Opini Musri Nauli: Pontang Panting

Musri Nauli
Istimewa
Musri Nauli
Penulis: Redaksi

Oleh: Musri Nauli

Kadangkala saya sering geli sendiri. Tertawa mendengarkan cerita di sekitar gubernuran.

Memiliki Pemimpin seperti Al Haris yang tidak kenal waktu bekerja, langkahnya gesit, tidak terpaku kepada protoker, bisa salip sana-sini menyesuaikan jadwal hingga berbagai kegiatan yang dilakoninya memang membutuhkan stamina yang prima.

Bayangkan. Jadwal kegiatan hingga 5 tempat dilakoni satu persatu. Didatangi tanpa lelah. Berkejaran dari satu tempat ke tempat lain.

“Baru kali ini, Pak Gubernur menghadiri hingga 5 kegiatan”, kata orang di gubernuran.

“Belum pernah terjadi”, ujarnya kagum.

Atau rapat dimulai malam hari hingga menjelang pagi hari sekitar jam 1 atau jam 2 pagi.

Mendengarkan cerita yang disampaikan membuat saya tertawa. Membayangkan bagaimana ritme kerja yang dilakoni oleh Al Haris sebagai Gubernur.

Sebagai orang yang pernah mendengarkan cerita, mengikuti langsung berbagai kegiatan memang dibutuhkan stamina yang prima. Fisik yang mumpuni.

Teringat ketika kampanye terakhir di Kecamatan Sadu. Kegiatan yang ditempuh mesti menggunakan mobil dilanjutkan dengan naik speedboat langsung mendatangi 1-2 desa. Sore hari dilakoni main sepakbola.

Melanjutkan perjalanan darat. Menempuh jalan yang sangat buruk. Magrib di mesjid terdekat. Kemudian dengan pertemuan malam di desa yang lain.

Pagi hari setelah makan pagi, dimulai lagi menempuh perjalanan darat. Menggunakan mobil double gardan. Badan meliuk-liuk mengikuti jalan yang berlubang.

Kadang berhenti sebentar. Karena mobil sempat terperosok di lubang dalam.

Istirahat sebentar langsung ketemu dengan masyarakat. Kemudian dilanjutkan lagi perjalanan menempuh rute jalan buruk yang berlubang. Kadangkala jarak cuma 15 km tapi “hampir merasakan maut” selama perjalanan.

Cerita tentang kegiatan yang banyak dilakoni membuat Al Haris dapat menyambangi berbagai tempat dalam satu hari. Hanya tersita perjalanan darat ataupun menggunakan speedboat namun tetap mengejar satu tempat ke tempat.

Saya membayangkan bagaimana pontang panting mengikuti langkah gesit Al Haris.

Sehingga tidak salah kemudian Tim yang melekat memang Sudah mengetahui cara kerja Al Haris. Tidak mengenal waktu dan tempat untuk menyambangi satu tempat ke tempat lain.

Namun ritme yang dibawa dari Merangin kemudian dilakoni selama kampanye Pilgub kemudian menyentak. Membangun tidur yang selama ini sudah nyaman dengan rutinitas jam kantoran.

Tidak salah pula kemudian “cara kerja” Al haris justru akan menjadi seleksi yang ketat.

Hanya mereka yang paham dengan ritme kerja yang mampu bertahan.

(Penulis merupakan Advokat yang tinggal di Jambi)