Cuma Masalah Konteks!

Penulis: Redaksi - Selasa, 11 Mei 2021 , 23:14 WIB
Amri Ikhsan
Istimewa
Amri Ikhsan


Oleh: Amri Ikhsan 

Sebentar lagi lebaran. Namun karena masih dalam suasana pandemi, pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama. Nah, Bapak, Ibu, Saudara-saudara, yang rindu kuliner daerah atau mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online.

"Yang rindu makan gudeg Yogya, bandeng Semarang, siomay Bandung, pempek Palembang, Bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya tinggal pesan dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah. (Presiden Jokowi)

Media sosial Twitter ramai dengan trending topic #Bipang. Bipang ramai dibicarakan setelah dipublikasikannya video pidato Presiden Joko Widodo yang mengajak masyarakat belanja kuliner secara online di Hari Bangga Buatan Indonesia (BBI). (Kompas)

Penyebutan makanan khas Kalimantan Bipang Ambawang sebagai makanan yang disantap dalam konteks hari Idul Fitri. Bipang Ambawang sendiri merupakan makanan berbahan daging babi, yang dimana warga muslim dilarang memakan daging babi.

Staf Khusus Presiden, Fadjroel Rahman, melalui akun media sosialnya ikut menanggapi mengenai bipang. Menurut dia, bipang sama dengan jipang yang merupakan makanan tradisional yang berasal dari beras. "Ini BIPANG atau JIPANG dari beras. Makanan kesukaan saya sejak kecil hingga sekarang. BIPANG atau JIPANG dari beras ini memang makanan hit sampai sekarang ya. Nuhun ~ #BungFADJROEL #Bipang," tulis Fadjroel dalam twitnya.

Pemilik akun Twitter @Hilmi28, Hilmi Firdausi: "Assalamu’alaikum Pak @jokowi, mhn diklarifikasi ttg oleh2 lebaran Bipang Ambawang karena itu adlh babi panggang yg jelas haram bagi muslim, apa lagi ini Idul Fitri hari raya ummat Islam, tdk elok rasanya. Apakah ini disengaja, atau karena bapak tdk tau? Tks atas jawabannya," twit akun @Hilmi28. (Kompas)

“Orang yang merayakan lebaran gak makan babi panggang. Haram Pak (Presiden Jokowi) haram”. dari akun Twitter pribadinya, @YanHarahap, Sabtu 8 Mei 2021. (PR)

Wasekjen Gerindra, Kawendra Lukistian: "Saya sangat menyayangkan sekali, dalam konteks ucapan lebaran, imbauan jangan mudik dan oleh-oleh khas lebaran. Presiden malah menyebutkan makanan yang tidak related dengan kebiasan umat Islam. (kumparan)

Sementara itu PKS meminta Presiden Jokowi agar lebih berhati-hati dalam berpidato.: "Bagi PKS, ini merupakan bentuk blunder dan kurang sensitifnya Presiden Jokowi. Kami meminta agar Presiden Jokowi lebih berhati-hati, melihat konteks yang tepat serta lebih menjaga perasaan umat Islam sehingga menghindari munculnya kehebohan yang tidak perlu. (Ketua Departemen Politik DPP PKS, Nabil Ahmad Fauzi)

Kegaduhan dari pernyataan kontroversi Presiden pun langsung coba diredam Kementerian Perdagangan selaku pemilik video tersebut. "Berkaitan dengan pernyataan mengenai Bipang Ambawang, kita harus melihat dalam konteks secara keseluruhan. Pernyataan Bapak Presiden ada dalam video yang mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai dan membeli produk local. "Kami meminta maaf sebesar-besarnya jika terjadi kesalahpahaman. (Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi)

Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mengaku heran apa yang salah dengan pidato tersebut. "Beliau kan presiden Indonesia kalau kemudian memperkenalkan umpama kaya bipang terus apanya yang salah? itu kan presiden Indonesia, presiden dari seluruh rakyat Indonesia dari orang Katolik, Protestan, Hindu, Budha Konghucu, aliran kepercayaan lain, memang kalau bipang itu khas lokal Kalimantan, tapi kan bukan untuk orang Islam itu makanan, itu kan produk lokal, terus di mana salahnya kok jadi ribut.

Beragam respon terhadap pernyataan Presiden Jokowi menunjukkan adanya perbedaan konteks dalam memahami pernyataan itu. Memang bahasa selalu diungkapkan dalam konteks. Menurut Rustono (1999:20) konteks adalah sesuatu yang menjadi sarana penjelas suatu maksud. Sarana itu meliputi dua macam: Konteks yang berupa bagian ekpresi yang dapat mendukung kejelasan maksud itu disebut ko-teks (co-teks). Sementara itu, konteks yang berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian lazim disebut konteks (context) saja.

Konteks ini mempengaruhi interpretasi pendengar terhadap ujaran (wacana). Oleh karena itu, bahasa hanya memiliki makna jika berada dalam suatu konteks situasi, sebab konteks yang akan menentukan makna sebuah ujaran berdasarkan situasi. Artinya, konteks situasi sangat berpengaruh dalam berinteraksi.

Apabila ada pihak menginterpretasikan sebuah penyataan tanpa melihat konteksnya (tempat dan kapan pernyataan diucapkan, siapa yang menuturkan, siapa mitra tutur, apa tujuannya, cara penutur mengungkapkan gagasannya, bahasa apa yang dipakai, apakah penutur bertanya, memberitahu, memerintah atau meminta tolong, dan dalam suatu kegiatan apa maka diragukan apakah dapat menangkap informasi yang sesungguhnya.

Ramainya dimedia social perihal pernyataan Presiden Jokowi tentang Bipang Ambawang karena mitra tutur Presiden mengambil kanteks yang berbeda beda. Padahal maksud yang sebenarnya dari pernyataan itu hanya Presiden sendiri yang tahu. Pendengar sebagai mitra tutur presiden hanya bisa menebak maksud pernyataan itu dari konteks pembicaraan.

Perbedaan melihat konteks menimbulkan berbagai macam interpretasi, ada yang membela dengan konteksnya dan disisi lain ada yang mengkritik dengan konteksnya sendiri. Ini wajar dan natural. Kita seharusnya siap menerima perbedaan interpretasi ini.

Pertama, ada pihak yang melihat kontek siapa yang berbicara, yakni seorang Presiden Republik Indonesia. Menurut pihak ini, wajar dan tidak ada salahnya seorang presiden memperkenalkan salah satu kuliner khas nusantara.

Kedua, waktu pembicaraan. Banyak pihak mempertanyakan waktu presiden meng-endrose jenis kuliner ini, yakni dalam bulan puasa Ramadan, dimana umat islam sedang berpuasa, sedangkan makanan yang diperkenalkan adalah ‘babi’ yang merupakan makan haram bagi umat islam.

Ada juga pihak yang melihat waktu pernyataan bukan pada saat puasa atau lebaran tapi waktu Hari Bangga Buata Indonesia (BBI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan. Jadi, suatu yang wajar Presiden memperkenalkan kuliner khas kalimatan tersebut.

Ketiga, mitra tutur, lawan bicara atau partisipan. Pernyataan presiden berbicara tentang lebaran, secara tidak langsung mitra tutur presiden adalah kaum muslim yang sedang puasa yang biasanya akan mudik atau pulang kampung. Presiden meminta umat islam untuk tidak mudik, dan kalau ingat orang tua, boleh kirim makanan ke kampung. Dan salah satu kuliner yang disarankan adalah bipang ambawang, babi bakar yang haram dimakan oleh umat islam.

Keempat, ada juga pihak memperhatikan norma dalam berbicara. Dalam hal ini, banyak pihak yang mempertanyakan: Apa memang presiden tidak tahu bahwa Bipang Ambawang terbuat dari babi atau memang sengaja untuk memperkenalkan kuliner ini ke publik.

Kelima, konteks ‘hasil’ atau ends, yakni pernyataan Presiden ini bertujuan untuk menggairahkan perekonomian, sesuai dengan konteks acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan untuk promosi çintai dan beli produk lokal.

Keenam, ada juga pihak yang melihat konteks sensitivitas diksi yang gunakan, yakni, pihak yang ‘menulis’ konsep untuk Presiden. Pihak ini menilai Tim komunkasi Presiden gagal memberikan ‘kata’ yang bisa menyejukkan semua pihak.

Yang penting adalah hindari berpendapat bahwa interpretasi kitalah yang paling benar, yang lain salah. Kalau ada pihak yang menginterpretasikan pernyataan Presiden dalam konteks politik, maaf saya tidak paham. Ini analisis bahasa, bukan analisis politik.  Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin!

(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID