Mohammad Zohir Oleh: Muhammad Zohir
Pemilih pemula pada setiap pelaksanaan demokrasi pasti jadi salah satu yang paling dipantau oleh penyelenggara. Hal ini menjadi salah satu alasan untuk memastikan semua warga negara bisa menyalurkan hak pilih. Ini juga untuk mengajarkan kepada pemilih pemula untuk mengetahui haknya sebagai warga negara untuk berpartisipasi dalam pemilihan, baik saat pelaksanaan pemilu maupun pilkada.
Pemilih pemula sebagian besar akan sangat awam dengan dunia kepemiluan dan pesta demokrasi. Hal ini karena selama ini mereka hanya melihat dan belum bisa ikut karena umur yang belum 17 tahun. Karena penulis sendiri merupakan tenaga pendidik pada mata pelajarans sejarah, sedikit banyak sudah penulis jabarkan tentang perjalanan politik di Indonesia sejauh ini.
Selain itu, pendidikan politik lewat pembelajaran di sekolah menjadi awal bagi siswa yang merupakan pemilih pemula untuk bisa lebih mendalami dan memahami soal politik. Apalagi saat ini momen tersebut sudah berjalan dan sebagian siswa sebenarnya sudah bertemu dengan Pantarlih yang melakukan pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih ke rumah.
Tidak banyak siswa yang merupakan pemilih pemula itu mau mengerti dan mempelajari lebih dalam soal pendidikan politik. Ini juga dialami oleh penulis di sekolah karena kecenderungan siswa tidak terlalu mau mendalami hal tersebut. Hanya saja dengan pembelajaran yang sudah menyangkut tentang sistem pemerintahan hingga proses pemilu menjadi salah satu dasar bagi siswa untuk mendapatkan pembelajaran awal soal pendidikan politik.
Dengan kondisi ini, penulis selalu berusaha mengingatkan kepada para siswa untuk lebih banyak mempelajari soal kepemiluan. Hal ini karena mereka akan menjalani pengalaman pertama untuk menyumbangkan hak suara pada pemilu 2024. Penulis menginginkan pembelajaran yang disampaikan dikelas bisa diaplikasikan dan dipahami dengan baik diluar karena saat ini mendapatkan informasi akan sangat mudah dengan teknologi informasi saat ini.
Sejauh ini penulis sudah mengupayakan pembelajaran semaksimal mungkin dalam memberikan pemahaman politik kepada siswa. Ini juga untuk mendukung siswa agar lebih aktif dalam mempelajari pemilu dan pendidikan politik sebagai langkah awal untuk mereka terjun ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada 14 Februari 2024 nanti. Dengan apa yang dilakukan penulis, harapan terbesarnya adalah para pemilih pemula nanti bisa secara sadar dan memilih para calon sesuai dengan pandangan mereka secara nyata. (*)
(Penulis merupakan salah satu guru menengah atas di Sarolangun)