JERNIH.CO.ID, Jambi - Hikmah pagi lama tidak mengudara, mohon maaf jika belum bisa istiqomah. Namun in sya Allah kami berusaha terus untuk menyajikan yang terbaik untuk semuanya.
Pada hakikatnya manusia memiliki tabi’at yang berbeda-beda, ada seseorang yang mudah memberi dan ada juga yang hanya meminta saja. Ada yang memberi karena adanya tekanan, ada juga karena mengharapkan pujian dan tidak sedikit yang merasakan nikmatnya berbagi.
Ada seorang penyair yang bersenandung,
Tidaklah kamu memberi karena mengharapkan imbalan atau karena takutnya hartamu berkurang ** akan tetapi engkau merasakan nikmatnya berbagi.
Pada suatu hari, Abdullah bin Jafar melakukan suatu perjalanan. Ketika sampai di sebuah kebun kurma, dia berhenti kemudian beristirahat. Pada saat itu, dilihatnya seorang budak belia yang sedang menjaga kebun kurma tersebut. Ia melihat budak itu mengeluarkan bekalnya berupa tiga potong makanan. Tiba-tiba, seekor anjing datang menghampirinya sambil mengonggong dan menjulurkan lidahnya sebagai tanda ingin memakan makanan yang dikeluarkan oleh budak tersebut. Kemudian budak itu pun melemparkan sepotong makanannya ke arah anjing tersebut dan anjing itu pun memakanya.
Kemudian dilemparkan pula sepotong lagi dan dimakannya pula. Walau sudah dapat dua potong makanan, anjing itu tidak juga meninggalkan budak tersebut.
Maka, ia pun melemparkan lagi makanannya untuk ketiga kalinya dan anjing itu kembali memakannya. Akhirnya, habislah semua bekal makanannya. Abdullah bin Jafar yang melihat hal itu sangat heran dan kagum, karena si budak tersebut telah memberikan semua makanannya kepada anjing itu. Lantas Abdullah menghampirinya, lalu berkata, “Wahai anakku, berapa banyakkah bekal makananmu sehari di tempat ini?”
“Tiga potong saja yang kesemuanya telah dimakan oleh anjing tadi,” jawabnya. Abdullah dengan rasa penasaran bertanya kembali, “Mengapa engkau berikan semua kepada anjing itu? Dan apa yang nanti akan engkau makan?”Ia menjawab, “Wahai tuan, tempat ini bukanlah kawasan anjing. Jadi, saya yakin dia datang dari tempat yang jauh, dan tentu dia sangat lapar. Sedang aku sendiri, biarlah aku tidak makan hari ini.”
Mendengar hal tersebut, Abdullah bin Ja’far kagum dengan kemuliaan si budak tersebut. Ia berguman dalam dirinya “demi Allah budak ini lebih pemurah dari saya”, ia orang yang paling mulia.
Akhirnya, Abdullah bin Jafar membeli kebun kurma dan memerdekakan budak tersebut dari tuannya serta kebun kurma itu diberikan kepadanya. Setelah itu, dia pergi meninggalkan tempat itu untuk meneruskan perjalanannya.
Jika ini seorang budak belia enggan melihat anjing yang kelaparan maka ia memberikan jatah makanya hari itu, bagaimana dengan kita??
Seorang penyair berkata,
Serupailah orang yang mulia jika engkau tidak bisa menjadi seperti mereka ** Karena sesungungguhnya menyerupai orang mulia adalah sebuah keberuntungan besar. (Lihat: Sahirul Layali Fi Riyadlil Jannah, Hal: 210-211).
Memang berjuang dan berkorban di jalan Allah sungguh berat, namun akhirnya pasti nikmat dan lezat. Karena bukan hanya manusia bumi yang membantu tapi Allah juga akan mengerahkan manusia langit yang tidak nampak.
Semoga kita senantiasa isiqomah dan dijaga selalu oleh Allah Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.