Dukungan di Pilgub Jambi, Edi Purwanto: Kader Internal Prioritas, Namun PDIP Partai Terbuka

Edi Purwanto
Istimewa
Edi Purwanto
Pernulis: Redaksi

JERNIH.ID, Jambi - Arah dukungan PDI Perjuangan (PDIP) di Pilgub Jambi 2020, 9 Desember nanti masih jadi pertanyaan banyak pihak, apalagi di Pilgub ini PDIP mempunyai dua kader internal Safrial dan Abdullah Sani yang kini maju sebagai calon wakil.

Sejak, berhembus kabar, PDIP akan mendukung CE-Ratu, sorotan kapada PDIP makin kencang. Belakangan, ‘serangan’ lebih banyak diarahkan kepada Ketua DPD PDIP Provinsi Jambi  Edi Purwanto. Untuk menjawab semua itu, Edi Purwanto mengajak semua pihak. Terutama internal PDIP berkaca pada pengalaman ke belakang.

Menurut Edi, partainya (PDIP) tentu belajar dari pengalaman dan punya kalkulasi sendiri dalam menentukan keputusannya di Pilkada. Dalam hal ini, DPP pasti punya hitung-hitungan sendiri dalam memutuskan siapa yang akan diusung.

“Itu kewenangan DPP. Tentu DPP memutuskan demi kebesaran partai,” kata Edi saat ditemui di Gedung DPRD Provinsi Jambi, Senin (13/7) kemarin.

Soal peluang kader internal, Edi mengatakan tentu menjadi prioritas. Namun PDIP juga partai terbuka. Sebagai buktinya, PDIP membuka pendaftaran bagi seluruh calon, tanpa membedakan kader atau non kader.

“Kader tentu punya poin khusus. Namun kita juga tetap terbuka dengan calon lain. Buktinya kita buka pendaftaran secara terbuka. Kalau tidak terbuka, tentu tidak ada pembukaan pendaftaran. Langsung saja diputuskan,” katanya.

Mengenai siapa yang akan diusung, menurut dia, DPP pasti memiliki pertimbangan dengan melihat berbagai faktor. “Tentu kalkulasi ini akan mempertimbangkan siapa yang paling diyakini bisa memenangkan kontestasi ini,” lanjut Edi yang pernah maju di Pilgub 2015 lalu sebagai cawagub HBA.

Jika melihat rekam jejak di tiga Pilgub Jambi, tahun 2005, PDIP mengusung Usman Ermulan yang menggandeng Irsyal Yunus kader PDIP. Saat bersamaan, kader internal PDIP lainnya Nasrun Arbain yang maju bersama Hasip Kalimuddin Syam terpaksa ditinggal partai ini.

Lalu, di Pilgub 2010, PDIP mengusung Safrial-Agus Setyono Negoro yang berkoalisi dengan partai non parlemen. Di 2015, PDIP mengusung HBA yang berpasangan dengan Ketua DPD PDIP Edi Purwanto. Di Tiga Pilgub tersebut PDIP keok.  “Ada sebagai wakil dan sebagai cagub. Tiga-tiganya kalah. Tentu 2020, pertanyaannya masak mau kalah lagi. Cukup tiga kali kalah. DPP pasti menformulasikan, bagaimana peluangnya,” lanjut Edi.

Sekarang sudah terlihat ada potensi empat pasangan calon. Ada Fachrori-Safrial, Ada CE-Ratu, Ada Fasha-AJB atau dengan siapa dan ada Al Haris-Sani. Peluangnya bagaimana?. "Itu dikalkulasi. Tentu kami ingin merebut kekuasaan dengan cara konstitusional,” jawab Edi.

Menurut dia, PDIP sendiri sudah mengusung Abdullah Sani di dua Pilwako. Sani yang sebelumnya PNS dimerahkan saat maju Pilwako pertama. Begitu juga Safrial dimerahkan saat maju Pilkada Tanjabbar, karena sebelumnya adalah PNS. Beliau sudah diusung lima kali. Tiga kali di PIlkada, satu kali pilgub dan satu kali caleg DPR RI. Calon lainnya sebagian besar merupakan kepala daerah yang juga pernah diusung PDIP. Artinya semuanya memiliki peluang sama. Tinggal DPP pilih siapa dengan mempertimbangkan peta Pilgub di daerah tersebut.

“Artinya tidak ada kepentingan Edi di sini. Karena secara personal, saya memiliki hubungan baik dengan semua calon. Tapi, kami tentu harus memilih. DPP punya kalkulasi dan kami DPD siapapun yang direkom siap memenangkannya,” tambahnya.

Apalagi, lanjut Edi, calon yang ada saat ini semuanya sudah pernah bertemu langsung dengan DPP. Baik Fachrori, CE, Al Haris dan Fasha.