Madrasah Kehidupan: Ikhtiar dan Tafakur

Penulis: Redaksi - Senin, 03 Juni 2024 , 18:00 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Oleh: Amri Ikhsan

Rasanya tidak ada di dunia ini yang datang begitu saja, pasti ada usaha dan ikhtiar untuk mewujudkan suatu keinginan. Bahkan, manusia harus melakukan tritunggal untuk memastikan sebuah keinginan: ikhtiar, berdoa dan kemudian tawakal .

Tritunggal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, sehingga dalam mencapai suatu hal atau memenuhi kebutuhan, ketiganya perlu dilakukan bersamaan (Cantika). Secara hierarhi, ikhtiar menduduki posisi pertama dilanjutkan dengan berdoa kemudian dimantapkan dengan tawakal.

Jika ikhtiar artinya usaha sebaik-baiknya, maka makna tawakal lebih mengacu pada menyerahkan hasil dari kerja keras kita pada Allah SWT. Tawakal mengarahkan kita untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT (Juliandi, 2014). Dalam konteks menjalin sebuah hubungan, ikhtiar berarti ada usaha untuk berkomunikasi, berinteraksi dengan seseorang. Apabila semua informasi tentang diri kita sudah disampaikan, maka waktunya kita bertawakkal, artinya berserah diri kepada Yang Maha Kuasa.

Harus diakui bahwa, dalam berikhtiar untuk meraih apa yang diusahakan tentu tidaklah mudah. Karena kita akan menghadapi berbagai tantangan dan rintangan. Dalam menjalin sebuah hubungan, misalnya, menyakinkan orang lain tidaklah mudah, apalagi untuk menyatukan perasaan dan hati. Tidak bisa dengan ‘pembicaraan biasa’, tapi harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan percaya diri tinggi dan tentu megutamakan kejujuran, sehingga hubungan tersebut transparan, alamiah dan tidak ada yang ditutup tutupi.

Dalam menjalin sebuah hubungan, misalnya, kita tidak boleh menjalani hidup layaknya kapas dibawa angin, menerima begitu saja pendapat orang lain tanpa mempertimbangkan apakah pendapat itu benar atau salah. Kadang kadang niat orang baik ingin membantu, tapi seringkali kita terbebani karena terpaksa mengikuti pendapat orang lain yang beragam ‘permohonan’. Tapi, juga tidak elok bagitu percaya dengan perasaan dan pendapat sendiri. Atau tidak mau menerima nasehat atau saran orang lain.

Tentu saja kedua sikap ini akan memunculkan konsekwensi dan bisa menimbulkan masalah. Dalam situasi tertentu, sebagian kita tidak menyadari kita mengambil sikap yang kurang tepat. Secara emosional, kita cenderung menjalani hidup tanpa mau berpikir untuk mengevaluasi kehidupan atau sebuah hubungan yang sedang kita jalani.

Menjalani hidup atau secara khusus melakukan sebuah hubungan khusus tanpa pernah melakukan evaluasi sebenarnya sama dengan tidak pernah melakukan apapun. Karena tanpa evaluasi, kita tidak pernah tahu apakah yang telah kita lakukan itu benar atau salah. Tanpa evaluasi, kita juga tidak mengetahui target apa yang sudah dicapai dan kemana target selanjutnya perlu diarahkan. Itu sebabnya, orang yang tidak pernah melakukan evaluasi tidak akan pernah menghasilkan apapun secara memuaskan.
Oleh karena itu, kita perlu tafakkur adalah salah satu cara melakukan evaluasi.

Tafakkur merupakan proses berpikir dan merenung secara mendalam dan menghasilkan berbagai manfaat bagi pelakunya. Melalui tafakkur, kita dapat mengevaluasi apakah kehidupan yang telah kita jalani ini benar atau salah (Hanafi. 2021). Hasil evaluasi ini memberikan kita petunjuk untuk mempertahankan dan melanjutkan kegiatan atau hubungan yang sedang kita jalani selama ini.

Tafakur itu mensengajakan melakukan perenungan secara khusus untuk menindaklanjuti tindakan kita selama ini. Tafakur itu bisa jadi forum bagi kita untuk melihat kembali tuturan apa yang sudah disampaikan, perbuatan apa yang sudah diperbuat, pemikiran dan pandangan apa yang sudah disampaikan. Ini juga termasuk bahasa non verbal yang sudah kita tunjukkan.

Secara umum, mengevaluasi apa yang ada dalam diri kita sendiri atau untuk mencari, menemukan secara seksama atau mencari tahu hakikat diri untuk mengenal diri sendiri (Enghariano, 2019). Apakah diri bermanfaat bagi orang lain atau malah memberi beban. Kita wajib mencari tahu apakah keberadaan kita menyusahkan orang lain, komunikasi yang dijalin selama ini malah membuat orang tidak nyaman. Atau interaksi yang terjadi selama ini membuat orang lain menjadi benci dan membuat ‘dia’ terkucil.

Merenung dalam konteks tafakur adalah untuk memikirkan sesuatu secara mendalam dan terkadang ini akan menghasilkan penjernihan pikiran (Ar Rozi). Ini bisa menjadi media untuk membuat keputusan ‘penting’, yang mungkin sedang ditunggu tunggu orang lain. Bisa jadi keputusan kita dalam bertafakur sangat berharga dan dinanti nanti pihak lain.

Dilain pihak, tafakur dalam proses pembelajaran merupakan suatu proses dari akal pikiran guru dalam mengintropeksi diri dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Merenung dalam proses ini lebih banyak bercermin kepada siswa bukan pada teks teori dan aturan. Bisa jadi guru sudah menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang berlaku, namun hal ini belum tentu terkoneksi pada kompetensi dan performa siswa.

Bila seorang guru sudah menjelaskan sesuatu kepada siswa, misalnya, tapi cenderung lamban direspon siswa, guru harus bertafakur mencari tahu bagaimana hal ini bisa terjadi, apa yang salah dengan komunikasi guru, atau memperkaya pembelajaran dengan hal hal kreatif dan inovatif. Dan yang terpenting, tafakur bukan saja merenung atau berpikir, tapi harus ada aksi nyata untuk mengatasi hasil renungan itu.

Hasil renungan guru juga tidak boleh dibiarkan begitu saja, diskusi dengan kolega juga bisa dilakukan. Hasil renungan yang sama tidak jarang juga dihadapi oleh guru yang lain, maka dengan diskusi bersama sama dan masukan dari guru yang lain, solusi terbaik bisa dapatkan dan bisa dimplementasikan dalam proses pembelajaran.

Begitu juga bertafakur dalam menjalin hubungan dengan seseorang, kedua insan manusia lebih banyak menggunakan hati, jiwa, dan akal untuk menjembatani hubungan ini. Tafakur dalam konteks tidak hanya merasakan sensasi kekinian tapi lebih memandang prospek masa depan, karena memang tujuan hubungan ini adalah menyiapkan insfrastruktur masa depan berbasis kebersamaan dan ridho Allah SWT.

Dalam konteks pembelajaran atau hubungan dengan seseorang, kesadaran kedua belah pihak (guru dan siswa atau dua insan manusia) untuk mendapatkan bukti kesadaran bahwa kedua belah pihak serius dalam bertafakur ini. Tidak boleh ada pihak yang ‘main main’ atau mempermainkan hasil tafakur ini, dan sangat riskan dalam memperoleh kepercayaan.

Akhirnya dengan bertafakur dengan sempurna, kita bisa menempatkan diri sesuai dengan kondisi, potensi diri sehingga hasil final dari tafakur bisa menjadi pencerahan kedua belah pihak dan menjadi pemicu melenjitkan prestasi siswa dan memantapkan pilihan dalam mendisain masa depan sebuah hubungan.

Kalau kita rutin melakukan tafakur, diharapkan kita memiliki; 1) emosi yang lebih stabil, dan akan terhindar dari emosi negatif seperti marah, sombong, dengki; 2) pikiran dan perilaku menjadi positif; 3) mendapatkan hikmah dan ilmu dan tidak mengkambinghitamkan orang lain, mampu mendudukkan perkara di tempat yang semestinya; 4) meningkatkan kebaikan dengan sikap yang rendah hati, toleransi, perhatian, suka menolong orang lain dan sikap terpuji lainnya (iain-tulungagung.ac.id).

Ikhtiar sudah dilakukan, doa sudah dipanjatkan, dan bersikap tawakkal, dilanjutkan dengan tafakur, ditunggu keputusan final. Wallahu a'lam bish-shawab!

(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)

Tag:


PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID