Ketua GP Ansor Merangin, Muhlisin Oleh: Muhlisin
Hari ini, istimewa sekali. Sandiaga Salahudin Uno, mantan Cawapres yang dulu berpasangan dengan Prabowo Subianto, menerima pinangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Sandi berkenan memikul beban berat menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf).
Amanah ini bukan perkara mudah. Di tengah pandemi Covid-19 yang masih tak jelas akan berakhir. Sektor pariwisata ambruk seambruk ambruknya. Ekonomi kreatif juga tak mampu berkreasi dengan dengan baik.
Sandi justru ambil keputusan 'gila'. Menerima tantangan besar. Padahal, reputasinya jadi pertaruhan. Sandi bisa saja diberi cap 'gagal' jika sektor pariwisata tak mampu bangkit dan digdaya kembali.
Padahal, ia digadang-gadang potensial nyapres 2024 nanti. Cap 'gagal' bisa saja jadi batu sandungan buat Sandi.
Tak hanya itu. Di mata sebagian orang, terutama pendukungnya saat pilpres lalu, Sandi yang menyusul Prabowo menerima pinangan jadi menteri di Kabinet Indonesia Maju, bisa dianggap gila jabatan, inkonsisten, pengkhianat, dan sederet label negatif lainnya.
Tapi, itu tetap saja persepsi yang tidak teruji. Tak perlu diperdebatkan. Sandi, seperti mungkin juga Prabowo, dugaan saya punya pandangan yang jauh lebih rasional dan jiwa begitu besar.
Pilpres sudah lama berlalu. Kontestasi dan kompetisi politik sudah berakhir. Saatnya bergandengan tangan, menyatukan kekuatan anak-anak bangsa, untuk Indonesia yang lebih baik dan lebih maju.
Sandi tak seperti yang sebagian orang tudingkan. Toh, kalau cuma soal jabatan dan uang, ia tak butuh itu. Anak muda ini punya kekayaan berlimpah dan kuasa yang begitu digdaya.
Saya positif thinking saja. Sandi, dan juga Prabowo, menerima jadi pembantu Jokowi adalah DEMI NEGARA.
Mentalitas NEGARAWAN
(Penulis adalah Ketua GP Ansor Kabupaten Merangin)