Respon Protes Warga Soal Limbah: Ini Penjelasan Pihak SPPG Simpang 3 Sipin

Penulis: Redaksi , Editor: Ardy - Jumat, 24 April 2026 , 19:14 WIB
SPPG Simpang 3 Sipin SPPG Simpang 3 Sipin


JERNIH.ID, Jambi -Menanggapi protes warga terkait Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Lorong Darmomulyo, RT 33, Kelurahan Simpang Tiga Sipin karena diduga membuang air bekas limbah ke drainase yang ada di dekat SPPG, Direktur PT Kocai Satu Rasa Mitra SPPG,  Simpang 3 Sipin 001, Ade Ariyanti menjelaskan bahwa air yang mengalir ke drainase tersebut bukanlah limbah dari dapur SPPG. Namun air tersebut adalah air bekas cuci tangan tukang yang sedang melakukan perbaikan bangunan. Air cucitangannya terkena pelamir dalam pengerjakan mess di SPPG tersebut.

"Selama ini, SPPG kami telah memiliki air sumur resapan, sehingga tidak ada air yang keluar. Jadi semua limbah dari dapur SPPG itu telah dialirkan ke sumur resapan. Nah kebetulan saat ini kami sedang membangun mess. Dan ketidaktahuan tukang, jika air keran yang digunakan untuk cuci tangan saat istirahat terkena cat pelamir dan mengalir ke drainase.  Sehingga air bekas cuci tangan tersebut mengalir ke drainase. Itulah yang membuat air di parit (drainase kecil) menjadi berwarna putih dan tidaklah berbau, sebagaimana diberitakan," katanya, Jumat (24/4/2026).

Pihak SPPG menurut Ade juga sudah mengecek kondisi air di drainase tersebut.  Selain itu, protes terkait informasi pengisian gas mengunakan mobil truk ber-tonase besar yang berdampak rusaknya jalan lingkungan sekitar, Ade menjelaskan bahwa mobil bertonase besar tersebut belumlah sempat masuk karena pihak SPPG, karena memang tidak mendapatkan izin dari RT setempat.

"Namun, karena pihak RT tidak mengizinkan, sehingga mobil tersebut tidak jadi masuk,"beber Ade.

Ade menambahkan bahwa selama 6 bulan beroperasi, pihak SPPG selalu menggunakan mobil standar (kecil) untuk memasok gas. Namun,karena beberapa hari yang lalu, mobil dari pihak pemasok tersebut mengalami kerusakan, pihak Metro Gas yang membawa gas izin masuk untuk menggunakan mobil induk, disaat dibutuhkan gas untuk kebutuhan operasional (masak) SPPG.

"Di awal operasi dulu, SPPG beroperasi memang pernah satu kali Metro Gas memgirimkan dengan kendaraan berukuran besar.  Namun, selama 6 bulan SPPG beroperasi hingga saat ini kami selalu menggunakan mobil lansir (kecil).

Kebetulan beberapa hari lalu pihak Metro Gas menginfokan bahwa mobil kecil yang biasa lansir ada kerusakan, dan jika saat jadwal masok masih rusak, mereka izin untuk menggunakan mobil besar. Kamipun terlebih dahulu meminta izin RT. Karena pihak RT tidak mengizinkan, maka kami pun melarang pemasok gas untuk mengunakan mobil besar tersebut,"ujarnya.

Sebelumnya, beredar informasi adanya protes warga terkait dugaan limbah dari SPPG dan masuknya mobil bertonase besar membawa gas untuk operasional SPPG.  Hingga akhirnya pihak BGN menutup sementara operasional SPPG hari ini hingga kesepahaman para pihak kebali "terbangun"

"Tentunya kami menyesali penutupan sementara ini yang berimbas ke beberapa pihak khususnya relawan yang hari ini dirumahkan dan juga penerima manfaat yang menunggu kedatangan MBG"  tutup Ade.

Sebagai informasi, SPPG ini memliki 47 orang relawan, dimana lebih dari 30 persen diantaranya adalah masyarakat setempat.(*/JR2)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID