Amri Ikhsan Salah satu landmark dari Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran adalah saling memaafkan. Tidak peduli pernah berbuat salah atau tidak, yang penting kalau ketemu, bersalaman dan saling memaafkan. Begitu juga di media sosial, ucapan Selamat Hari Raya Idul fitri dan mohon maaf lahir dan bathin sejak ditetapkan Hari Raya tanpa henti masuk ke akun media sosial kita.
Mungkin ini terjadi karena ‘tidak ditemukan’ kesalahan fatal yang membuat kita tersinggung. Lain halnya bila kita ‘benar benar’ berbuat salah kepada orang lain, atau orang lain berbuat salah kepada kita. Dalam konteks ini memaafkan itu bagi sebagian orang mungkin terasa berat, namun sebenarnya, itulah jalan terbaik dan satu satunya jalan untuk membuat kita merasa lebih ringan. Memaafkan bukan berarti membenarkan tindakan orang yang telah jahat kepada kita.
Tapi memaafkan sebenarnya, kita berniat melepaskan rasa sakit dan energi negatif dalam diri kita, sehingga kita dapat merasakan ketenangan jiwa dan kedamaian hati. Karena semesta berjalan dengan hukum kekekalan energi: apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai (detiknews.com). Jika kita menanam dendam dan amarah, itu sama sekali tidak dampak pada orang lain, justru menyiksa diri kita sendiri. Ibarat minum racun, tapi berharap orang lain yang mati.
Saling memaafkan pada hakikatnya bertujuan untuk kebaikan kita, kedamaian hati kita dan ketenangan jiwa kita, sedangkan kejahatan dan ketidaksukaan mereka pasti kembali ke mereka sendiri. Ketahuilah bahwa memaafkan itu tidak akan membuat lemah atau kelihatan lemah, mengingat itu tidaklah membuat kita tak berdaya, tapi keduanya mengajarkan sabar dan tegar. Kesalahan atau kekhilafan boleh saja terjadi tapi biarlah menjadi pembelajaran.
Sadarilah bahwa luka atau kecewa itu hanya mengecewakan, tapi sebenarnya jalan menuju kedewasaan. Karena maaf sejatinya akhir dari luka, dan awal dari kemulyaan. Kita berdamai dengan diri bukan lupa. Kita belajar bukan menyimpan atau dendam. Maaf kita bukan mengingat kembali tapi cara kita maju berlari. Memaafkan itu adalah tanda kekuatan. Mengingat merupakan bentuk kewaspadaan, belajar dari kesalahan merupakan satu bukti kedewasaan.
Pada hari raya idul fitri kali ini, mari kita kembali ke fitrah diri , dengan saling memaafkan tanpa dendam, tanpa sesuatu yang mengotori pikiran dan hati kita. Karena baru disadari, ternyata Ramadhan bukan sekedar puasa, tapi cara Allah SWT mereset pikiran kita. Allah tahu kita terlalu cemas dengan urusan dunia dan terlalu terikat dengan kebiasaan yang sia sia, maka Ramadhan datang untuk menata ulang semuanya: pikiran, perasaan, kebiasaan hingga kenyataan hidup kita.
Ramadhan adalah momen terbaik untuk menemukan jalan hidup yang mudah dan menenangkan sesuai fitrah pemberian Allah. Allah tidak menghilangkan kesulitan tetapi Dia membuka jalan lain. Ketika kita ingin masalah hilang, jangan takut menghadapi usaha dan ketekunan karena justru di sanalah jalan menuju kemenangan (RRI.co.id).
Puasa mengajarkan bahwa sukses itu bukan ditentukan oleh hal diluar diri, tetapi kendali dalam diri. Menaklukan hawa nafsu adalah awal dari kemenangan yang lebih besar (mindset.maju). Mari kita pilih mana hal hal yang bisa kita kontrol dan lupakan sesuatu yang diluar kontrol kita dan terus melanjutkan perjuangan hingga meraih ketenangan sejati.
Mungkin pernah ada sesuatu yang rasanya sangat berat, sangat menyiksa, tapi ternyata kita bisa melewatinya dan itu tidak terjadi. Mungkin pernah rasanya sangat hancur dan tidak akan ada jalan lagi, tapi ternyata semuanya masih baik baik saja. Ini mengajarkan kita bahwa, kita hanya perlu bertahan untuk hal baik yang akan datang, karena yang buruk hanya dipikiran kita saja.
Kita bukan terlukai oleh pengalaman masa lalu kita, melainkan oleh makna yang kita berikan pada pengalaman masa lalu kita. Pemaknaan kita pada masa lalu kita akan mempengaruhi perasaan kita. Masa lalu kita sudah pergi, kita tidak akan pernah menemuinya lagi yang bisa kita temukan hanyalah rasa sakit yang semakin sakit ketika kita mengingatnya. Mengubah makna pada pengalaman kita akan mengubah perasaan kita.
Kecemasan, kesedihan dan segala perasaan buruk yang kita rasakan adalah karena pengalaman buruk yang kita ciptakan sendiri dan terus kita ulang dalam pikiran kita. Apa yang Tuhan hilangkan dari kita pasti digantikan dengan yang lebih baik. Jika Tuhan mengambil sesuatu dari kita yang tidak pernah kita duga, maka Dia juga bisa memberi kita sesuatu yang tidak pernah kita duga.
Ketika satu pintu kebahagiaan telah ditutup, maka Tuhan membuka pintu kebahagiaan yang lain. Semesta berjalan dengan hukum kekekalan energi. Energi tidak dapat hilang, hanya berubah bentuk. Begitu pula energi kebahagiaan (detik.com). Ketika suatu kebahagiaan hilang, sebenarnya ia tidak hilang, tapi berubah bentuk menjadi kebahagiaan lainnya. Namun karena kita terus meratapinya, memikirkanya, kita terjebak dengan kesedihan dan kekecewaan, seningga kita tidak mampu merasakan kebahagiaan yang telah Tuhan siapkan untuk kita.
Kita bisa memberdayakan pikiran untuk mengubah perasaan kita dengan cara memberi makna positif terhadap pengalaman kita, dan menjadikan perasaan kita menjadi lebih baik. Sadarilah, hanya dengan mengendalikan pikiran kita, kita bisa mengendalikan perasaan kita. Ini adalah keajaiban psikologis sederhana, apa yang kita pikirkan, itulah yang kita rasakan.
Yakinlah, hidup kita akan terus menerus gelisah jika kita selalu memikirkan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Hidup kita akan senantiasa berantakan bila kita tidak mampu mengendalikan pikiran. Berdamailah dengan hati. Hati dipengaruhi oleh perasaan, dan perasaan dipengaruhi oleh pikiran. Maka kunci berdamai dengan keadaan bermula dari pikiran.
Sebenarnya, kebahagiaan kita tidak tergantung pada kenyataan yang kita rasakan, melainkan pada pemaknaan yang kita berikan terhadap kenyataan. Kita tidak bisa mengubah kenyataan yang telah terjadi. Tapi kita bisa mengubah perasaan kita terhadap kenyataan. Dan mengubah pikiran kita berarti mengubah perasaan kita.
Kita bisa menentukan dan memilih masa lalu mana yang ingin kita ingat. Pikiran adalah pintu perasaan. Pintu masa lalu mana yang akan kita buka, dan ini akan mempengaruhi perasaan kita. Pilihan kenangan mana yang ingin kita rasakan, tinggal membuka pikiran kita. Oleh karena itu, Berhentilah melukai batin kita sendiri dengan pikiran kita sendiri.
Sikap kita, tenanglah, jangan terburu buru, alam semesta tidak pernah terburu buru, matahari akan terbit pada waktunya, hujan akan selesai dengan sendirinya. Kitalah yang selalu terburu buru. Itulah sebabnya kita mudah cemas, stres, kecewa. Kendalikan yang bisa kita kendalikan. Percayalah bahwa apa yang seharusnya menjadi milik kita, akan tetap menjadi milik ita. Semua hanya soal waktu.
Kita berhak sembuh dan bahagia. Berhentilah menyakiti diri kita sendiri dengan mengingat yang menyakitkan. Rasa sakit yang kita rasakan hanyalah ilusi, bukan kenyataan. Terimalah dan syukuri yang ada. Wallahu a'lam bish-shawab.
(Penulis adalah Pendamping Satuan Pendidikan)