Amri Ikhsan Oleh: Amri Ikhsan
Kita sebagai makhluk beragama dan sosial perlu memperhatikan ujaran atau tuturan yang disampaikan saat berkomunikasi baik pada percakapan tatap muka atau di dunia maya. Prinsipnya, ujaran itu mesti berbobot dan bermakna bagi semua pihak, dan harus dihindari ucapan atau tulisan hoaks yang menimbulkan kegaduhan serta perpecahan ditengah masyarakat. Karenanya, Rasulullah SAW pun bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik, atau (jika tidak bisa), maka hendaknya ia diam." (HR. Bukhari & Muslim). Rasululloh hanya memberi dua pilihan: berkata yang baik atau diam.
Harus diakui bahwa berkomunikasi lisan maupun tulisan berdampak pada kehidupan sosial kita. Kemampuan berkomunikasi memiliki handil dalam kesuksesan karier dan kehidupan seseorang. Sebuah ujaran atau tulisan bisa menjadi daya pemersatu yang handal. Tapi dipihak lain, berbicara dapat pula bertindak sebagai suatu daya pemecah belah, dan bisa mempertajam perbedaan ditengah masyarakat. Jadi berbicara atau menulis dapat mendatangkan kedamaian, ketentraman, menumbuhkan cinta dan dapat pula menimbulkan pertikaian, menumbuhkan kebencian.
Lisan/tulisan dapat menyelamatkan manusia dan kadang pula dapat mencelakakan, maka sudah sewajarnya kita menghindari hal-hal yang negatif dalam berkomunikasi: (1) jangan berbicara tentang sesuatu yang tak penting, (2) jangan berbicara berlebih-lebihan, (3) hindari perdebatan yang tidak menguntungkan, (4) hindari pertengkaran, (5) hindari kefasihan bicara yang dibuat-buat, (6) berlebihan bersenda gurau, (7) mengejek dan mentertawakan, (8) membuka aib orang lain, (9) janji dusta, berbohong; (10) mengadu domba. (Al Ghazali).
Tugas kita sebagai makhluk sosial yang selalu berkomunikasi dengan pihak lain adalah menyakini bahwa komunikasi itu bukan hanya sekedar berbagi informasi, tetapi juga bagian dari ibadah dengan mengatakan sesuatu yang dipandang berbobot apabila mampu memberikan jalan keluar dari problematik kehidupan, ujaran yang disampaikan menambah ketenangan bagi lawan bicara.
Agar setiap ujaran atau tuturan bernilai ibadah, maka kita sebaiknya mengikuti petunjuk Al-Qur’an dalam melaksanakan komunikasi dengan sesama baik di dunia nyata maupun di dunia maya:
Pertama, Qaulan Kariman, tuturan penuh pemuliaan, penghormatan, pengagungan, penghargaan, dan lemah lembut kepada lawan bicara, memperhatikan tata krama, tidak menggurui dan santun (Hamim, 2002). Dalam konteks ini, penutur ini mampu membuat orang yang mendengarkannya merasa dihormati dan dimuliakan. Bisa dikatakan, penutur menempatkan posisi lawan bicara pada tempat yang tinggi dan terhormat. Dan dampaknya, terjadi pembicaraan yang kondusif yang saling menguntungkan.
Kedua, Qaulan Maysuran, tuturan yang mudah dipahami, lunak, indah, halus, bagus, sederhana dan optimis (Riyanto, 2012). Proses komunikasi terjadi penuh kegembiraan dan membuat lega perasaan orang yang mendengarnya. Disamping itu ujarannya juga diyakini mudah dicerna, disampaikan dengan lemah lembut, alami dan tidak dibuat-buat.
Seseorang yang mengimplementasikan qulan ini meniatkan diri untuk mempermudah hidup seseorang dengan memberikan informasi yang dibutuhkan lawan bicara. Semua problem lawan bicara didiskusikan secara terbuka dan diberi solusi yang memudahkan. Memudahkan dalam konteks mengajak lawan bicara untuk pandai bersyukur dan berterima kasih dengan ungkapan yang mengispirasi dan memotivasi.
Ketiga, Qaulan Balighan, ucapan yang bersifat benar, komunikatif, menyentuh hati, dan mengesankan (Arifin, 2001). Komunikasi berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan sehingga pesan yang disampaikan efektif, komunikatif, tepat sasaran. Percakapam berlangsung penuh kesetaraan dengan referensi yang sama, pengalaman yang sama, tidak bertele tele, langsung pada pokok masalah.
Pembicara mengungkapkan sesuatu dengan rangkaian kata-kata yang ringkas tapi penuh makna, disajikan dengan gaya bahasa yang indah, fasih dan tegas, tepat sasaran sehingga mengesankan hati yang mendengarkannya. Pembicaraan menyentuh jiwa, kata yang keluar terasa membahagiakan dan kebenaran yang disampaikan tidak memberatkan, mudah diterima.
Keempat, Qaulan Layyinan bermakna ucapan yang lemah lembut, menyentuh hati, penuh keramahan, tidak mengeraskan suara, enak didengar dan menyejukkan hati (Munawwir, 2002). Pembicara menggunakan kata-kata dan ungkapan sehari hari (lingua franca) sehingga mudah dipahami, disampaikan dengan bahasa yang santun, lembut dan beradab, serta menarik perhatian bagi yang mendengarkan.
Tuturan ini mengandung anjuran, ajakan untuk melakukan kebajikan, tidak merendahkan lawan bicara. Ujaran ini disampaikan untuk menyentuh hati tanpa menyinggung kehormatan, martabat lawan bicara. Interaksi ini dilakukan dengan cara yang pantas, waktu yang pas dan bahasa berkelas. Dan walaupun, bisa jadi berisi kritikan, tapi lawan bicara tidak merasakan kritikan itu.
Kelima, Qaulan sadidan bermakna ucapan yang bersifat lemah lembut, jelas, jujur, tepat, dan adil (Arifin, 2001). Tuturan yang disampaikan sesuai kriteria kebenaran, substansi mencakup factual tidak direkayasa atau dimanipulasi, menggunakan redaksi kata-kata yang baik, bahasa yang dekat dengan lawan bicara, tidak menggunakan istilah aneh yang tidak dimengerti. Dan yang pasti ujaran itu bukan hoaks atau kabar bohong.
Orang yang berpartisipasi dalam percakapan ini mengutamakan kejujuran, apa adanya, istiqamah, konsisten. Kalau ada kritik, itu disampaikan secara konstruktif, kritik yang membangun, atau informasi yang mendidik dan disampaikan secara utuh apa adanya, tidak berbasa-basi yang menjebak atau mengecoh.
Keenam, Qaulan Ma’rufan bermakna ucapan yang baik, pantas yang berisi kata-kata sopan, mengandung nasehat dan menimbulkan kebaikan. Baik artinya sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat (Quraish Shihab, 2007). Ucapannya disesuaikan dengan latar belakang dan status lawan bicara sehingga tidak menyinggung perasaan apalagi menyakiti lawan bicara.
Berbicara atau berkomunikasi dengan seseorang tidak hanya berdampak perasaan manusia, tapi juga bisa berpengaruh pada tingkah laku manusia. Manusia bisa marah, sedih, gembira, lega, dll. Atau karena ujaran kita orang bisa berbuat kebajikan atau berbuat dosa. Dalam konteks ini bahasa yang kita sampaikan berhubungan dengan ibadah kepada Allah SWT (Republika).
Ketika kita sedang berinteraksi dengan orang lain, sebenarnya kita sedang menjalin hubungan dengan Yang Maha Kuasa dan harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Oleh karena itu, komunikasi itu dimulai dari niat baik, dan disempurnakan dengan amal baik (Good News is good news).
Komunikasi bukan hanya mempercakapkan suatu topik tertentu. Ujaran dalam komunikasi bukan sekedar diucapkan tapi dilaksanakan. Bahasa yang digunakan bukan hanya tersampaikan tetapi berguna dan bermanfaat bagi lawan bicara. Ungkapan yang kita lontarkan hendaknya bisa membuat lawan bicara lebih semangat dalam kehidupannya.
Akhirnya, jika terjadi kesalahan dalam berkomunikasi, salah ucap sengaja maupun tidak sengaja, akuilah dan segera mohon maaf dan meminta ampun kepada Allah. Wallahu a'lam bish-shawab!
(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)