Opini Amri Ikhsan: Memerdekan Diri di Hari Kemerdekaan

Penulis: Amri Ikhsan - Kamis, 18 Agustus 2022 , 12:59 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Merdeka! Merdeka! Merdeka!. Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI untuk mengingatkan kita untuk  kembali kepada ajaran-ajaran kebaikan dan nilai-nilai perjuangan yang dicontohkan oleh pahlawan kita.

Memerdekakaan diri sendiri sebenarnya tidak selalu mudah dilakukan (Suprayogo, 2015). Perasaan terjajah bisa dialami semua orang, ini bisa saja datang dari luar atau dari dirinya sendiri. Perasaan rendah diri, merasa selalu salah, merasa tidak dipercaya oleh orang lain, menganggap bahwa dirinya selalu memiliki musuh, dll. Sebenarnya adalah penjajah yang seharusnya dilawan dan dihilangkan.

Penjajahan pada wilayah pribadi seharusnya diperangi sendiri. Memenangkan terhadap penjajah jenis itu juga harus berbekalkan kekuatan yang cukup, yaitu harus memiliki jiwa pejuang, menyandang kekuatan fisik dan mental, serta berbagai kekuatan strategis lainnya (Suprayogo, 2015). Tidak bisa hanya ‘minta tolong’ pada orang lain.

Memerdekakan diri adalah dengan mencontoh semangat dan spirit kemerdekaan, untuk merancang kehidupan dengan berjiwa merdeka. Memerdekakan diri berarti memerdekan hati dan jiwa. Ini adalah jalan terbaik dalam mewujudkan diri dalam kehiduapan beradab dan bermartabat.

Orang hidup harus merdeka. Batin yang merdeka akan menanamkan sikap dan kebiasaan yang positif pada diri guna mengembangkan kapasitas dalam menyelesaikan masalah. Hati yang merdeka mengutamakan pemberdayaan karakter diri agar menjadi individu yang kreatif.

Kalbu yang merdeka akan memunculkan perilaku kompetitif untuk mendorong semangat hidup untuk memahami sekaligus mengatasi persoalan yang dihadapi. Perilaku kompetitif akan mendorong terciptanya daya tahan menghadapi persaingan yang semakin berat.

Oleh karena itu, kita juga perlu memahami bahwa diri yang merdeka bukanlah sekedar ditandai dengan prestasi yang tinggi dalam dunia pendidikan. Namun kondisi ini ditandai dengan terbangunnya sebuah sikap yang peduli, menghargai, serta cinta terhadap  tanah air dan bangsanya.

Karena, pada dasarnya pendidikan yang tinggi bukanlah tolok ukur untuk menandai bahwa seseorang itu disebut terdidik karena gelar hanyalah sebuah simbol atas jejak yang telah dilalui dan masih butuh pembuktian dalam kehidupan sehari hari.

Pada HUT Kemerdekaan RI ke 77, kita masih menghadapi musuh tidak kasat mata, musuh yang bisa menyerang tiba tiba, musuh yang menyerang siapa saja yang lengah, musuh yang tidak punya senjata canggih. Musuh itu adalah diri sendiri. Musuh sekaligus sahabat terbaik manusia adalah dirinya sendiri (Kompasiana)
Kalau dilawan dengan kekuatan ‘fisik’, mungkin kita tidak berdaya. Waktunya kita ubah stragegi dengan menerapkan ‘perang psikologis’:

Pertama, musuh ini akan kalah bila kita jujur pada diri sendiri. Jujurlah dengan kondisi sendiri. Jujurlah dengan kemampuan diri.  Dengan jujur, berarti kita mengenal diri dan kemudian memperbaikan diri agar tidak merugikan diri dan orang lain.

Orang jujur adalah orang yang terdepan untuk menetramkan jiwa diri dan orang lain. Orang jujur tak akan pernah merugikan orang lain (Muhammad). Orang yang jujur pasti pasti mendapat pertolongan dari semua pihak (Suko Wiyono:2012).

Kedua, musuh akan mundur bila jiwa sosial selalu terjaga, dengan menjadi orang baik dan bijak dengan tujuan untuk menggembirakan dan menyenangkan orang disekitar kita: 1) wajah yang senantiasa menggembirakan, memiliki penampilan diri yang menyenangkan bila dipandang, murah senyum, hangat berkomunikasi, dan kehadirannya senantiasa dirindukan; 2) tutur bahasa yang santun, berbahasa yang menggembirakan dan melegakan lawan bicara. mudah difahami dan tidak membuat orang tersinggung, tidak menyebarkan berita hoaks, dan lain-lain.

Kemudian, 3) hati yang menyenangkan, sikap dan perilakunya menginspirasi orang lainr. Kehadirannya memberi solusi, mengembirakan orang sekitar; 4) lapang dada, berjiwa terbuka dan bertoleransi. Arif menghadapi suasana gembira dan sedih, bijaksana dalam mengambil keputusan dan 5) ringan tangan membantu siapa saja, membantu tanpa perlu diminta.

Ketiga, musuh ini akan menyerah bila hati selalu bersikap ikhlas, pasrah, dan sabar dengan miliki: a) perasaan tidak punya apa-apa di hadapan oleh Tuhan, memang segala sesuatu yang terjadi didunia ini sudah di skenariokan oleh Tuhan dan mungkin itulah yang terbaik bagi-Nya; b) perasaan tenang dan bahagia ketika menghadapi segala bentuk ujian kehidupan, karena ujian yang diberikan kepada makhluk-Nya adalah sesuai dengan kadar kemampuannya dan percayalah bahwa Tuhan tidak akan menguji melewati batas kemampuan kita.

Keempat, pada kondisi sulit ini kita tidak boleh menyerah tapi boleh berserah. Ujian demi ujian akan senantiasa datang dan pergi silih berganti. Inilah proses kehidupan alamiah yang dialami oleh semua orang tanpa kecuali.

Dipastikan, mengeluh tidak akan mengubah apa-apa, hanya membuat kita lebih menderita. Dan sikap syukur mungkin tidak langsung mengubah keadaan, namun setidaknya dengan bersyukur kita telah menaruh harapan untuk jalan keluar dalam menghadapi ujian hidup.

Berserah atau menyerah adalah pilihan. Berserah adalah suatu sikap di mana kita percaya kepada Tuhan bahwa rencana-Nya pasti yang terbaik (indonesiaone.org). Idealnya, kita mesti membuat ‘perhitungan’ untuk memerdekan diri, bukan persoalan besar yang harus takuti, tapi ada Tuhan yang Maha Besar yang inshaallah memberi solusi. Berserah berarti percaya, tapi menyerah berarti tak berdaya.

Sedangkan jika kita menyerah, tidak ada lagi daya dan usaha yang harus dilakukan, Tidak ada lagi ikhtiar yang diusahakan, tidak ada lagi pemikiran untuk menemukan solusi dan jalan keluar. Semua sudah ‘buntu’. Kita memang sudah angkat tangan, berbendera putih dikibarkan sebagai bukti kekalahan.

Merdeka atas diri sendiri pada dasarnya merupakan perasaan tenang dengan diri sendiri. Meskipun pada saat tertentu kita masih memerlukan orang lain untuk membantu menyelesai persoalan hidup kita, tetapi terlalu berharap pada orang lain juga merugikan kita. 

Belajar merdeka atas diri sendiri akan menanamkan rasa percaya diri, karena kita percaya pada pengetahuan dan kapasitas yang kita miliki untuk menghadapi tantangan apa pun. Terkadang, kita boleh saja ‘berkonsultasi’ dengan orang lain untuk mendapatkan ‘pencerahan’ tapi keputusan akhir tetap ditangan kita sebelum membuat keputusan.

Yakinlah, jika kita terbawa hawa nafsu maka rasa merdeka akan sirna. Inshallah, akal berusaha untuk memberikan pertimbangan, tetapi bila nafsu tidak berhasil dikendalikan, maka kemerdekaan diri akan tidak dapat ‘diproklamirkan’. Agama mengajarkan kita untuk berpuasa untuk mengendalikan hawa nafsu. Wallahu a'lam

(Penulis adalah seorang pendidik di Madrasah)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID