Amri Ikhsan Oleh: Amri Ikhsan
Gema takbir kemenangan mulai dikumandangkan pada Idul Fitri 1444 H. Terdengar begitu merdu dari toa masjid. Inilah suasana yang paling dirindukan bagi setiap muslim. Takbiran adalah ‘irama’ kebahagiaan. Irama yang membuat umat Islam kembali merasa ‘gembira’ lahir dan batin.
Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan prinsip dan ruh yang mendasari perayaan Idul Fitri adalah berbagi kebahagiaan. Idul Fitri adalah farhah atau suka cita (Republika). Kebahagian hakiki pada saat Idul Fitri: bertemu dengan keluarga, bersilaturahim, terhidangnya berbagai macam makanan dan minuman, tersampainya zakat fitrah, dan terbuka hati untuk bermaaf-maafan sejatinya adalah manifestasi menghadirkan kebahagiaan di tengah-tengah kita
Berbagi kebahagian (farhah dan idkhal as-surur) merupakan tujuan hakiki Idul Fitri.
Zakat fitrah yang wajib ditunaikan sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri memiliki nuasa berbagi kebahagian dan ini merupakan hikmah berbagi dengan sesama. Ditengah kebahagian ini, pastikan tetangga, sanak keluarga, atau orang dekat merasakan kebahagian idul fitri.
Begitu juga dengan silaturahim, yang bisa memunculkan kebahagian berikutnya. Karena esensi dari silaturahim adalah menyambung yang terputus, shillat al-inqitha’ (NU). Kecurigaan, kebencian, dan permusuhan yang muncul selama ini sirna seketika munculnya Hari raya Idul fitri. Sentuhan bermaaf maafan membuat suasana hari Idul Fitri menjadi sakral dengan kebahagian. Silaturahim menjadi ‘tali’ penyambung hubungan yang terputus.
Dan ini akan ‘mulus’ terjadi di hari Idul Fitri.
Idul Fitri dan kebahagiaan adalah satu paket. Tidak hanya Idul fitri, setiap gerak gerik ibadah menekankan pentingnya agar kita bahagia. Sholat dijadikan sebagai pelipur lara qurrat ‘ain, puasa disyariatkan agar terwujud kebahagiaan hakiki dari capaian predikat takwa, zakat sudah lebih jelas lagi, dan sementara berhaji menempatkan kita pada tujuan kebahagiaan manusia paripurna: puncak kemabruran (Republika).
Begitu juga kegiatan sosial terkait dengan hablum minannas, pada hakikatnya adalah semangat dan prinsip menumbuhkan kebahagiaan kolektif. Sebenarnya Islam menghendaki dalam menjalan kehidupan keagamaan dan sosial mengedepankan rasa riang gembira, beragama dengan suka cita. Jadi, kalau sudah ‘bahagia, bagilah kebahagian itu dengan sesama, jangan kebahagian ‘dinikmati’ sendiri. Inilah mengapa Rasulullah SAW menegaskan dalam sejumlah riwayat bahwa di antara amal ibadah yang paling Allah SWT sukai adalah memberikan kebahagiaan kepada sesama Muslim (Republika).
Kebahagian Idul Fitri didahului dengan bertemunya kita dengan Ramadhan (pesantrenvirtual). Sebenarnya, menjalankan puasa Ramadhan dengan kondisi fisik dan mental yang sehat dan prima adalah ‘kenikmatan’ yang luar biasa, sahabat Ali bin Abi Thalib berkata: “Sehat jasmani adalah anugrah yang paling indah”
Idul fitri ini telah menyempunakan kebahagiaan kita, bahagia bercampur gembira bukan atas dasar telah berlalunya bulan suci Ramadhan, akan tetapi kebahagiaan ini dilandaskan pada keberhasilan kita dalam ‘mengalah’ musuh besar umat manusia, yaitu hawa nafsu.
Kebahagiaan berikutnya adalah saat momen datangnya hari raya idul fitri dan mengeluarkan zakat fitrah. Sebuah ibadah yang tidak lain sebagai bentuk penyucian diri sekaligus sebagai penyempurna puasa Ramadhan. Zakat fitrah merupakan salah satu ibadah yang berdimensi horizontal (Baznas). Zakat ini memang tidak ‘besar’ tapi dampaknya sangat besar dalam menumbuhkan ‘kebahagian’ para penerima dalam memenuhi kebutuhan pokok untuk dirinya, keluarga dan orang yang harus dinafkahinya..
Tapi dari sisi ‘pembayar’ zakat fitrah ini merupakan kesempatan mensucikan jiwa sekaligus mewujudkan rasa peduli terhadap kondisi di sekitar kita. Ini merupakan wujud berbagi kebahagiaan saat momen datangnya idul fitri. Tidak adil rasanya bila ada orang di sekitar kita tidak merasakan kebahagian ‘gara gara’ tidak mendapatkan zakat fitrah yang seharus milik mereka.
Bersilaturrahim adalah kebahagian yang ditunggu tunggu masyarakat. Sangat jarang masyarakat bisa saling bertemu dan bersua dengan suasana kebahagian kecuali saat hari raya idul fitri. Silaturrahim bukan hanya pertemuan ‘tatap muka’ tapi pertemuan saling memafkan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan. “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu” (Qs. Al Hujurat: 10)
Interaksi keseharian, apalagi sejak penggunaan media sosial secara massif sering warnai dengan berbagai peristiwa. Kadang baik, kadang buruk, kadang damai kadang konflik, kadang bertegur sapa, kadang ‘buang muka’. Melalui silaturrahim di hari yang fitri ini, kita memulai ‘hidup’ baru dengan hati dan pikiran baru. Ternyata, ‘konflik’yang terjadi selama ini kebanyakan terjadi karena salah satu pihak ‘banyak’ mendengar dari pihak lain.
Dengan silaturahmi kali ini, saling ketemu, saling menyapa ternyata ‘obat’ paling ampuh dalam menghilangkan ‘sekat’ permusuhan, mengurai infomasi yang ‘terdengar’ tidak utuh selama ini. Inilah kekuatan silaturrahmi. “Barangsiapa yang ingin dijembarkan rezekinya dan dipanjangkan usianya maka sambunglah persaudaraan” (HR. Bukhori dan Muslim). Sebagian ulama mengartikan kalimat “panjang usia” dalam hadist di atas dengan makna “keberkahan hidup”.
Idul Fitri berarti lahirnya ‘perasaan’ dan terbukanya lembaran hidup baru yang lebih baik dan peduli. Ada niat untuk memperbaiki dan mensucikan diri dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan sehingga berada dalam kesucian atau fitrah. Idul Fitri adalah waktu untuk memperbaiki, memaafkan dan merenung (kemenkeu).
Menyimpan dendam, menyalah orang lain, membenci dan kedengkian tidak hanya dapat merugikan diri sendiri, tetapi juga menjadi dunia ‘semakin sempit’. Karena itu, Idul Fitri mengajarkan kita untuk ‘kuat’ memaafkan, hanya orang kuatlah yang berani memaafkan.
Pasca lebaran, sudah waktunya kita mengimplementasikan kesadaran kaidah emas atau golden rule (Emmanuel Kant): “Jangan lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin dilakukan orang lain kepadamu.” (Qiqi Yuliati Zakiyah dan A. Rusdiana; 2014).
Golden Rules merupakan aplikasi dari nilai ketaqwaan hasil ‘madrasah Ramadan’ yang terpancar ‘orang yang beriman’. Orang yang sangat mengerti situasi, selalu mempertimbangkan apa yang akan dikatakan atau dilakukan. Berkata sesuai kebutuhan, tidak panjang, tidak pendek, tidak berbelit belit.
Orang yang selalu berkata ‘santun’: bijak bertutur, bermanfaat dalam berujar, berfaedah dalam memerintah, menggembirakan dalam berdialog, mensugesti bagi yang sedih atau sakit. Berat memang, tapi bisa dilakukan. Wallahu a'lam bish-shawab!
(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)