Ketua SMSI Provinsi Jambi sampaikan duka mendalam berpulangnya Zulmansyah Sakedang JERNIH.ID, Jambi - Duka mendalam menyelimuti dunia pers nasional atas berpulangnya H. Zulmansyah Sakedang, Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat periode 2025 - 2030.
Kepergian sosok yang dikenal luas sebagai jembatan komunikasi antara pusat dan daerah ini meninggalkan kehilangan besar, khususnya bagi insan pers di berbagai wilayah.
Almarhum bukan hanya seorang organisator ulung, tetapi juga figur yang mampu merangkul dan menghidupkan semangat kebersamaan di tubuh organisasi. Gaya kepemimpinannya yang terbuka, komunikatif, dan responsif membuatnya dekat dengan banyak kalangan, dari pengurus pusat hingga wartawan di daerah.
Rasa kehilangan itu secara mendalam dirasakan oleh Mukhtadi Putra Nusa, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Jambi sekaligus pengurus PWI Pusat.
Mukhtadi Putra Nusa menyebut, kepergian Zulmansyah bukan hanya kehilangan bagi organisasi, tetapi juga kehilangan pribadi yang sangat berarti dalam perjalanan hidup dan kariernya.
“Dunia pers kembali berduka. Kita kehilangan sosok yang tidak hanya bertalenta dan kharismatik, tetapi juga memiliki dedikasi tinggi terhadap kemajuan organisasi dan insan pers di seluruh Indonesia,” ujar Mukhtadi dengan nada penuh haru.
Mukhtadi mengenang perjalanan panjang persahabatan mereka yang dimulai sejak sama-sama meniti karier sebagai wartawan di Pekanbaru. Dari fase perjuangan di lapangan hingga berada di lingkar organisasi nasional, hubungan keduanya tetap terjalin erat.
“Almarhum itu sahabat terbaik saya. Kami tumbuh bersama dalam dunia jurnalistik. Dari bawah, penuh tantangan, hingga akhirnya masing-masing mengemban amanah di organisasi. Itu yang membuat hubungan kami bukan sekadar rekan kerja, tapi sudah seperti saudara,” kenangnya.
Lebih jauh, Mukhtadi menuturkan bahwa Zulmansyah adalah pribadi yang tidak pernah mengeluh dalam menghadapi tekanan tugas. Justru sebaliknya, almarhum dikenal sebagai sosok yang menikmati tantangan dan selalu berusaha mencari solusi di setiap persoalan organisasi.
Namun yang paling membekas bagi para wartawan daerah, lanjut Mukhtadi, adalah sikap keterbukaan dan kepedulian almarhum yang tidak pernah membatasi jarak.
“HP-nya tak pernah tidak diangkat bila dihubungi. Pesan WhatsApp pun hampir tidak pernah tidak dibalas. Di tengah kesibukannya sebagai Sekjen PWI Pusat, beliau tetap meluangkan waktu untuk kami di daerah,” ungkapnya.
Bagi wartawan di daerah, sosok Zulmansyah bukan sekadar pejabat organisasi, melainkan tempat bertanya, berdiskusi, hingga berkoordinasi terkait dinamika organisasi dan persoalan jurnalistik.
“Beliau itu seperti pengayom. Kami di daerah merasa punya tempat mengadu, punya arah. Setiap ada kebingungan, beliau hadir memberi solusi. Itu yang jarang dimiliki oleh sosok lain,” tambah Mukhtadi.
Kepergian Zulmansyah Sakedang, menurutnya, meninggalkan jejak yang tidak mudah tergantikan. Dedikasi, loyalitas, serta semangat kebersamaan yang ia bangun menjadi warisan berharga bagi generasi wartawan ke depan.
“InsyaAllah segala amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT. Dan yang paling penting, nilai-nilai yang beliau tanamkan tentang loyalitas, komunikasi, dan kepedulian akan terus kami lanjutkan,” tutupnya.
Dunia pers Indonesia kini kehilangan salah satu putra terbaiknya. Namun, semangat dan keteladanan almarhum diyakini akan terus hidup dalam setiap langkah insan pers yang pernah mengenalnya. (*/JR2)