Ustadz Darul Arifin Oleh: Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA
Nabiyullah Muhammad telah meminang Sayyidah ‘Aisyah dengan mahar 500 dirham perak. Dan tatkala beliau sudah menetap di madinah, setelah usai membangun masjid dan rumah baru. Kemudian Abu Bakr berbincang dengan nabi seusai akad nikah. ‘Aisyah pernah bercerita tentang pernikahannya:
Tatkala Nabi sampai di Madinah, singgah di kampung Bani al-Harits bin Khazraj. Lalu ibu saya, Ummu Ruman mendatangi saya, ketika itu saya duduk di ayunan bersama anak-anak sebaya. Lalu ibu saya memanggil, saya pun mendatanginya, saya tidak tahu apa yang ingin beliau sampaikan. Beliau menggandeng dengan erat, lalu berhenti di depan pintu sebuah rumah. Saya pun menarik nafas panjang, untuk menenangkan diri. Kemudian ibu mengambil air, dan beliau mengusap wajah dan kepala saya. Lalu ibu mengajak saya masuk ke rumah tersebut, ternyata di dalam sudah berkumpul para orang Anshar baik laki-laki maupun perempuan. Mereka pun mendo’akan kebaikan dan keberkahan. Lalu ibu menyerahkan saya ke para wanita itu, dan mereka mendandani saya. Tidak saya prediksi sebelumnya, ternyata telah datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di waktu dhuha. Ibu menyerahkan saya ke beliau.
Beliau besar di rumah seorang Nabi, maka apapun yang dilakukan Rasulullah beliau melihat dan cukup interaktif. Hal ini yang menjadikan beliau menjadi pribadi yang matang yang selalu mendapatkan pantauan langsung dari Rasulullah. (Lihat: ‘Indama Yahlu al-Masa’, Hal: 356-357).
Maka tak heran jika Urwah Ibn Zubair putra dari Asma’ (saudari ‘Aisyah) cukup kagum dengan bibinya, mengagumi keilmuan beliau yang multi talenta dan hampir menguasai detail setiap cabang ilmu pengetahuan. Sampai Urwah mengatakan: “Kami cukup ta’ajjub dengan kefaqihan bibi dalam masalah agama”, Sayyidah ‘Aisyah dengan penuh tawdldlu’ mengatakan: “Hal ini wajar, karena saya istri Rasulullah dan saya putri dari Abu Bakr.”
Yang menarik Urwah mengatakan: “Engkau juga mengerti sejarah, silsilah, dan sastra Arab”, Sayyidah ‘Aisyah menjawab: “Kenapa tidak, Ayah saya adalah seorang ‘Ulama suku Quraisy.”
Yang lebih menarik lagi engkau juga enguasai ilmu medis. Dari mana engkau belajar? “Sayyidah ‘Aisyah pun menjawab: Wahai Urwah, Rasulullah sakit sehingga para pakar pengobatan Arab maupun Non Arab sering memberi resep dan saya belajar dari mereka”.
Abu Musa al-Asy’ary juga menguatkan: Tatkala kami para Shahabat nabi merasa sulit memahami sebuah hadits, lalu kami bertanya kepada ‘Aisyah. Kami selalu mendapatkan tambahan ilmu baru darinya. (Lihat: Ummahatul Mukminin Radliyallahu ‘Anhun, Hal: 54).
Demikian sepenggal cerita Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah yang mana wahyu turun di rumahnya, nabi dan para sahabat terbaik (Abu Bakr dan Umar) dikuburkan di rumahnya dan meninggalkan jejak ilmu yang menyejukkan banyak manusia.
Semoga Allah mengumpulkan kita dengan para orang-orang shaleh, kita diselamatkan di dunia maupun di akhirat kelak Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.
(Mudir/Pimpinan Ponpes Darul Arifin)