Dahulukan Pedagogik Sebelum Teknologi

Amri Ikhsan
Ist
Amri Ikhsan
Penulis: Amri Ikhsan

JERNIH.ID - Hanya Covid-19 yang memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk menghentikan proses pembelajaran di sekolah dan memaksa guru menggunakan teknologi. Selama ini memang guru sering ‘diajak’ menggunakan teknologi, tapi masih ada yang ‘enggan’ menggunakannya dengan berbagai alasan. Di new normal, mau tidak mau, suka tidak suka, guru ‘wajib’ menggunakan ‘benda’ ini. Kalau tidak, guru akan ditinggalkan siswa.

Jadi, ciri khas pembelajaran di masa pandemi adalah menggunakan teknologi. Jangan heran diawal pembelajaran daring, hal pertama dilakukan oleh guru, siswa dan orang tua adalah mengganti “HP baru” yang lebih canggih, lebih cepat (memory besar) dan lebih besar kapasitasnya (hard disk) dan kompartabel dengan platform-platform pembelajaran.

Tapi, kenyataannya banyak survei menunjukkan bahwa anak anak kelelahan dan tertekan waktu BDR (KPAI). Kemudian, survey yang dilakukan oleh Kemendikbud bersama UNICEF menyebut, sebanyak 66 persen dari 60 juta siswa dari berbagai jenjang pendidikan di 34 propinsi mengaku tidak nyaman belajar di rumah selama pandemi Covid-19. Dari jumlah tersebut, 87 persen siswa ingin segera kembali belajar di sekolah(kompas.com)

Ternyata, teknologi tidak mampu menyamankan siswa dalam belajar, kalau hanya untuk ‘kirim’ tugas. Pembelajaran itu kehangatan komunikasi guru dengan siswa, tegur sapa guru dengan siswa, dan antar siswa. Pembelajaran adalah ‘kemarahan’ guru untuk membelajarkan siswa, teguran guru untuk ‘diam’, ajakan guru untuk berpartisipasi, ocehan guru untuk kreatif, tatapan mata guru untuk memperhatikan, tunjuk tangan guru untuk motivasi, bunyi langkah sepatu guru untuk disiplin, dll.

Dirasakan bukan hal yang sulit bagi siswa untuk merubah pola pembelajaran dari dunia nyata menjadi dunia maya karena memang mereka adalah ‘penduduk asli’, digital native atau generasi digital. Tugas guru konteks ini adalah ‘memuluskan’ kecakapan digital siswa dengan kompetensi pedogogik.

Teknologi memang diciptakan untuk melengkapi dan membantu kita mengerjakan tugas dan tanggung jawab kita (untan.ac.id), namun jangan biarkan teknologi ‘bekerja sendiri’, teknologi harus ditemani dengan pedagogik untuk mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Tanpa pedagogik, teknologi hanya akan menambah kejenuhan, kebosanan, ketidaknyaman dalam proses pembelajaran

Memang, teknologi merupakan hal yang terpenting dalam pembelajaran daring (Subiyakto, B., Susanto, H., & Akmal, H., 2019). Tidak ada pembelajaran daring tanpa teknologi. Bukan PJJ namanya tanpa Google Class Room, ELearning, Edmodo, Zoom dan Google Meet. Sulit dipercaya bila keluhan PJJ, bukan masalah sinyal lelet, kuota habis, listrik mati, dll.

Kompetensi pedagogik itu ilmu guru tentang bagaimana mengajar yang bermakna bagi siswa, ilmu guru bagaimana membuat siswa merasa tidak ‘belajar’ tapi sebenarnya mereka sudah belajar. Ilmu guru bagaimana ‘membuka’ pintu kritis siswa dalam mencerna informasi dari guru, bagaimana ‘mengajak’ siswa memanfaatkan ilmu yang didapatkan untuk kehidupannya sehari hari. Bukti nyata guru menerapkan kompetensi pedagogik dalam pembelajaran adalah siswa ‘ceria’ pasca pembelajaran, wajah siswa nampak ‘bersinar’ bukti kepuasan belajar.

Dalam menerapkan kompetensi ini: pertama, guru menjadi pembimbing melalui sejumlah pengalamanbelajar yang mengesan. Ini harus direncanakan dan dirancang dengan matang sebelumnya. Layaknya seperti Tour Guide yang mencurahkan tenaganya untuk membimbing wisatawan mengalami pengalaman wisata yang menarik.

Kedua, guru itu penyemangat kelas, selalu muncul dari komunikasi guru, hal hal inspiratif yang menjaga moral positif para siswanya dengan menghadirkan tuturan-tuturan yang membuat siswa ‘terlena’ untuk belajar. Tidak cukup hanya menjadi panutan, guru perlu berperan sebagai pelatih. Guru harus bisa bergerak lebih dari sekedar memberi instruksi. Guru harus memaparkan visi, memberi pengarahan, melakukan pendekatan personal,  yangdiperlukan untuk menarik keluar potensi terbaik siswanya.

Ketiga, siswa perlu umpan balik terhadap pembelajaran mereka. Mereka butuh informasi apakah mereka sudah paham atau belum. Siswa mengharapkan umpan balik itu ‘tidak menyakitkan’ tapi menambah semangat mereka untuk belajar. Mereka ingin bercermin dari hasil belajar.

Keempat, pembelajaran online bisa terasa sangat sepi dan impersonal. Guru harus menghidupkan suasana seperti tuan rumah dari sebuah pesta dengan ‘menghidangkan menu’ yang menggairah pembelajaran, menu yang disukai ‘para tamu’. ‘Tuan rumah’ tidak boleh diam saja, dia harus memantau apakah ‘tamu’ sudah makan dan menikmati ‘hidangan’ yang disajikan. Kalau sebuah menu tidak disukai ‘siswa’, tuan rumah harus segera mengganti dengan menu baru.

Kelima, di era digital, informasi begitu banyak dan’melimpah ruah’ dan mudah diakses siswa, maka guru harus berfungsi sebagai valve control, guru harus bisa mengatur kapasitas konten yang akan disampaikan pada siswa dan memecah konten jadi segmen yang lebih kecil untuk memudahkan pemahaman siswa. (diadopsi dari Dr. Bernard Bull).

Harus diakui, belajar bukanlah proses untuk menjadikan siswa sebagai "pakar" dalam materi tertentu. Yang dibutuhkan seorang pembelajar adalah "pengalaman" dalam belajar, bukan "pengetahuan. Pembelajaran pandemi membutuhkan guru yang melakukan 'debottlenecking’ kurikulum, yakni, ‘memecah mecah’ kurikulum menjadi unit pelajaran kecil yang mampu menembus ruang-ruang kelas dan mempermudah siswa menangkap ide-ide yang rumit.

Bagi guru, kelas adalah ruang sentral interaksi dan komunikasi yang menyenangkan dan menyegarkan. Siswa selalu rindu berada dalam kelas. Hambar rasanya bila siswa ketinggalan, tidak hadir dalam pembelajaran. Kelas itu selalu menghidupkan kreativitas apapun bentuknya. Tidak ada yang dominan dalam kelas. Semua siswa diberi kebebasan tanpa tekanan untuk berpartisipasi. Tidak ada betul atau salah, tidak ada ‘angka merah’ dalam buku latihan siswa. Guru menilai bukan berbasis kunci jawaban.

Itulah kompetensi pedagogik yang mesti dikonversi dalam proses pembelajaran. Ilmu guru boleh setinggi langit, gelar guru boleh berderet deret, guru boleh ikut pelatihan ‘kesana kemari’, tapi tanpa ilmu pedagogik dalam pembelajaran, ilmu itu seperti seseorang makan dengan sayur tanpa garam, hambar.

Materi yang disampaikan tanpa pedagogik hanyalah informasi yang belum utuh. Kegiatan itu hanya mengajar tanpa belajar. Kalau mengajar tanpa belajar adalah talking (obrolan biasa).