Guru yang Membaca

Penulis: Redaksi - Sabtu, 30 Oktober 2021 , 21:34 WIB
Amri Ikhsan
Dok Amri Ikhsan
Amri Ikhsan


Oleh: Amri Ikhsan

Banyak manfaat membaca: menghilangkan kecemasan dan kegundahan, ketika sibuk membaca terhalang masuk kedalam kebodohan, dengan membaca bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata. (Dr. Áid Al-Qarni dalam bukunya La Tahzan)

Guru merupakan sosok yang mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi siswa. Guru merupakan fasilitator dalam pembelajaran untuk menunjang prestasi siswa. Pada masa pandemi guru harus mampu melakukan pembelajaran secara daring atau luring. Maka, guru mestinya memiliki pengetahuan ‘lebih’ untuk mengelola pembelajaran ini agar siswa bisa belajar dengan senang tanpa beban berarti.

Pandemi Covid-19 membuat semua berubah. Untuk beradaptasi dengan ‘kehidupan baru’ ini, guru harus menyiapkan diri. Meskipun dalam keadaan tidak biasa karena pandemi, persiapan guru harus serius, dan ini harus dimulai dengan membaca.

Karena berat dan luasnya cakupan tugas, tentu tidak sembarangan orang dipilih menjadi guru. Diyakini, hanya guru yang pembaca ulung yang bisa menduduki posisi ini: (1) cakupan tugas guru itu sangat luas, tidak mungkin guru menyesuaikan tugasnya hanya di kelas, maka membacalah cara lain untuk mengetahui strategi yang paling pas dalam pembelajaran; (2) guru itu berhadapan dengan siswa  dari berbagai suku bangsa, berbagai tradisi, berbagai budaya, tidak mungkin guru itu melihat langsung kelapangan, membaca adalah cara lain untuk mengidentifikasi hal itu; (3) Kebutuhan, keinginan siswa sangat bervariasi, tidak mungkin guru itu berinteraksi dengan setiap individu, membaca adalah metode untuk memantau hal itu.

Selanjutnya (4) siswa itu memiliki potensi dan sumber daya yang berbeda, bakat, minat dan hobi yang tidak sama, dengan membacalah guru mencari referensi bagaimana memanfaat potensi itu; (5) sekolah/madrasah bervariasi sarana dan prasarana yang dimiliki, untuk menambah preferensi memanfaatkan modal ini, guru bisa menelusuri melalui membaca; (6) siswa sering ‘bermasalah’, menanggulangi masalah ini dengan cepat, tepat dan akurat, tentu guru harus membaca literatur yang relevan; dan (7) guru tidak bisa hidup sendiri harus menjalin kerja sama dengan pihak lain, membaca akan menambah kompetensi guru dalam berkomunikasi, dll.

Guru yang serius dalam membaca adalah: pertama, yang dibaca harus sesuai dengan kompetensi dan jurusannya. Sebaik dan sebagus apapun buku yang diberikan, tidak akan dibaca serius bila isi buku itu tidak sesuai dengan ‘ilmu’ dari guru itu. Bisa jadi isi buku itu ‘tidak nyambung’ dengan latar belakang pengetahuan guru itu.

Kedua, berkarakter rajin tidak malas, sekomunikatif dan serelevan apapun buku yang ditawarkan kepada guru itu tidak akan dibaca, tidak akan dipelajari bila guru itu malas. Guru yang malas tidak akan tertarik sama sekali untuk membaca untuk meningkatkan kompetensi.

Ketiga, buku itu ‘dicarikan’ oleh orang lain, bukan dia sendiri yang menyukai buku itu. Semenarik apapun buku yang diberikan tidak akan dibaca bila buku itu ‘dibeli’ oleh orang lain atau melalui perantara orang lain.

Keempat, buku yang dipaksakan, seelok-eloknya buku, tidak akan tersentuh bila buku itu dipaksakan untuk dibaca, walaupun membaca buku itu baik dan bermanfaat bagi dia dan siswanya.

Kelima, buku sebagai hadiah, seinformatif apapun buku, tidak terbacakan, bila buku itu ‘hadiah’ yang bisa jadi tidak sesuai dengan selera penerima hadiah.

Bagi guru, membaca bukan sekedar untuk mengerti arti kata, arti kalimat dan jalan cerita sebuah kisah. Membaca bukan sekedar untuk ngerti dan sekedar tahu. Membaca itu untuk mengolah rasa, mengasah kepekaan, serta membangkitkan kesadaran. Membaca bukan sekedar literasi aksara. Membaca adalah menelaah, mendalami, meneliti permasalahan siswa untuk dicari solusinya.

Guru yang membaca adalah guru yang ‘tenang’, tidak grasak-grusuk.  Karena membaca membutuhkan ‘ruang tenang’. Guru yang membaca adalah guru yang memiliki kepekaan dan kesadaran. Kesadaran terhadap dirinya, kekuatan dan kelemahannya dan kepekaan terhadap sekelilingnya. Guru yang membaca tidak mudah mengeluh, tidak membuang waktu berdebat untuk hal yang tidak jelas dasarnya.

Guru yang membaca tahan terhadap kritik. Apapun keputusan yang diambil sudah diolah, didiskusikan dan sudah membaca ‘kajian teori’ dan ‘previous studies’ (kebijakan yang diambil orang lain yang serupa) sehingga punya rujukan dalam membuat keputusan itu.

Guru harus mampu membaca “sekolah  dan “siswa”. Dengan membaca “sekolah”, guru menganalisa peluang dan tantangan di sekolah/madrasah yang diajarkanya. Membaca “siswa”, guru berusaha membangun jembatan komunikasi supaya lebih dekat dengan siswa untuk mencari solusi dengan melihat ke dalam (inward looking) dan bukan sibuk berteriak menyalahkan pihak lain.

Hyatt menyebutkan alasan kenapa guru itu harus membaca: Pertama, membaca membentuk cara berpikir yang lebih baik dan salah satu cara paling efisien untuk memperoleh informasi. Guru memerlukan pengetahuan umum agar mampu menjalankan tugasnya.

Kedua, membaca meningkatkan kemampuan analisa dan mengenali pola dan kaitan di antara berbagai informasi yang seolah tidak saling berkaitan. 

Ketiga, membaca meningkatkan dan memperoleh wawasan tentang siswa yang membantunya menjadi guru profesional. Membaca meningkatkan kecerdasan emosinya yang membuatnya mampu menciptakan hubungan kerja yang harmonis, memahami motivasi siswa.

Keempat, membaca melatih komunikasi, Luasnya topik bacaan memperkaya perbendaharaan kata dan membantu komunikasi yang lebih akurat dan menyediakan kata-kata yang lebih persuasif sehingga mendorong siswa berperilaku seperti yang diharapkan.

Dengan membaca, guru akan menjauhkan diri dari potret negatif kinerja ASN: (1) pelayanan yang bertele-tele dan cenderung birokratis; (2) biaya yang tinggi dan adanya pungutan-pungutan tambahan); (3) perilaku yang lebih bersikap sebagai pejabat ketimbang abdi masyarakat; (4) pelayanan yang diskriminatif; (5) adanya perilaku malas dalam mengambil inisiatif di luar peraturan; (6) masih kuatnya kecenderungan untuk menunggu petunjuk atasan; (7) sikap acuh terhadap keluhan masyarakat; (8) lamban dalam memberikan pelayanan; (9) kurang berminat dalam men-sosialisasikan berbagai peraturan kepada masyarakat. (asncpns.com)

Akhirnya, selamat membaca dan semoga sukses!

(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID