Amri Ikhsan Kita manusia dilahirkan penuh keterbatasan, kekurangan disana sini dan tidak ada manusia yang terlahir dengan kesempurnaan. Manusia pada dasarnya dilahirkan di dunia masih bersifat suci, dalam keadaan kosong belum mengetahui suatu apapun, belum mampu membedakan yang baik dan buruk (Nashori, 2008: 57).
Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui, kemudian Allah swt memberikan potensi pendengaran, penglihatan, dan hati sebagai bekal untuk memperoleh pengetahuan (Shihab, 2007). Ini adalah kelengkapan hidup manusia yang masih bersifat potensial yang harus dan bisa dikembangkan.
Inilah fitrah manusia berupa potensi dapat dididik dan dapat mendidik. Itulah makhluk pedagogik. Dididik dan dapat mendidik merupakan bentuk kemuliaan manusia.
Dalam konteks ini, manusia sebagai sosok pembelajar. Dia bisa diajari sesuatu dan dapat mengajar sesuatu pada orang lain. Dengan kata lain, manusia sebagai siswa dalam suatu waktu dan dapat pula menjadi guru diwaktu yang lain.
Kalau manusia memanfaatkan potensi yang dimiliki secara maksimal, ada kemungkinan untuk berkembang dan meningkatkan kemampuannya, sehingga dapat melampaui jauh dari kemampuan fisiknya yang tidak berkembang (Daradjat).
Kalau fitrah (potensi) dididik dengan sempurna, ditempat yang sempurna, maka potensi ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa bagi manusia, baik untuk bertahan hidup di dunia maupun untuk mencapai kebahagiaan yang kekal di akhirat.
Untuk mengembangkan potensi itu, manusia memerlukan ruang berdialog.
Ruang dialog yang tersedia dan memungkinkan manusia untuk berkembang adalah madrasah (sekolah). Manusia memerlukan lembaga ini yang memberi kesempatan kepada manusia memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya. Pendidikan dipandang sebagai suatu ikhtiar yang sangat menentukan dalam menjaga manusia tetap berada pada fitrahnya, membantu perkembangan manusia menuju ke arah yang secara normatif lebih baik (Idris & Tabrani 2017).
Dalam mengembangkan potensi, madrasah harus mendisain pembelajaran yang memungkinkan manusia (peserta didik) bisa ‘menumpahkan’ dan mengasah potensinya. Madrasah harus menyiapkan tempat atau panggung untuk berkreasi dalam rangka mengajar, mendidik, membina, dan membimbing. Tugas ini tidak bisa datang begitu saja, semuanya mestinya direncanakan, dilaksanakan dengan sungguh dan dinilai dengan cara yang sebenarnya. Akhirnya, manusia sebagai subjek pengembangan menjadi manusia sempurna, insan kamil.
Maka, muncullah kehidupan di madrasah biasanya manusia diajari sebuah pembelajaran dan kemudian diberi tes atau diberi tes dan mengajarkan kita sebuah pembelajaran. Semua potensi madrasah harus dikerahkan secara total untuk menggembleng manusia ini. Harus ditanamkan bahwa setiap orang yang kita temui adalah guru, setiap tempat yang kita jalani adalah kelas dan setiap kejadian yang kita alami adalah pelajaran.
Insan kamil yang dimaksudkan dalam mengembangkan potensi ini dimana manusia punya kemampuan untuk menginterpretasikan dengan memberikan contoh, mengklasifikasikan, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, menjelaskan, mengelola atau melakukan, mengimplementasikan, membedakan, mengorganisasikan, memeriksa, mengkritisi, mendesain, dan akhirnya menghasilkan/membuat sesuatu.
Itulah kenapa manusia dinamai makhluk pedagogik, yaitu makhluk ciptaan Allah yang mempunyai kemampuan yang dapat dididik dan dapat mendidik. Dialah yang memiliki kemampuan, untuk menjadi pemimpin dimuka bumi. Tapi kemampuan ini tidak lahir begitu saja. Memang manusia dianugrah seperangkat potensi (pikiran, perasaan, fisik dan mental) tapi harus dikembangkan agar menjadi kecakapan dan keterampilan untuk siap digunakan sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia.
Potensi yang dimiliki setiap manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran melalui pendidikan menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk pedagogik yang mengantarkannya menerima amanat sebagai khalifah (pemimpin) di bumi (Slamet, 2017). Tapi manusia kadang kadang tidak bisa melakukan sendiri. Dia memerlukan pendidikan. Kalau ternyata manusia berbeda dalam kemampuan belajarnya, ini sangat tergantung pendidikan, dimana dia belajar.
Oleh karena itu, perbedaan kompetensi manusia itu adalah hasil dari proses pembelajaran di madrasah: 1) fleksibilitas kurikulum; 2) visi misi madrasah; 3) kualitas guru; 4) kondusifitas lingkungan madrasah; 5) sarana prasarana; 6) kepemimpinan; 7) dukungan orang tua dan masyarakat.
Ketujuh komponen ini sangat mempengaruhi kualitas manusia dalam mengembangkan potensinya. Ketujuh komponen inilah yang membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna. Bermakna berarti apa yang dipelajari benar benar bermanfaat dan mampu menggali potensi yang ada pada manusia.
Pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas, manusia mampu membuktikan diri sebagai makhluk yang paling sempurna, dari sebelumnya hanya memiliki potensi (yang belum memiliki arti apa-apa), tetapi melalui pendidikan, mereka berkembang menjadi lebih sempurna dan terus menyempurnakan diri.
Dengan berinteraksi dalam pembelajaran, manusia bisa mengasah potensi yang dimiliki secara maksimal. Apalagi didukung oleh manusia yang mendidik (guru) yang memiliki dedikasi tinggi dalam mendidik. Yaitu guru yang memiliki daya juang yang tinggi, bermotivasi tinggi, dan terus belajar dalam menemukan metode mendidik yang paling tepat untuk anak didiknya.
Kalau memang dalam mendidik, guru masih merasa ‘berat’, ada baiknya kembali ‘mengolah’ hati dan niat:
Pertama, guru kembali membuka hatinya untuk kembali mencintai anak didiknya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Guru kembali menempatkan anak didiknya mejadi bagian terpenting dari dirinya sendiri. Guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya bukan karena presensi online, takut pada pimpinan, atau ‘dipotong’ tunjangannya, tapi murni cintanya kepada anak didiknya.
Kedua, guru idealnya tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga memotivasi anak didik untuk semangat belajar dan tentunya memberikan kiat kiat dan strategi dalam belajar.
Ketiga, komunikasi harus menjadi perhatian serius guru, salah satu kunci mendidik adalah menyampaikan pelajaran dengan bahasa yang mudah dimengerti. Materi yang sulit akan menjadi mudah bila disampaikan dengan bahasa yang santun, tapi sebaliknya, materi yang mudah menjadi sulit bila bahasa guru ‘berbelit belit’.
Keempat, guru hendaknya menyadari bahwa bagi anak didik, diterima dan didengarkan itu jauh lebih berharga daro pada dinasehati dan diberi solusi.
Kelima, guru tahu betul bahwa tuhan memberi kita mata bukan untuk menghakimi kebodohan siswa melainkan untuk peka terhadap kelemahan anak didik, Tuhan memberi kita mulut bukan untuk mencaci atau memarahi anak didik tapi untuk menjelas materi pembelajaran dengan bahasa yang santun, Tuhan memberi kita tangan bukan untuk memukul tapi untuk menolong, berdoa untuk anak didik. Tuhan memberi kita telinga bukan untuk mendengar kejelekan anak didik tapi mendengarkan nasehat yang baik.
Keenam, guru harus sadar bahwa jangan terlalu sibuk mengatur, anak didik harus bagini, harus begitu, jangan lupa bahwa mereka juga punya keinginan. Anak didik mungkin akan melupakan apa yang guru ajarkan, tapi mereka tidak akan melupakan bagaimana perlakukan guru kepada anak didiknya.
Ketujuh, dalam mendidik, guru paham betul dan merasa selalu diawasi oleh Allah SWT baik dalam keadaan rahasia maupun terang terangan (muraqobah), mengintropeksi diri segala perbuatan yang sudah dikerjakan dan berjuang sungguh sungguh (mujahadah).
Semoga saja status makhluk pedagogik bisa dimanfaatkan oleh satuan pendidikan, sehingga tidak terdengar kata kata negatif tentang anak didik. Aamiin! Wallahu a'lam bish-shawab!
(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)