Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP Oleh: Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP
Pengertian kearifan lokal, ketika dilihat melalui kamus bahasa Inggris - Indonesia, terdiri dari dua komponen kata, yaitu "kearifan" yang setara dengan "wisdom" dalam bahasa Inggris, dan "lokal" yang memiliki arti "local." Dengan demikian, kita dapat mengartikannya sebagai konsep, nilai, atau pandangan yang bersumber dari lingkungan setempat yang cerdas dan bijaksana, yang diyakini memiliki nilai positif, dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Dalam konteks disiplin antropologi, istilah "kearifan lokal" juga sering dikenal dengan istilah "local genius" atau "culture identity." "Local genius" merujuk pada kecerdasan dan kebijaksanaan yang khas bagi suatu kelompok masyarakat tertentu, yang tercermin dalam pandangan hidup, kebiasaan, serta nilai-nilai yang unik bagi kelompok tersebut. Di sisi lain, "culture identity" mengacu pada identitas atau jati diri budaya suatu bangsa yang memungkinkan mereka untuk menyerap dan mengolah pengaruh budaya asing sesuai dengan karakter dan potensi mereka sendiri (Ayatrohedi, 1986: 18-19).
Dengan demikian, pemahaman mengenai kearifan lokal mengacu pada kebijaksanaan yang bersumber dari lingkungan setempat, serta pemahaman dan penghargaan terhadap identitas budaya suatu komunitas. Ini mencerminkan kapasitas masyarakat untuk mempertahankan warisan budaya mereka sambil tetap terbuka terhadap pengaruh luar yang dapat disesuaikan dengan karakter mereka sendiri. Kearifan lokal adalah dasar untuk pengambilan kebijakan pada level lokal di bidang kesehatan, pertanian, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam dan kegiatan masyarakat.
Kearifan budaya lokal juga mengacu pada aspek budaya yang terkait dengan masyarakat tertentu yang mendiami suatu lokasi atau daerah khusus. Budaya ini sering kali berbeda dari budaya yang dimiliki oleh masyarakat di tempat lain. Pengertian ini juga tercakup dalam Pasal 1 dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2007, di mana budaya daerah diartikan sebagai sebuah sistem nilai yang dianut oleh komunitas atau kelompok masyarakat tertentu di suatu daerah.
Sistem nilai ini diyakini mampu memenuhi harapan warga masyarakat, dan dalamnya terdapat beragam nilai, sikap, serta tata cara masyarakat yang diyakini mampu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
Dalam masyarakat kita, jejak kearifan lokal dapat ditemukan melalui beragam manifestasi, termasuk dalam bentuk nyanyian, pepatah, petuah, semboyan, kitab-kitab kuno, ritual-ritual, legenda, dan juga norma-norma atau hukum yang berlaku di wilayah setempat. Melalui berbagai bentuk ini, kearifan lokal menjadi identitas dan roh yang menghidupi budaya lokal. Kearifan lokal dianggap sebagai jiwa yang membentuk kerangka budaya di tingkat lokal. Kearifan lokal hadir dalam dua wujud utama: tekstual dan berwujud. Wujud tekstual mencakup pengetahuan yang tertulis dalam bentuk kitab-kitab kuno dan primbon. Bentuk-bentuk ini mencatat nilai-nilai, pengetahuan, dan hikmat yang diteruskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, wujud berwujud mencakup semua objek yang dapat dilihat dan dirasakan secara fisik, seperti bangunan candi yang melambangkan warisan sejarah, serta seni seperti batik yang menjadi simbol budaya yang hidup. Namun, ada pula kearifan lokal yang tidak tampak secara fisik. Ini mencakup petuah lisan yang diteruskan dari mulut ke mulut, serta nyanyian dan kidung yang mengandung nilai-nilai ajaran tradisional. Kearifan semacam ini adalah bentuk kearifan yang lebih abstrak, tetapi memiliki pengaruh yang dalam dalam membentuk karakter dan nilai-nilai masyarakat lokal.
Berdasarkan uraian tentang kearifan lokal di atas, penulis tertarik mengaitkan dengan fenomena yang ada saat ini yaitu, Kenduri Swarnabhumi 2023 dengan memilih tema yang menggambarkan komitmen untuk menghubungkan kembali masyarakat dengan warisan peradaban sungai dan hutan, yang memiliki makna mendalam dalam konteks Adat Melayu Jambi. Tema ini mencerminkan tekad untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan, serta mengenang akar budaya yang telah membentuk jati diri masyarakat. Tema "Menghubungkan kembali masyarakat dengan peradaban sungai, hutan, dalam kesatuan Adat Melayu Jambi", menyoroti nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam cara berhubungan dengan alam sekitar. Sungai dan hutan adalah unsur-unsur alam yang memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam budaya Melayu Jambi. Oleh karena itu, tema ini mengajak masyarakat untuk kembali menghargai serta menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar.
Tak hanya di Muarojambi, tetapi juga di berbagai kabupaten lain di Provinsi Jambi, rangkaian kegiatan Kenduri Swarnabhumi 2023 dilaksanakan. Ini menunjukkan upaya yang luas dalam mempromosikan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam memelihara dan membangun kembali ikatan dengan nilai-nilai adat dan lingkungan alam sekitar. Dengan melibatkan berbagai wilayah, acara ini membawa dampak positif yang lebih luas dan mendalam dalam pelestarian budaya dan kearifan lokal. Tema yang kuat dan pelaksanaan yang melibatkan berbagai daerah di Provinsi Jambi merupakan langkah konkret dalam menjaga warisan budaya dan alam. Ini juga menunjukkan komitmen yang mendalam dalam merawat serta memperkuat identitas lokal melalui pemberdayaan masyarakat dan pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan manusia dengan alam dan budaya. Gubernur Jambi, Al Haris, membuka secara resmi acara Sedekah Adat Empat Lawang Sejarangan yang diselenggarakan di Candi Muaro Jambi, Marosebo, Kabupaten Muarojambi, pada hari Minggu tanggal 6 Agustus 2023. Acara ini menjadi bagian integral dari rangkaian Kenduri Swarnabhumi 2023 yang tengah berlangsung. Pertemuan adat ini menjadi tempat berkumpulnya banyak tokoh penting, di antaranya adalah Penjabat (Pj) Bupati Muaro Jambi, Bachyuni Deliansyah, serta sejumlah pejabat dari Direktorat Kelembagaan di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
Dalam sambutannya, Gubernur Al Haris menyampaikan pentingnya acara Sedekah Adat Empat Lawang Sejarangan ini sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Acara ini memberikan wadah bagi masyarakat untuk bersama-sama merayakan dan mengapresiasi nikmat-nikmat yang telah diberikan. Melalui acara ini, tradisi dan adat istiadat yang khas daerah menjadi semakin berarti, menjadi wujud penghormatan terhadap sejarah, serta memelihara akar budaya yang telah tertanam dalam komunitas. Acara seperti ini juga mencerminkan semangat kolaborasi dan keterlibatan pemerintah dalam menjaga dan merawat warisan budaya lokal. Melalui kegiatan ini, diharapkan budaya daerah terus dikenal dan dilestarikan, serta menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang. Al Haris berharap bahwa acara Sedekah Adat Empat Lawang Sejarangan dapat berjalan dengan lancar, seiring dengan pembukaan resmi Kenduri Swarnabhumi. Kita berharap agar semua agenda kenduri ini diberkahi dan dilancarkan oleh Allah. Dalam pandangannya, cinta dan apresiasi terhadap kearifan lokal memiliki peran yang sangat penting.
Gubernur Al Haris mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya menjadi peserta pasif dalam acara-acara adat seperti Sedekah Adat Empat Lawang Sejarangan, tetapi juga untuk mendalami dan mencintai warisan budaya serta menggali sejarah kebudayaan nenek moyang yang berharga. Menurutnya, mengenali sejarah kebudayaan leluhur adalah cara untuk memahami akar identitas suatu komunitas. Dengan mengetahui asal-usul, nilai-nilai, dan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang, masyarakat dapat lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya yang unik.
Di era globalisasi seperti saat ini, menjaga kearifan lokal menjadi semakin penting karena ini adalah bagian integral dari identitas suatu daerah, juga memberikan jati diri yang membedakan dari budaya lainnya. Dalam konsep pembangunan dan pengembangan daerah, peran pemimpin memiliki arti yang sangat penting dalam mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh daerahnya. Pemimpin bertindak sebagai pemandu dan penjaga warisan budaya, serta memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan bahwa aspek-aspek penting dari kearifan lokal tetap terpelihara seiring dengan perkembangan zaman. Pemimpin di sini tidak hanya mencakup pemimpin pemerintah, tetapi juga tokoh-tokoh masyarakat, budayawan, dan semua yang memiliki pengaruh dalam komunitas. Tugas pemimpin dalam mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal meliputi:
1. Pemberdayaan Masyarakat: Pemimpin harus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam melestarikan dan memelihara warisan budaya. Ini dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, dan dukungan untuk mengaktifkan praktik-praktik tradisional.
2. Pengenalan dan Pendidikan: Pemimpin perlu menyadari bahwa pemahaman masyarakat terhadap kearifan lokal sangat penting. Pendidikan dan pengenalan mengenai nilai-nilai budaya dan sejarah dapat membantu masyarakat menghargai warisan budaya dan merasa terlibat dalam menjaga tradisi.
3. Pengintegrasian dalam Pembangunan: Pemimpin harus memastikan bahwa kearifan lokal diintegrasikan dalam rencana pembangunan daerah. Ini bisa mencakup upaya seperti mempromosikan produk-produk lokal, mendukung kegiatan seni dan budaya, serta mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang menghargai nilai-nilai lokal.
4. Kerja Sama dengan Pihak Terkait: Pemimpin perlu bekerja sama dengan institusi pendidikan, organisasi budaya, dan pihak terkait lainnya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pelestarian dan pengembangan kearifan lokal.
5. Perlindungan Lingkungan dan Sumber Daya Alam: Banyak kearifan lokal terkait erat dengan lingkungan dan sumber daya alam. Pemimpin harus mempromosikan praktik-praktik yang berkelanjutan untuk menjaga alam dan sumber daya yang berkontribusi pada budaya lokal.
6. Inovasi dalam Tradisi: Pemimpin juga dapat menginspirasi inovasi dalam tradisi yang memungkinkan nilai-nilai lama tetap relevan dalam konteks modern. Ini dapat membantu menghidupkan kembali kearifan lokal dan membuatnya tetap berarti bagi generasi baru.
Dalam esensi, pemimpin berperan sebagai penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan suatu daerah. Melalui kebijakan, dukungan, dan contoh yang diberikan, mereka dapat memainkan peran vital dalam menjaga kearifan lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan perkembangan suatu daerah. Pemimpin itu ibarat sebatang pohon, batangnya besak tempat bersandar, daunnya rimbun tempat berlindung ketiko hujan, tempat berteduh ketika panas, akarnya besak tempat besilo, pegi tempat betanyo,balik tempat babarito. Sebagai sebuah kesatuan, pohon yang kokoh mencerminkan gambaran pemimpin yang tangguh dan mampu menjaga, melindungi, dan memberi arah kepada masyarakatnya. Dengan memahami peran ini, pemimpin dapat menjadi teladan yang kuat dalam melestarikan kearifan lokal, mengatasi tantangan, dan membawa kemajuan untuk komunitas yang mereka layani. Mantap.
(Penulis merupakan Tenaga Ahli Gubernur Bidang Tata Kelola Pemerintahan)