Kombinasi Akademisi dan Ekspertis Perbankan Masuk Bank Jambi: Jadi Amunisi Baru Perkuat Pengawasan

Penulis: Redaksi , Editor: Ardy - Jumat, 02 Oktober 2026 , 13:47 WIB
Gedung Mahligai Bank 9 Jambi Gedung Mahligai Bank 9 Jambi


JERNIH.ID, ​JAMBI – Masuknya dua komisaris independen baru di jajaran pengurus PT Bank Pembangunan Daerah Jambi (Bank Jambi) dinilai sebagai langkah strategis. Kehadiran figur kompeten ini diyakini mampu memperkuat fungsi pengawasan sekaligus mendongkrak penerapan tata kelola perusahaan yang semakin optimal.

​Dua figur anyar tersebut masing-masing adalah Dr. Fitriaty, S.E., M.M. dan H. Ahmad Jais, S.E., M.E.I. Keduanya membawa latar belakang serta pengalaman berbeda yang dinilai saling melengkapi dalam mengawal arah kebijakan bisnis Bank Jambi ke depan.

​Pengamat perbankan sekaligus akademisi STIE Jambi, Laila Farhat, S.E., M.M., memandang positif perpaduan latar belakang kedua komisaris tersebut. Menurutnya, sinergi ini menjadi modal kuat bagi bank pelat merah itu dalam memperketat fungsi pengawasan internal.

​Laila menjelaskan, pengalaman Dr. Fitriaty di dunia akademik mampu menghadirkan perspektif konseptual yang objektif dalam membedah berbagai isu strategis. Di sisi lain, rekam jejak panjang Ahmad Jais di lingkungan Bank Jambi memberikan keunggulan berupa pemahaman mendalam terkait karakteristik bisnis dan dinamika operasional perbankan daerah.

​“Dari perspektif governance, kombinasi seperti ini cukup menarik. Latar belakang akademik memberikan pengayaan konseptual dan objektivitas, sementara pengalaman panjang di industri perbankan memberikan pemahaman praktis terhadap proses bisnis serta dinamika organisasi,” ujar Laila saat dihubungi, Jumat (2/10/2026).

​Lebih lanjut, Laila menegaskan bahwa posisi komisaris independen sangat krusial dalam mekanisme check and balance perusahaan. Peran utama mereka adalah mengawasi setiap kebijakan maupun kinerja manajemen agar senantiasa berjalan di atas prinsip tata kelola yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).

​Kompetensi dan jam terbang komisaris menjadi fondasi utama untuk memastikan pengelolaan bank tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking), manajemen risiko yang matang, tingkat kepatuhan yang tinggi, serta melindungi kepentingan seluruh pemangku kepentingan.

​“Komisaris independen memastikan pengelolaan bank tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, manajemen risiko, kepatuhan, dan kepentingan seluruh pemangku kepentingan,” tambahnya.

​Tantangan perbankan daerah saat ini dinilai tidak lagi sebatas mengejar angka pertumbuhan aset, himpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), maupun ekspansi penyaluran kredit. Aspek fundamental seperti kualitas aset, likuiditas, permodalan, dan efektivitas manajemen risiko memegang porsi yang sama pentingnya.

​Laila mengingatkan agar ekspansi bisnis yang dilakukan manajemen senantiasa berada dalam koridor yang sehat demi menjaga kepercayaan publik. Terlebih, sebagai Bank Pembangunan Daerah, Bank Jambi mengemban misi vital sebagai penggerak intermediasi keuangan dan ekonomi masyarakat.

​“Bank tidak cukup hanya tumbuh secara bisnis. Pertumbuhan harus berkualitas dan sustainable. Karena itu, fungsi komisaris sangat penting untuk memastikan ekspansi bisnis tetap berada dalam koridor prudential banking,” tegasnya.

​Menghadapi lanskap industri perbankan yang bergerak semakin cepat, penguatan aspek Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) menjadi sebuah keniscayaan. Tantangan seperti digitalisasi layanan, penguatan keamanan siber, hingga peningkatan kualitas pelayanan nasabah menuntut kesiapan ekstra dari jajaran manajemen.

​Laila optimistis, perpaduan sudut pandang akademik dan pengalaman praktis dari kedua komisaris baru ini mampu menjawab tantangan tersebut. Publik, kata dia, menaruh ekspektasi tinggi agar kehadiran mereka memberikan nilai tambah (value added) bagi kinerja Bank Jambi secara keseluruhan.

​“Pada akhirnya, tata kelola yang baik akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan bank yang sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*/JR2)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID