Sejarah yang Mendasari 2 Juli Sebagai Hari Adat Melayu Jambi

Penulis: Redaksi , Editor: Muhammad Sapi'i - Sabtu, 02 Juli 2022 , 14:40 WIB
Al Haris (kanan), HBA dan Abdullah Sani
Istimewa
Al Haris (kanan), HBA dan Abdullah Sani

JERNIH.ID, Jambi - Pemerintah Provinsi Jambi dan Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi sudah menetapkan 2 Juli sebagai Hari Adat Melayu Jambi. Sabtu, 2 Juli 2022 ini yang pertama kali negeri adat sepucuk Jambi sembilan lurah memperingati Hari Adat Melayu Jambi.

Puncak acara peringatan Hari Adat Melayu Jambi ini diselenggarakan di Rumah Dinas Gubernur Jambi. Gubernur Jambi Al Haris, pimpinan Forkopimda, Ketua LAM Jambi Hasan Basri Agus (HBA) dan tokoh-tokoh Jambi tanpak hadir pada peringatan Hari Adat Melayu Jambi ini.

Ketua umum LAM Jambi, Hasan Basri Agus (HBA) mengatakan Hari Adat Melayu baru ditetapkan sejak kepengurusan LAM periode saat ini, dan itu berdasarkan cerita lama bahwa 2 Juli 1502 sudah pernah ada pertemuan lembaga adat se Jambi di bukit Siguntang Tebo.

“Tanggal 2 Juli 1502 sudah pernah sudah ada pertemuan lembaga adat SE provinsi Jambi di bukit Siguntang Tebo, pada saat itu dipimpin orang Kayo Hitam. Itulah yang menjadi dasar bahwa kedepan agar adat ini lestari kita tetapkan hari adat se provinsi Jambi pada tanggal 2 Juli setiap tahunnya,” ungkap HBA.

Sejarah yang mendasari 2 Juli sebagai hari adat Melayu Jambi

Bukit Siguntang yang kini masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Muaro Sekalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo Provinsi Jambi, merupakan tempat penyelenggaraan Rapat Besar Adat Pertama, yang dikenal dengan Rapat Besar Adat Bukit Siguntang, terjadi pada hari Rabu tgl 2 Juli sampai 16 Juli 1502 Masehi bertepatan dengan tanggal 17 Zulhijjah 907 sampai tanggal 1 Muharram 908 Hijriah.

Perhelatan tersebut berlangsung selama dua pekan, dihadiri langsung oleh Rajo Melayu Jambi Orang Kayo Hitam, Sulthan Bakilat Alam Rajo Minangkabau. Penghulu Kepala Negeri beserta para pemangku adat dan ulama Islam, yang merupakan titik awal Kerajaan Melayu Jambi memiliki hukum hakam “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah, syara’ mengato. adat memakai”.

Dalam perjalanan dan rentang waktu yang panjang dengan kesadaran yang tinggi akan pentingnya menumbuh-kembangkan kembali nilai-nilai, norma-norma adat istiadat dan budaya Melayu Jambi, memunculkan keinginan dan tekad yang kuat di kalangan para tokoh adat Melayu Jambi untuk mendirikan sebuah kelembagaan. Oleh sebab itu pada tanggal 17 sampai 19 Desember 1975 dilangsungkanlah Musyawarah Adat Daerah Pertama antartokoh masyarakat adat dari seluruh daerah kabupaten/kota se Provinsi Jambi, dihadiri oleh 232 orang peserta, yang kemudian membentuk Lembaga Adat Melayu Jambi, dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Nomor 03/MUSDA/1/12/1975 tanggal 19-12-1975 tentang Komposisi dan Pengurus LAM Provinsi Jambi.

Baca halaman selanjutnya



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID