Fenomena Politik Identitas dalam Pilkada, dan Politik Uang yang Meresahkan Bangsa dan Negara

Penulis: Redaksi , Editor: Muhammad Sapi'i - Selasa, 19 Juli 2022 , 18:52 WIB
Ilustrasi surat suara
Istimewa
Ilustrasi surat suara


Dalam dunia politik negara Indonesia ini terdapat salah satu istilah yang disebut dengan politik identitas, khususnya politik identitas dalam pilkada. Politik identitas ini menjadi salah satu fenomena yang ramai dan dijadikan sebagai suatu strategi khusus dalam pemilihan umum di Indonesia.

Tetapi, sebelum masuk lebih dalam ada baiknya apabila mengetahui arti dari politik identitas itu sendiri. Apa maksud dari politik identitas? Politik identitas adalah istilah yang mengarah kepada bentuk kepentingan untuk kelompok tertentu berdasarkan kesamaan identitas, seperti gender, budaya, agama, dan lain-lain. Sekarang mari membahas lebih jauh lagi mengenai politik identitas pilkada, dan juga kondisi politik lainnya di Indonesia.

Politik Identitas di Indonesia

Strategi dalam politik identitas, bentuknya yaitu berupa strategi yang berusaha menjatuhkan lawan dengan segala hal yang berhubungan dengan identitas yang dimiliki. Ini termasuk pertentangan yang sangat kurang baik.

Dikarenakan adanya pertentangan dari dua identitas akan menciptakan berbagai konflik yang mana hal itu akan berdampak buruk pada kestabilitasan Republik Indonesia. Sudah ada beberapa kasus-kasus politik identitas bukan hanya di tahun ini ataupun sebelumnya, tetapi juga ada kasus politik identitas pilkada 2020, dan sebelum-sebelumnya.

Dampak Politik Identitas

Politik identitas juga menjadi sebuah senjata utama dalam mendapatkan suara. Intinya, apabila ada kelompok yang punya suara paling banyak sedang diserang ataupun merasa tak diuntungkan dari aspek politik, politik identitas adalah rencana utamanya. Identitas ini dibentuk dari sedikitnya tiga hal, yaitu primordialisme, instrumentalisme, dan konstruktivisme.

Politik identitas membentuk dampak buruk pada masyarakat dan juga Negara. Dampak politik identitas di Indonesia yang perlahan demi perlahan akan menghancurkan keutuhan Negara yaitu antara lain :

1. Ketentraman Negara Terancam

Kasus politik identitas akan terus digerus dengan tujuan agar kontestan politik dapat memenangkan pilkada dan akan tetap melakukan apapun untuk hal itu. Ini juga akan mempengaruhi ideologi negara dan mengancam ketentraman bangsa.

2. Menciptakan Adu Domba

Primordialisme yang terus diutamakan dan menganggap orang lain adalah suatu inferior akan menimbulkan perpecahan. Isu yang sensitif seperti ini juga menyebabkan adanya adu domba yang tidak baik.

3. Lunturnya Pluralisme

Pluralisme atau kesediaan dalam menerima berbagai perbedaan dan keberagaman juga akan luntur. Masyarakat lebih mengedepankan etnosentrisme ketimbang hidup dengan toleransi di antara perbedaan.

4. Adanya Polarisasi

Politik identitas juga akan menimbulkan adanya Polarisasi. Polarisasi adalah kondisi dimana keadaan masyarakat terasa ada di dalam kotak-kotak. Ini akan mempersulit hubungan di antara masyarakat sekaligus menjadi akibat hilangnya sikap pluralisme.

5. Terus Terjadi Perselisihan

Dengan adanya klaim kekuatan dari kelompok-kelompok yang tidak ada habisnya akan membawa ke arah perselisihan. Sehingga perlu adanya pendidikan mengenai multikulturalisme.

Politik Uang

Dalam pemilihan umum juga tak lepas dari kasus-kasus lain seperti politik uang. Pada tahun 2020, kasus-kasus politik seperti politik uang pilkada DKI masih seolah-olah menjadi tren. Dilansir dari website Bawaslu, terdapat sejumlah laporan yang berisi hingga 15 dugaan kasus pelanggaran pidana, termasuk kasus politik uang.

Kasus politik identitas dan politik uang dalam pilkada ini tentunya berpengaruh buruk. Terdapat paling sedikit tiga dampak akibat dari kasus politik uang, diantaranya yaitu yang paling utama berupa pidana penjara serta denda, adanya manajemen pemerintahan yang tergolong korup, dan juga rusaknya paradigma negara sebagai akibat dari politik uang.

Adanya Money Politic atau politik uang ini juga menjadi cikal bakal dari praktik korupsi. Politik uang pilkada Jakarta semakin hari menjadi lebih merajalela. Hal ini semakin parah dengan ditambahnya peran masyarakat yang tidak aktif dan tidak peduli dengan fenomena politik uang.

Fenomena politik dalam pemilu sering kali menjadi suatu hal yang sulit untuk dikondisikan. Bahkan terkadang ada perubahan-perubahan yang mengejutkan dalam hal pemilu, sebagian besar dikarenakan semakin membludaknya jumlah masyarakat yang berpartisipasi.

Salah satu kabar politik terkini Indonesia terkait pemilu, dilansir dari CNN Indonesia yaitu ditemukannya data sementara 2022 dengan jumlah pemilih hingga mencapai 190 juta orang untuk pemilu 2024. Meskipun begitu, data tersebut masih diupayakan untuk evaluasi dan diperbarui.

Berita Politik Online Indonesia

Berbicara mengenai dunia politik dan politik identitas dalam pilkada, kini terdapat partai-partai politik yang sudah mempersiapkan pemilihan umum tahun 2024 nanti. Dikutip dari Kompas.com, terpantau sudah ada 45 partai politik yang terdaftar pada sistem informasi parpol pemilu 2024.

Data ini didapat dan dicatat pada Selasa, tanggal 12 Juli 2022 pukul 5 sore hari. Di dalamnya termasuk partai Nasional, dan juga parpol lokal Aceh. Mengenai hak pilih, ketua dari KPU juga menginginkan semua WNI dengan pemenuhan syarat bisa turut serta dan memiliki hak pilih pada pemilu 2024 nanti.

Selain itu, ada salah satu info publik pemilu KPU dari Badan Pengawas Pemilihan Umum mengenai masih adanya revisi serta evaluasi lanjutan terhadap regulasi pengawasan pemilu 2024. Evaluasi di sini ditekankan pada sumber daya manusia di Indonesia. Berbagai divisi juga turut serta melakukan evaluasi.

Kondisi atau Kasus Politik Indonesia Terkini

Dilansir dari Suara Jateng, menurut survei pada tanggal 16 sampai 24 Juni 2022 yang
mengikutsertakan peran masyarakat, menilai bahwa situasi dan kondisi kasus politik Indonesia saat ini lebih baik dan rendah jika dibandingkan waktu sebelumnya. Pada survei bulan April 2022, kasus- kasus politik Nasional lebih buruk.

Kini masyarakat telah menilai adanya pandangan positif pada situasi politik di Indonesia. Adanya penilaian survei bulan April yang mendapati bahwa kondisi politik Indonesia yang buruk tersebut kebanyakan diakibatkan oleh beberapa faktor.

Faktor yang melatarbelakangi yaitu antara lain, isu penundaan pemilu, perpanjangan masa jabatan dari presiden, serta permasalahan yang sempat ramai yaitu mengenai minyak goreng. Meskipun demikian, presiden telah memberi respons bahwa pemilu pada 2024 akan tetap terus berjalan. Itu adalah beberapa berita politik Indonesia yang terjadi akhir-akhir ini.

Berbagai kasus dalam dunia politik seperti yang sudah dijelaskan di atas seperti fenomena politik identitas di Indonesia dan juga politik uang tentu menjadi tantangan tersendiri. Baik bagi masyarakat maupun bangsa dan juga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tantangan ini juga perlu secepatnya ditemukan solusi agar situasi demokrasi yang sudah tercipta dapat dimanfaatkan sesuai dengan
koridor dunia hukum di Negara Indonesia.

Kondisi politik Indonesia saat ini yang sudah banyak dicemari oleh kasus seperti politik identitas dan politik uang menjadikan banyaknya pertengkaran, dan pertentangan berkedok persatuan. Seiring berjalannya waktu, semboyan Bhinneka Tunggal Ika semakin dilupakan.

Seperti yang diketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara yang sangat beraneka ragam. Semua suku bangsa, ras, dan agama berbeda-beda, tetapi meskipun terdapat banyak perbedaan semua harus tetap satu tujuan.

Maka dari itu sangat penting untuk memiliki toleransi dan tidak membeda-bedakan asal bukan penyimpangan, serta bersatu dalam membangun negara yang baik dan makmur. Itulah pembahasan untuk anda tentang politik identitas dalam pilkada, kasus-kasus politik, dan berita politik saat ini.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID