JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Kasus Gubernur Jambi, Zumi Zola hingga saat ini masih berjalan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun meski demikian, sejumlah opsi calon wakil Gubernur untuk Fachrori sudah mencuat jika nantinya statusnya sebagai Gubernur sudah defenitif.
Seperti diketahui Parpol pengusung pada Pilgub lalu bisa mengusulkan Wakil Gubernur ke Gubernur sebelum nantinya dipilih di DPRD. Seperti diketahui ada 4 parpol yang disahkan sebagai parpol pengusung yakni PAN, Nasdem, PKB dan Hanura.
Saat ini, ada sejumlah nama yang mencuat baik dari kalangan politisi maupun profesional. Sebut saja dari PAN nama yang digadang-gadang ada H Bakri Anggota DPR RI, dari PKB ada nama Sofyan Ali juga disebut-sebut.
Sementara Nasdem bisa jadi tak mengusulkan karena kadernya Fachrori sudah jadi Gubernur dan dari Hanura, Ketua Umum Hanura Yusuf juga bisa saja diusulkan. Namun bukan berarti kader di luar partai ini tak bisa diusulkan.
Kalangan profesional maupun politisi di luar partai ini bisa saja diusung selama disepakati oleh 4 parpol ini. Apalagi jika bupati ada yang mencoba mengincar posisi ini sebagai pemanasan jelang Pilgub 2021. Termasuk jika pertimbangannya kekuatan suara di DPRD.
Pengamat Politik dari Fisipol Unja Muhammad Farisi mengatakan jika yang dibutuhkan Fachrori saat ini adalah figur wakil yang bisa membantu mengejar target program Jambi Tuntas 2021. “Dibutuhkan figur yang memiliki leadership yang bisa mengkonsolidasikan ASN di Jambi untuk bekerja cepat,” ujar Farisi, Minggu (15/4/18).
Mengenai posisi wakil yang kerap dijadikan ban serep sehingga tidak penting soal kriteria ideal, Farisi menilai jika Fachrori tentu sudah belajar bagaimana mennjadi wakil dari dua periode gubernur. Artinya, Fachrori tentu tidak ingin merasakan apa yang sudah dirasakannya. “Wakil harus dilibatkan jika ingin bekerja cepat. Pak Fachrori tentu sudah tahu rasanya jadi wakil,” paparnya.
Menurutnya selama dua tahun Jambi Tuntas, belum ada gebrakan serius yang bisa dingat masyarakat. Makanya Fachrori harus melakukan percepatan dengan membangun sinergisitas dengan wakil dan seluruh struktur pemerintahan.”Masalah kemarin ini masalah tim kerja. Saya kira harus belajar dari pengalaman,” jelasnya.
Selain kemampuan leadership, Fachrori juga membutuhkan figur yang memiliki jaringan di pusat. Ini penting untuk memback up program daerah. Termasuk bagaimana bisa mendapatkan anggaran dari pusat untuk membantu APBD. “Ini juga penting,” ucap Farisi.
Tidak hanya itu, ada baiknya Fachrori juga memikirkan keterwakilan wilayah. Ini memang bukan faktor penting namun setidaknya untuk keadilan ini bisa dipertimbangkan. “Paling tidak untuk pemerataan pembangunan dengan adanya keterwakilan wilayah. Kan Fachrori dari barat, boleh dipilih dari timur,” tandasnya.