JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Salah satu elemen yang ada dalam tubuh kita adalah unsur nafsu, yang merupakan elemen yang senantiasa mengarahkan manusia pada kenikmatan dan kesenagan duniawi.
Seiring dengan itu dia juga sangat cenderung mengusung manusia pada kezaliman, kejahatan, kemugkaran dan kesesatan. Disanalah pangkalan jin, setan dan iblis beroperasi untuk menaklukkan manusia yang lemah, sehingga harus bersujud dengan nafsu, utamanya nafsu amarah yang dikomandoi Setan cs.
Maka itu ada sebuah hadis yang populer, ketika datang bulan suci Ramadhan 'Setan cs dibelenggu'. Makna hakikat hadis ini lebih pada keunggulan ibadah Ramadhan yang dijalankan oleh seorang hamba yang beriman.
Tatkala seorang berpuasa semua proses adrenalin tubuh yang meransang nafsu terhenti, sampai tatkala berbuka. Maka itu usai berbuka puasa lanjutkan ibadah malam, hingga kita memulai kembali 'imsakun' menahan diri dengan berpuasa.
Jadi tidak ada celah bagi kroni setan untuk menghampiri apalagi bekerja menjatuhkan manusia. Oleh karena itu, puasa dimaknakan dengan 'junnah' perisai, tameng dan atau benteng ketahanan diri. Benteng ini akan tangguh, selama puasa dijalankan dengan baik dan benar mengikuti syarat dan rukunnya, maka setan dan kroninya tidak akan pernah bisa menjebol ketahanan diri 'keimanan' seseorang.
Atas ketangguhan diri dengan puasa dan ibadah Ramadhan ini, orang yang beriman dapat mengembalikan sejati diri pada posisi kemanusiaan yang terbaik dan terindah ciptaan dari sang Khalik 'laqod kholaqnal insana fi ahsani taqwim'.
Demikian juga manusia akan kembali menjadi umat terbaik 'kuntum khaira ummah', bahkan manusia akan kembali menjadi makhkuk yang termulia, agung dan terpilih sebagai khalifah sang penguasa yang diberi otoritas memakmurkan bumi. 'wakazalika waja'alnakum ummatan wasatha'.
Disinilah pemahaman konsep terbelunggu, setan tidak bisa menjalankan visi misi apapun untuk menjungkirbalikkan manusia. Bahkan dialah yang jungkir balik dibalik tembok puasa seseorang.
Karena dahsyatnya puasa dan ibadah Ramadhan yang ditunaikan oleh orang-orang yang beriman, sebagaimana seruan Allah, maka dalam sebuah Hadis Qudsi Allah nyatakan, 'semua amaliah manusia adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa (Ramadhan), adalah untukku, dan akukah yang akan memberi penghargaan atasnya (tidak ternilai)'.
Semoga dengan puasa dan ibadah Ramadhan yang kita tunaikan, dapat mengangkat marwah dan kemulyaan kita di sisi manusia dan dihadapan Allah SWT. Aamiin.