JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Dalam setahun, bulan Ramadhan menempatkan posisi sebagai bulan yang istimewa, bahkan Rasulullah mengatakan Ramadhan adalah bulan Umatku. Hal ini dikarenakan dalam bulan ini selain terdapat berbagai peristiwa sejarah Islam dan perjuangan Rasulullah bersama umat dan juga peristiwa bersejarah bagi kerasulan Nabi dengan para Malikat dan dengan Allah SWT.
Lebih istimewa lagi, Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Quran (nuzul Qur'an), di sisi lain populer juga dengan sebutan malam seribu bulan (Lailatul Qadar). Selain itu banyak sekali kandungan mutiara ibadah dalam bulan Ramadhan, yang sangat mendorong manusia beriman mencurahkan segenap waktunya untuk menunaikan ibadah sepanjang Ramadhan, bahkan ada yang melanjutkannya pasca Ramadhan.
Sekalipun betapa besarnya rahmat, berkah dan nikmat bulan Ramadhan, Rasulullah tetap saja mengingatkan, agar beribadah jangan berlebihan (eforia), karena boleh jadi dapat pula menimbulkan riya di sisi Allah.
Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Anas RA, dikisahkan "ada tiga orang yang datang menemui istri-istri Rasulullah, mereka bertanya tentang bagaimana ibadahnya Rasulullah. Lalu setelah mendapat penjelasan, mereka cenderung meremehkan ibadah yang dilakukan Rasulullah, dengan mengumbar kesombongan. Mereka menganggap ibadah Rasulullah sangat sedikit, dibandingkan dengan ibadah mereka.
Lelaki pertama mengatakan dia puasa sepanjang hari tanpa berbuka. Lelaki kedua mengatakan, dia ibadah shalat sepanjang malam tanpa istirahat. Lelaki ketiga mengatakan, dia tidak menikah selama hidupnya agar bisa fokus hanya ibadah saja.
Lalu Rasulullah mengingatkan mereka "jauhilah oleh kalian sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa disebabkan sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama.
Selanjutnya rasulullah menjelaskan bahwa, aku berpuasa sepanjang hari tetapi aku sempatkan berbuka, aku beribadah sepanjang malam, tapi aku sempatkan tidur memberi hak atas jasad untuk istirahat, dan aku menikah untuk kesenangan dan kenikmatan dunia.
Rasulullah telah memberi uswah, setiap kita boleh saja beribadah seoptimalnya dan sesuaikan batas mampu kemanusiaan, bukan berlebihan yang dapat merampas hak-hak dasar manusia baik hak-hak atas pisik maupun hak ruhiyah untuk hidup secara normal. Hanya perlu pengaturan dan mengikuti norma-norma agama yang baku dalam pelaksanaanya, bukan atas dasar maunya pribadi.
Hal ini sangat penting, karena betapa banyak orang beragama, mendalami ajaran Islam bahkan penghapal Quran sekalipun, diingatkan rasulullah mereka beragama hanya sebatas lisan dan kerongkongan belaka (qauli) , dan tidak masuk dalam hati (qalbi) dan tidak membekas dalam perilaku kemanusiaan (fi'li), inilah yang dikenal dengan "eforia beragama". Tetapi tidak bernilai, tidak memiliki ruh dan spirit yg menghidupkan kemanusiaan.
Maka Allah ingatkan, Umat Islam adalah "umatan Washata", umat yg tengah, Artinya umat mulia, umat terpilih yang harus menempatkan dirinya secara kesetimbangan. Kesetimbangan itu seperti segitiga sama sisi, dimana ketiganya ditempatkan dalam diri secara simultan, yakni: Allah dan sunah Rasul serta Al-Qur'an yg dijadikan hudan disepanjang kehidupan yg fana untuk menuju hidup keabadian yang kekal selamanya. Semoga berkah. Aamiin.