Ustadz Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA Oleh : Ustadz Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA*
JERNIH.ID, Kota Jambi - Setiap kita pasti menginginkan amaliyah yang akan terus mengalir sampai menjadi pemberat di yaumil mizan. Amal yang menjadi pemberat sangat beraneka ragam, bisa berupa materi maupun inmateri. Seperti membangun sekolah, masjid, pondok pesantren, memberi ide, pikiran, menggunakan kekuasaan di jalan kebaikan dan lain sebagainya.
Salah satu seorang yang tercatat dalam sejarah Islam sebagai seorang pendeta nashrani di Palestina kemudian masuk Islam pada tahun ke-9 H, beliau juga dikenal sebagai orang yang pertama kali menceritakan tentang al-Jassasah (الجساسة : seekor binatang melata berbulu lebat yang berbicara dengan Tamin ad-Dari dan nantinya akan berbicara dengan manusia diakhir zaman) dan cerita tentang Dajjal dan hal ini dibenarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. (Lihat: Lisanul ‘Arab, Jilid; 1/785).
Beliau adalah Tamin ad-Dari (W. 40 H) yang mempunyai julukan Abu Ruqoyyah yang merupakan anak perempuan satu-satunya. Beliau setelah menjadi muallaf adalah seorang yang gigih belajar dan seorang yang zuhud, seorang yang sering mengkhatamkan al-Qur’an bahkan seminggu sekali beliau khatam al-Qur’an.
Semenjak masuk Islam, beliau tinggal di Madinah sampai terbunuhnya Khalifah Utsman bin ‘Affan (W. 35 H). Setelah itu beliau pindah ke Baitul Maqdis di Palestina, tepatnya di desa ‘Ainun. Beliau termasuk salah seorang sahabat yang mengumpulkan al-Qur’an. terdapat sekitar 40 hadits yang beliau riwayatkan dari Rasulullah, salah satunya terdapat dalam Shahih Muslim. Hidup beliau dipenuhi dengan ibadah dan beliau merupakan sosok yang giat shalat malam.
Disamping kegigihan beliau dalam ibadah juga belajar, beliaulah seorang sosok yang menemukan sebuah jariyah yang berusia panjang sampai nanti diakhirat. Beliau merupakan orang yang pertama kali mencetuskan ide dalam penerangan lampu masjid, yang sampai sekarang masih dibutuhkan oleh kita semuanya, apalagi masjid merupakan sentral kegiatan keislaman. (Lihat: Tuhfatul Kiram, Hal: 24).
Bukan hanya itu beliau juga penemu ide membuat mimbar pertama kali, yang terus sampai hari ini mimbar itu kita gunakan. Beliau juga merupakan orang yang pertama kali bercerita dengan cerita yang sangat menarik yaitu tentang “Dajjal”, cerita adalah hal yang penting baik dalam salah satu media pembelajaran maupun ketika ceramah.
Maka tak heran Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah (W. 1415 H) dalam bukunya “Shofahaat Min Shobril Ulama ‘Ala Syadaaidil ‘Ilmi Wat Tahshiil” perah menyampaikan: “Apabila engkau mengajar atau berceramah jangan lupa untuk dibubuhi dengan cerita-cerita yang menarik, karena dengan cerita yang menarik dan membangkitkan jiwa akan membuat para pendengar menjadi lebih semangat dan menjadi pusat perhatian jamaah.
Maka jariyah Tamim ad-dari tidak akan pernah hilang, karena sampai sekarang akan terus dibutuhkan, dan in sya Allah akan menjadi pemberat nanti di yaumil hisab.
Tamim ad-Dari menghembuskan nafas terakhir pada tahun 40 H di Palestina.
Semoga kita bisa menjadikan ‘amal kita terus mengalir dan menjadi saksi di hari akhir, dan kita nanti diakhirat dikumpulkan dengan orang-orang sholeh ditempat yang paling indah Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.
*Mudir Ponpes Darul Arifin Jambi