Harga Kedelai Naik Imbas dari Perang Rusia-Ukraina

Penulis: Anil Hakim , Editor: Muhammad Sapi'i - Sabtu, 26 Februari 2022 , 12:58 WIB
Menteri Perdagangan, M. Lutfi
Anil Hakim/Jernih.id
Menteri Perdagangan, M. Lutfi


JERNIH.ID, Jambi - Beberapa waktu lalu Rusia telah melancarkan serangannya di semenanjung Ukraina. Memburuknya hubungan antara Rusia dan Ukraina menjadi salah satu pemicu kenaikan harga bahan pokok di Indonesia.

"Jadi kita ketahui sekarang terjadi keributan atau terjadi invasi militer di semenanjung Ukraina," ungkap Menteri Perdagangan, M. Lutfi, Jumat (25/2) kemarin saat sidak di Pasar Angso Duo Baru Jambi.

Lutfi mengungkapkan, jika Rusia dan Ukraina merupakan salah satu penyumbang terbesar terigu dunia.

"Ukraina dan Rusia itu penyumbang 25 persen kebutuhan untuk terigu dunia. Karena terigunya naik tentu berdampak pada barang lain, termasuk kedelai dan juga termasuk CPO kita juga akan naik tinggi " kata Lutfi.

Pada saat sidak yang dilakukannya menyusul kenaikan harga minyak goreng di Jambi, Lutfi mengatakan bahwa Indonesia masih bergantung kepada impor kedelai dari luar negeri.

"Tahun lalu kita mengimpor lebih dari 2,5 juta atau lebih dari 90 persen kedelai kita, karena hasil dari tahun lalu itu tidak lebih dari 10 persen atau 250 ribu ton," ujarnya.

Luthfi juga berjanji, bahwa Kementerian Perdagangan dan Dirjen akan bekerja keras agar harga tahu tempe di pasaran bisa lebih stabil.

"Yang kita kerjakan bersama Dirjen itu memberikan harga acuan untuk tahu dan tempe, kita juga akan memediasi antara pengrajin dan pasar-pasar" tegasnya.

Ia juga mengatakan akan mengupayakan, agar masyarakat tidak panik menyikapi kenaikan harga makanan yang menjadi salah satu favorit di Indonesia ini.

"Kalau masih tinggi lagi kita akan coba mitigasi dengan cara lain, dan ini sudah kita putuskan dalam seminggu, dua minggu kedepan. Mudah-mudahan bisa membantu pengrajin dan rakyat, terutama yang sangat membutuhkan," tutupnya.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID