Ramadhan di Ujung Waktu: Antara Ibadah dan Euforia Lebaran

Penulis: Redaksi - Kamis, 19 Maret 2026 , 14:47 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Oleh: Amri Ikhsan

Ramadhan sedang berkemas. Waktu terasa cepat berlalu. Bulan Ramadhan hampir berakhir. Sebentar lagi bulan yang mulia ini akan meninggalkan kita. Ramadan yang selama ini kita tunggu, kita rindukan, kita sambut dengan suka cita… kini hampir pergi.

Kini, kami berada di injury time. Seperti pemain sepak bola yang tertinggal di menit-menit akhir, kami berlari sekuat tenaga, berharap satu gol penyelamat, satu amal yang diterima, satu doa yang mustajab. Rasulullah SAW, kekasih-Mu, justru di sepuluh hari terakhir ini menyingsingkan lengan baju, menghidupkan malam dengan qiyam, tilawah, dan dzikir. Beliau membangunkan keluarganya, mencari Lailatul Qadar dengan seluruh jiwa raga. Aisyah ra berkata, “Aku tak pernah melihat Rasulullah membaca Al-Qur’an atau shalat sepanjang malam hingga subuh, kecuali di bulan Ramadhan.”

Kita baru saja mulai terbiasa dengan malam yang panjang dalam sujud, dengan ayat-ayat yang mengalir lembut di dada, dengan doa-doa yang dulu jarang terucap… tiba-tiba semuanya hendak berakhir. Ramadhan seperti tamu mulia yang tak banyak bicara, tapi kehadirannya menenangkan jiwa. Dan kini, ia bersiap pergi.

Jika Ramadhan ini akan pergi, biarlah ia pergi dengan membawa dosa-dosa kita, dan meninggalkan hati yang lebih lembut, lebih bersih, dan lebih dekat dengan-Nya. Pertanyaannya bukan lagi: berapa hari kita telah berpuasa. Tetapi pertanyaan yang jauh lebih substantif: Apakah Ramadan telah mengubah hidup kita? Apakah Ramadan hanya melewati kita… atau benar-benar mengubah hati kita?
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa takwa adalah tujuan final dari seluruh rangkaian ibadah Ramadhan. Bukan sekadar menahan lapar, bukan sekadar membaca satu juz sehari, bukan sekadar tarawih penuh. Takwa adalah produk jadi yang harus kita bawa pulang setelah sebulan berada di "pabrik spiritual" ini.

Para ulama menggambarkan takwa bukan hanya sekadar takut kepada Allah, tetapi juga kesadaran moral yang terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari. Takwa adalah ketika kita mampu menahan amarah meski diberi alasan untuk marah. Takwa adalah ketika kita tetap berkata jujur meski kebohongan lebih menguntungkan. Takwa adalah ketika kita memilih memberi meski sebenarnya kita juga butuh. Takwa adalah ketika kita tetap beribadah meski tidak ada yang melihat.

Ciri paling nyata dari keberhasilan puasa adalah konsistensi. Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata: "Tanda diterimanya suatu ketaatan adalah diikuti dengan ketaatan setelahnya. Dan tanda ditolaknya suatu ketaatan adalah diikuti dengan kemaksiatan setelahnya."

Jika setelah Ramadhan kita tetap istiqamah dalam shalat berjamaah, tetap rajin membaca Al-Qur'an, tetap bersemangat bersedekah, maka itu pertanda bahwa puasa kita diterima. Namun jika setelah Ramadhan kita kembali lalai, kembali malas, kembali terjebak dalam maksiat, maka patut kita waspadai—boleh jadi yang kita raih selama ini hanya lapar dan dahaga.
Jika setelah Ramadan seseorang menjadi: lebih sabar, lebih jujur, lebih lembut dalam berbicara, lebih rajin beribadah, maka itu tanda bahwa Ramadan telah berhasil mendidik hatinya. Namun jika setelah Ramadan tidak ada perubahan… maka boleh jadi yang berpuasa hanya tubuhnya, bukan hatinya.

Ada beberapa tanda orang yang benar-benar mendapatkan ketakwaan dari Ramadan. Pertama: hubungannya dengan Allah menjadi lebih dekat. Selama Ramadan kita terbiasa bangun malam untuk sahur. Sebagian dari kita terbiasa salat tarawih. Sebagian lagi memperbanyak membaca Al-Qur’an. Jika setelah Ramadan kebiasaan ini tetap hidup… maka itu tanda bahwa Ramadan meninggalkan jejak dalam hati kita. Tetapi jika semua itu berhenti ketika Ramadan berakhir… maka Ramadan hanya menjadi tamu yang lewat, bukan guru yang mendidik kita.

Kedua: lisannya lebih terjaga. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari). Artinya: puasa bukan sekadar menahan lapar. Puasa juga menuntut kita menjaga: lisan dari dusta, lisan dari ghibah,lisan dari fitnah, lisan dari kata-kata yang menyakiti orang lain.

Ketiga: hatinya menjadi lebih lembut Ramadan mengajarkan kita merasakan lapar. Dengan lapar kita belajar memahami penderitaan orang miskin. Jika Ramadan membuat kita lebih peduli kepada orang lain… lebih mudah memberi… lebih mudah memaafkan… maka itu tanda bahwa Ramadan telah menyentuh hati kita.

Pada akhirnya, puasa kita akan membuat kita sebagai pemenang kehidupan, orang yang tetap dingin ditempat yang panas, yang tetap manis ditempat yang sangat pahit, yang merasa kecil meskipun telah menjadi besar, yang merasa bahagia walaupun direndahkan, serta tenang ditengah badai yang hebat.

Para salafus saleh menangis ketika Ramadhan hendak pergi. Bukan karena mereka kehilangan panggung ibadah, tapi karena mereka kehilangan kesempatan emas bercengkerama dengan Tuhan. Mereka merasakan sendiri bagaimana Ramadhan mampu mengubah jati diri—dari kasar menjadi lembut, dari pelit menjadi dermawan, dari lalai menjadi ahli dzikir. Ramadhan bagi mereka adalah sekolah kehidupan, bukan sekadar ritual tahunan. Maka mereka menangis. Menangisi kepergian tamu agung yang telah mengubah segalanya.

Kami berbeda. Semakin dekat akhir Ramadhan, semakin banyak perhatian kami teralihkan. Dari masjid ke mal, dari mushalla ke swalayan, dari doa ke daftar belanja. Langkah kaki yang dulu mengarah ke sujud kini mengarah ke etalase. Kami khawatir “kurang sempurna” di hari raya, tapi lupa bahwa kesempurnaan sejati adalah kesempurnaan hati di hadapan-Mu.
Semakin dekat akhir, semakin bergeser fokus kita. Yang tadinya langkah kaki setia ke masjid, kini terpaksa berbelok ke mal. Yang tadinya tangan sibuk membolak-balik Al-Qur'an, kini sibuk memilah-milah baju di toko. Yang tadinya hati bergetar mendengar ayat suci, kini bergetar melihat diskon lebaran.

Di antara semua waktu yang Engkau ciptakan, Engkau istimewakan Ramadhan. Engkau pilih ia dari semua bulan. Engkau turunkan Al-Qur'an di dalamnya. Engkau jadikan malam-malamnya lebih baik dari seribu bulan. Dan kini, ia akan pergi. Ia akan meninggalkan kami pada akhir waktunya, pada sempurnanya bilangannya.

Kami ingin mengucapkan selamat tinggal Ramadhan. Selamat tinggal kepada bulan yang telah menyadarkan kami dari kelalaian. Selamat tinggal kepada tamu yang merisaukan hati saat ia pergi. Kami berjanji—dengan sepenuh hati yang mungkin ingkar—untuk menjaga semangatnya di sebelas bulan ke depan. Untuk mempertahankan ibadah meski tak seramai di Ramadhannya. Untuk tetap berbagi meski tak semarak di bulan mulia ini.

Tiba-tiba ia meninggalkan kami pada akhir waktunya, pada kesempurnaan bilangannya; kami ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya, selamat tinggal kepada dia yang telah menyadarkan kami, merisaukan dan mendukakan kami atas kepergiannya; kami berjanji untuk menjaga kesuciannya, dan mempertahankan ibadah kami disebelas bulan yang lain. Wallahu a'lam bish-shawab.

(Penulis adalah Pendamping Satuan Pendidikan)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID