Hikmah Pagi: Asma’ Binti ‘Umais

Penulis: Redaksi - Rabu, 26 Juni 2019 , 09:45 WIB


JERNIH.ID, Jambi - Tatkala nabi kembali dari perang Khaibar, berjumpa dengan Ja’far Ibn Abi Thalib dan istrinya Asma Binti ‘Umais dan bersama mereka para muhajirin yang kembali dari negeri Habasyah.

Nabi sangat bahagia sekali kebahagian nabi yang pertama yaitu, kemenangan di Khaibar menjadi tanda melemahnya kekuatan Yahudi dalam melawan Islam. Kaum Muslim kembali ke hadapan Rasulullah dengan penuh kebahagiaan setelah lama dikucilkan dan berpisah dengan keluarga. Jiwa mereka merasa aman dengan kokohnya kekuatan Islam dan perlindungan Allah.

Kedua adalah kabar kepulangan Ja'far bin Abu Thalib dan istrinya merupakan kebahagiaan yang luar biasa dirasakan oleh Rasulullah dan umat Muslim. Sepulang dari hijrah, Asma langsung menemui para istri Nabi Muhammad (ummahatul mukminin) untuk saling melepas rindu. (Lihat: ‘Indama Yahlu al-Masaa, Hal: 66-67).

Asma adalah sosok wanita shalihah dari kalangan muhajirin, suatu hari pernah bersitegang dengan Umar. Yaitu disaat Umar mendatangi Hafshah anaknya yang pada waktu itu kebetulan bersama dengan Asma’. Umar langsung bertanya “siapakah dia?” Menjawablah Hafshah, “beliau adalah Asma’ binti ‘Umais.” Lalu Umar bertanya lagi “apakah dia berkebangsaan Habsy?” Asma’ langsung menjawab, “iya”. Berkatalah Umar untuk kesekian kalinya “Hijrah kita lebih dahulu daripada hijrahnya bangsa kalian, dan kita mempunyai kedekatan dengan Rasulullah daripada kalian.”

Mendengar perkataan itu, sontak Asma langsung berujar, “demi Allah, perkataanmu itu tidak benar.” Kalian lebih diuntungkan di saat bersama dengan Rasulullah. Rasulullahlah yang telah memberi makanan kepada kalian dan juga telah mengeluarkan kalian dari kebodohan. Ini berbeda sekali dengan kondisi kita yang berada di tempat yang sangat jauh, sehingga tidak memungkinkan Rasulullah memberi kita makan maupun minum. Kita selalu dihinggapi rasa ketakutan dan kesedihan lantaran keimanan kita kepada Rasulullah. Ini semua murni karena keimanan kita kepadanya.

Kemudian, tatkala Rasulullah datang menghampiri mereka, berkatalah Asma’: “ya Rasulullah, Umar telah berkata seperti ini dan itu (sebagaimana di atas).” Rasulullah memberikan nasehat, “apa yang kamu sampaikan kepada Umar?” Asma’ mengatakan kepada Rasulullah sebagaimana yang telah ia katakan kepada Umar. Rasulullah bersabda, “tidak ada orang yang lebih berhak atas diriku dari pada kalian. Umar dan para sahabatnya hanya melakukan Hijrah sekali saja, berbeda dengan kalian yang telah melakukan Hijrah bersamaku sebanyak dua kali.”

Mendengar perkataan itu, Asma’ dan orang-orang yang telah melakukan Hijrah ke tanah Habsy merasa bergembira sekali.

Beberapa saat setelah peristiwa tersebut, perang kembali terjadi. Kali ini pertempuran terjadi di Mu'tah melawan pasukan al-Ghasasanah. Dalam pertempuran itu, Ja'far bin Abi Thalib, suami Asma binti Umais, syahid di medan perang. Meninggalkan tiga anak yaitu Abdullah, Muhammad dan ‘Aun.

Setelah masa iddah berakhir, Asma menikah dengan Abu Bakar ash-Shiddiq. Abu Bakar menghormati Asma karena mengetahui kedudukan dan kekuatan imannya. Dari pernikahan ini lahir Muhammad bin Abu Bakar.

Sepeninggal Abu Bakar, Asma binti Umais menikah dengan ‘Ali bin Abi Thalib. Anak-anak Asma dari kedua suaminya terdahulu tinggal di rumah Ali.

Inilah salah seorang shahabiyyah yang tercatat dalam dokumen sejarah yang namanya jarang diperbincangkan, beliau adalah Asma Binti ‘Umais seorang yang dijuluki dengan gelar Shohibu Hijrotain (orang yang pernah dua kali hijrah), menikah dengan dua orang syahid (Ja’far Ibn Abi Thalib dan Ali Ibn Abi Thalib), menikah dengan dua khalifah (Abu Bakr ash-Shiddiq dan Ali Ibn Abi Thalib) dan dijuluki wanita yang menyaksikan dua qiblat (qiblat sewaktu di baitul maqdis juga masjidil haram). (Lihat: Siyar A’lamin Nubala’, Jilid: 1/216-217).

Semoga kita nanti dikumpulkan dengan orang-orang shalih Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID