Bertemu Kembali Dengan Ramadhan di Tengah Pandemi

Amri Ikhsan
Doc. Pribadi
Amri Ikhsan
Penulis: Jernih 1

Oleh: Amri Ikhsan *

Alhamdulillah, kita berpuasa ramadhan disaat pandemic belum berakhir. Banyak yang berharap pandemi Covid-19 sudah berakhir saat puasa ramadhan tahun ini. Tapi apa daya, covid-19 masih ada dan belum tahu kapan akan berakhir.

Ini adalah tahun kedua umat Islam dunia berpuasa dalam situasi pandemi Covid-19. Tentu tidak mudah. Tentu ada hikmahnya. Selama masa sulit ini, sebenarnya umat Islam sedang berpuasa dalam banyak hal. Puasa tak berkerumun, puasa jaga jarak. Puasa tidak berpergian, Puasa untuk tak mengotori tangan, mulut, dan anggota badan dari kotoran yang tampak maupun tidak tampak (jawapos).

Kalau direfleksikan ramadhan 1441 H tahun lalu dengan Ramadhan tahun ini, ditemukan beberapa perbedaan: pertama, ramadhan tahun lalu, kita masih grogi, belum terbiasa, rasanya kita belum siap menyambut ramadhan ditengah pandemi maklum covid-19 baru masuk ke Indonesia. Tahun lalu, banyak pertanyaan yang muncul, apakah kita bisa bertahan berpuasa saat Covid-19 menyerang dunia. Apakah tubuh ini akan kuat terjaga imunitasnya, hingga pertanyaan apakah kita bisa pulang mudik saat Lebaran.

Sedang Ramadan ini, kita relatif sudah terbiasa, sudah banyak masyarakat yang siap, masyarakat sudah banyak tahu dan mengenal covid-19, maklum sudah lebih satu tahun kita ‘menikmati’ kehidupan bersama covid-19.

Kedua, dibidang pendidikan, pada bulan Ramadhan tahun lalu, diinstruksi melalui Surat Edaran Kemdikbud bahwa pembelajaran ‘dilarang keras’ dilakukan tatap muka dan harus dilakukan secara daring, sedang tahun ini sekolah dibolehkan melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan penerapan protocol kesehatan ketat. Beberapa daerah ‘rawan’ sudah melakukan uji coba PTM, sedang daerah yang ‘hijau’ sudah mulai PTM tanpa uji coba.

Ketiga, disegi ibadah, pemerintah melarang shalat tarawih dan tadarusan di tempat ibadah dan harus dilakukan di rumah bersama keluarga inti. Ada lembaga yang menerbitkan Buku: Fikih Pandemi, Beribadah di masa Wabah, yang memberi pencerahan bagi masyarakat Muslim yang bingung dan gamang dalam melakukan ibadah di masa wabah. Itu tahun lalu.

Sedang tahun ini, Shalat Tarawih diizinkan dilaksanakan di tempat ibadah dengan penerapan protocol kesehatan dan dengan catatan tertentu: a) shalat fardhu lima waktu, shalat tarawih, witir, tadarusan dibolehkan dengan pembatasan paling banyak 50 % kapasitas; b) pengajian atau ceramah paling lama 15 menit, dll

Pengurus masjid atau mushala wajib menunjuk petugas yang memastikan penerapan protokol kesehatan seperti melakukan disenfektan secara teratur, menyediakan sarana cuci tangan di pintu masuk masjid/mushala, menggunakan masker, menjaga jarak aman, dan mengumumkan agar setiap jamaah membawa sajadah / mukena masing-masing. (SE Menag No. 04 2021).

Keempat, ramadhan tahun lalu belum ada vaksinasi,  proses pemberian vaksin ke dalam tubuh untuk mencegah penularan penyakit (Alodokter). Boleh dikatakan, kita benar benar hanya bisa mencegah dengan 3 M.

Berbeda dengan tahun ini, sudah ada vaksin yang akan membuat tubuh mengenali bakteri atau virus sehingga bisa lebih cepat memberikan perlawanan. (Alodokter). Kemenkes menyampaikan jumlah orang yang sudah divaksinasi Covid-19 di Indonesia. Hingga Minggu (28/3) pukul 15.00 WIB, 7.243.202 orang sudah menerima vaksin Covid-19 dosis pertama. Penerima vaksin Covid-19 dosis kedua sudah mencapai 3.246.455 orang. (Merdeka.com)

Kelima, pada ramadhan tahun lalu, setiap hari kita disuguhi berita dan istilah: Karantina, Lockdown, suspek, isolasi, Pasien dalam pengawasan (PDP), Orang dalam pemantauan (ODP),  ODR (orang dalam resiko), OTG (Orang tanpa gejala), Droplet, WFH, dll. Setiap hari, kita dikabari perkembangan dan data terkini Covid-19: yang terkonfirmasi positif, yang meninggal, data pasien per provinsi. Ramadhan tahun ini istilah istilah itu sudah jarang digunakan, mungkin sudah sering dan sudah hafal. Fokus kita untuk ramadhan tahun ini adalah menjalan protocol kesehatan secara ketat.

Ramadhan tahun lalu dan tahun ini juga memiliki persamaan: pertama, selalu ada statemen: Umat Islam kecuali yang sakit atau alasan syari’i lain yang dibenarkan, maka wajib menjalankan ibadah puasa Ramadhan sesuai hukum syariah dan tata cara ibadah yang ditentukan agama.

Kedua, penerapan protocol kesehatan, ini serangkaian aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui kementrian kesehatan dalam mengatur keamanan beraktivitas selama masa pandemi Covid-19. Tujuannya membantu masyarakat untuk dapat beraktivitas secara aman dan tidak membahayakan kondisi kesehatan orang lain.

Kalau tahun lalu diistilahkan 3 M, tapi tahun ini ada Gerakan 5M Covid-19 sebagai pelengkap aksi 3 M. yaitu: 1) Memakai masker; 2) Mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir; 3) Menjaga jarak; 4) Menjauhi kerumunan saat berada di luar rumah, serta 5) Membatasi mobilisasi dan interaksi.

Ketiga, melarang mudik, pemerintah resmi melarang masyarakat untuk melakukan mudik Lebaran baik tahun 2020 maupun 2021.  demi mencegah penularan virus corona Covid-19. Larangan ini diberlakukan untuk moda transportasi darat, laut dan udara. Ini diyakini menurut pemerintah, pergerakan masyarakat dalam jumlah besar secara masif bisa meningkatkan penularan Virus Corona.

Keempat, semua pihak diminta selama menjalankan ibadah puasa tahun ini adalah memperhatikan kondisi kesehatan diri dengan sebaik mungkin. Ada himbauan untuk mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang ketika sahur dan berbuka puasa, rajin konsumsi vitamin agar terjaga pola makan sehat selama pandemi Covid-19.

Meski sebagian kegiatan masyarakat ‘diperbolehkan’, tidak lagi dilarang seperti Ramadan tahun lalu, tapi alangkah bijak bila Ramadhan tahun ini tidak dihadapi dengan euforia berlebihan. Bergembira boleh, tapi bergembira untuk meningkat kekhusukkan beribadah, senang hati karena bulan ini bulan rahmat, penuh ampunan.

Mestinya disadari, bagi kebanyakan orang, Ramadhan tahun ini mungkin sama beratnya dengan Ramadhan tahun lalu. Pandemi Covid-19 menjadi ujian terberat, terasa menyiksa bagi banyak orang. Banyak dari kita yang tanpa diduga harus menerima kenyataan pahit. Dirumahkan dari tempat bekerja, omzet yang menurun drastis sehingga pemasukan terganggu, kehilangan mata pencaharian. Saat ini merupakan masa berat bagi banyak orang.

Memang ciri khas puasa itu menahan lapar dan haus, tapi selama pandemi, banyak saudara kita yang sehari-hari saja mungkin sudah terbiasa menahan lapar dan haus, akibat kehilangan pekerjaan atau berkurangnya pemasukan.

Semoga kita dan saudara saudara kita diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa dan kekuatan menghadapi hidup yang semakin sulit. Semoga pandemi ini segera berakhir.

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah