Menganal Pasangan Ilmuwan Muslim Asal Turki Penemu Vaksin Covid-19

dr Ugur Sahin dan Ozlem Tureci
Istimewa
dr Ugur Sahin dan Ozlem Tureci
Pernulis: Redaksi

JERNIH.ID - Dua orang Ilmuwan Muslim, dr Ugur Sahin dan Ozlem Tureci yang juga merupakan pasangan suami isteri di Jerman ini mampu menemukan vaksin Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dengan klaim 90 persen efektif mencegah virus Covid-19.

Keberhasilan ini berawal pada Januari 2020 saat dr Sahin membaca sebuah artikel tentang Corona di sebuah jurnal kesehatan yang menjadikannya yakin bahwa virus yang saat itu menyebar cepat di China akan menjadi pandemi global. Ia pun mulai mengerjakan misi yang disebut Proyek Lightspeed, menggunakan teknologi messenger RNA untuk mengembangkan vaksin.

“Vaksin ini bisa menjadi permulaan dari berakhirnya pandemi Covid-19,” kata dr Sahin dikutip dari New York Time, Selasa (10/11/2020).

Sahin (55 tahun) adalah pria kelahiran Turki dan pindah ke Jerman pada umur 4 tahun bersama orang tuanya yang bekerja di sebuah perusahaan Jerman. Semenjak kecil, ia bercita-cita menjadi seorang dokter. Ia bertemu dengan istrinya, dr Tureci (53 tahun) kelahiran Jerman dari pasangan warga negara Turki yang menjadi imigran dari Istanbul. Saat ini dr Turcei lah yang dipercaya sebagai pimpinan BioNTech milik mereka.

Pada awalnya pasangan ini fokus pada penelitian dan mengajar di antaranya di Universitas Zurich. Di universitas inilah Sahin bekerja di Laboratorium Rolf Zinkernagel dan memenangkan penghargaan Nobel di bidang kesehatan pada 1996. Pada tahun 2019, Sahin juga mendapatkan penghargaan Mustafa Prize, sebuah lembaga di Iran yang memberikan penghargaan pada ilmuwan Muslim.

Keberhasilan dua ilmuwan keturunan Turki ini patut dirayakan di tengah permasalahan yang memprihatinkan tentang imigran di negara-negara Eropa, termasuk Jerman. Momentum ini menjadi contoh kecemerlangan dan kesuksesan integrasi.

Seorang anggota Parlemen di Jerman, Johannes Vogel pun mentweet bahwa tidak akan ada BioNTech Jerman yang dibangun Ugur Sahin dan Ozlem Tureci jika masalah imigrasi digantungkan pada partai sayap kanan Alternatif Jerman. Adanya perusahaan ini, menjadikan Negeri Bavaria sebagai negara imigrasi, ekonomi pasar, dan masyarakat yang terbuka.

Untuk lebih memaksimalkan penemuan vaksin ini, Sahin dengan BioNTech menggandeng pihak lain yakni Pfizer, sebuah perusahaan internasional dalam bidang kesehatan yang bermarkas di New York City, Amerika Serikat. BioNTech and Pfizer sendiri telah menjalin kerjasama sejak Maret 2018.

Sahin sudah berteman sejak 2018 dengan Albert Bourla, pimpinan eksekutif dari Pfizer keturunan Yunani. Kecocokan sudah terjalin karena keduanya memiliki latar belakang yang sama yakni sebagai peneliti dan juga sesama imigran.

“Kita menyadari dia dari Yunani dan saya dari Turki. Hubungan yang sangat pribadi dari awal,” kata Sahin. Sementara Bourla menyebut Sahin sebagai seorang yang memiliki kepribadian unik dan memiliki prinsip. Di antaranya adalah kepedulian Sahin hanya pada ilmu pengetahuan. Sahin tidak senang berbicara tentang bisnis. “Saya percaya 100 persen padanya,” ungkap Bourla.

Perjuangan Mendirikan BioNTech

Setelah beberapa tahun mendirikan BioNTech, Sahin ingin menjadikannya sebagai perusahaan besar Eropa di bidang Farmasi. BioNTech sudah berhasil meraih ratusan juta dolar dengan lebih dari 1.800 pegawai yang tersebar di Berlin dan berbagai kota di Jerman serta di Cambridge.

Banyak perusahaan yang menjalin kerjasama dalam bentuk investasi untuk BioNTech di antaranya Bill & Melinda Gates Foundation. Perusahaan ini pada tahun lalu menginvestasikan anggaran sebesar 55 juta dolar Amerika untuk mendanai penelitian tentang HIV dan tuberkulosis.

Tahun lalu, BioNTech menjual saham mereka ke publik. Dalam beberapa bulan terakhir ini, nilai pasar BioNTech melonjak melebihi 21 miliar dolar Amerika dan menjadikan pasangan tersebut menjadi salah satu orang terkaya di Jerman.

Keberhasilan ini tidak menjadikan mereka merubah pola hidupnya. Kedua peneliti yang sudah menjadi miliader ini tinggal bersama putri mereka yang sudah remaja di sebuah apartemen sederhana dekat dengan kantornya. Keduanya pun tetap mengendarai sepeda ke kantor dan tidak memiliki mobil.

Sumber: nu.or.id