Hikmah Pagi: Rabi’ah ar-Ra’yi Ibn Farrukh (W. 136 H) Bagian Akhir

Penulis: Redaksi - Senin, 01 Juli 2019 , 10:03 WIB


JERNIH.ID, Jambi - Farrukh berusaha melihat wajah Syaikh yang luar biasa itu tetapi nihil, karena orang-orang terlalu padat dan jaraknya yang cukup jauh. Dia kagum dengan segala perkataan Syaikh itu, juga pada ingatannya yang tajam dan ilmunya yang luas dan memukau, dan antusias hadirin untuk mendengarkannya.

Beberapa waktu kemudian majelis itupun usai. Syaikh berdiri dari tempatnya, sementara orang-orang langsung berkerumun dan mengiringkan Syaikh tersebut hingga keluar masjid.

Farrukh yang belum beranjak dari tempatnya bertanya kepada salah seorang jama’ah (Fulan) yang di sebelahnya,

Farrukh: “Siapakah Syaikh yang baru saja berceramah?”
Fulan: “Apakah Anda bukan penduduk Madinah?”
Farrukh: “Saya penduduk sini.”
Fulan: “Masih adakah di Madinah ini orang yang tak mengenal Syaikh yang memberikan ceramah itu?”
Farrukh: “Maaf, saya benar-benar tidak mengetahui karena sudah sejak 30 tahun lalu saya meninggalkan kota ini dan baru kemarin saya kembali.”

Fulan: “Tidak apa, duduklah sejenak, akan kami jelaskan. Syaikh yang Anda dengarkan ceramahnya tadi adalah seorang tokoh ulama tabi’in, termasuk di antara ulama yang terpandang, dialah ahli hadis dan ahli fikih, majelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Abu Hanifah an-Nu’man, Yahya bin Sa’id al-Anshari, Sufyan ats-Tsauri, Abdurrahman bin Amru al-Auza’i, Laits bin Sa’id dan lain-lain.”

Ia adalah Rabi’ah ar-Ra’yi bin Farukh, ayahnya meninggalkan Madinah sebagai mujahid fi sabilillah, lalu ibunyalah yang memelihara dan mendidiknya hingga ia dewasa. Akan Tetapi, sebelum shalat tadi, kami mendengar dari orang-orang bahwa ayahnya telah datang kemarin malam.

Tiba-tiba saja Farukh melelehkan air mata, tanpa lawan bicaranya mengetahui penyebabnya. Kemudian beliau mempercepat langkahnya untuk pulang.

Begitu melihat suaminya datang sambil meneteskan air mata, ibunda Rabi’ah bertanya: “Ada apa wahai Abu Abdirrahman?” Beliau menjawab, “Tidak apa-apa, saya melihat putra saya berada dalam kedudukan ilmu dan kehormatan yang sangat tinggi nan mulia, yang tidak saya lihat pada orang lain sampai para pembesar dari para ulama-ulama hadir di dalam majelisnya”.

Kesempatan tersebut dipergunakan oleh Ummu Rabi’ah untuk menjelaskan tentang harta amanat suaminya yang ditanyakan sebelumnya. Dia berkata: “Menurut Anda manakah yang lebih Anda sukai, uang 30.000 dinar atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?” Farrukh berkata, “Demi Allah, bahkan ini lebih saya sukai daripada dunia dan seisinya.”

Ummu Rabi’ah berkata, “Ketahuilah wahai suamiku, saya telah menghabiskan semua harta amanatmu itu untuk membiayai pendidikan putra kita. Ridhakah Anda dengan apa yang telah saya perbuat?”Farrukh berkata, “Ya, semoga Allah membalas jasamu atasku, anak kita dan juga kaum muslimin dengan balasan yang lebih baik.”

Anak yang shaleh tidak bisa diukur dengan banyaknya harta, semoga Allah senantiasa menjaga kita semuanya dan menjadikan keturunan kita anak yang sholeh dan sholehah yang senantiasa mendo’akan orang tuanya Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID