agar siswa merasa sensasi yang luar biasa dan minta lagi dan lagi untuk belajar. Wallahu a'lam bish-shawab.
(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)