Mengenal Tentang Dibalik Kabar Politik Terkini Mengenai Politik Identitas

Penulis: Redaksi , Editor: Muhammad Sapi'i - Rabu, 20 Juli 2022 , 12:30 WIB
Ilustrasi kotak dan surat suara
Istimewa
Ilustrasi kotak dan surat suara


Lembaga Indo Survei serta Strategi (ISS) telah memperkirakan isu suku, agama, ras, dan antar golongan atau SARA, serta komunisme, nantinya dapat semakin kencang digunakan saat mendekati pemilihan umum, mau itu saat pemilihan kepala daerah, legislatif sampai presiden. Kedua isu kabar politik terkini mengenai politik identitas itu dimanfaatkan agar dapat memenangi pertarungan dalam pemilu.

Survei yang telah dilakukan ISS di tiga provinsi di Indonesia, yaitu Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, serta Banten. Untuk di sekitar Banten, survei mereka lakukan di Kota Tangerang, Serang, Lebak, dan Kabupaten Tangerang. Survei sendiri dilakukan tidak pada waktu bersamaan di wilayah-wilayah itu. Survei politik identitas dalam pilkada Banten dilakukan di Agustus 2017 bersama 440 responden. Di NTB, survei dilakukan di September 2017 dengan 600 responden serta survei Jawa Barat dilakukan pada November 2017. Responden juga dipilih dengan metode acak berjenjang atau multiple random sampling.

Untuk isu SARA sendiri membuat sebanyak sekitar 85,3 persen responden Jawa Barat yang menyatakan jika kesamaan agama menjadi dasar pertimbangan utama pada pemilihan Gubernur Jawa Barat. Yang tidak terpengaruh sebanyak sekitar 12,8 persen responden serta sekitar  2,0 persen responden yang menjawab tidak tahu

Sedangkan untuk isu komunis sendiri terdapat sekitar 86,8 persen responden yang tidak akan memilih pasangan yang nantinya menganut paham komunis, sekitar  5,1 persen yang akan mempertimbangkan, dan sekitar 0,8 persen uang tidak menentukan pilihan.

Lalu ada responden sekitar 62,33 persen di NTB yang tidak akan memilih pasangan calon yang menganut paham komunis, lalu sekitar 0,17 responden yang pasti akan memilih, 3 persen yang akan mempertimbangkan, dan sekitar 34,5 tidak tahu. Lalu untuk isu agama, ada sekitar 90 persen yang menghendaki adanya kesamaan pada keyakinan, lalu sekitar 8,5 persen yang tidak tahu, dan 2 persen yang tidak akan terpengaruh.

Lalu survei pada empat kota/kabupaten di Banten juga telah menunjukkan kabar politik terkini mengenai responden yang cenderung tidak ingin memilih jika pasangan calon pada pemilu menganut paham komunis. Mereka yang menolak itu sekitar 59 sampai 71 persen responden pada empat wilayah tersebut. Sama dengan isu agama seperti paham Syiah.

Hasil survei satu ini pun sejalan dengan pernyataan dari Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Inspektorat Jenderal bernama Setyo Wasisto pada acara kesiapan pilkada serentak yang dilakukan pada 2018 di 27 November 2017. Menurut Setyo sendiri, isu agama biasanya akan menjadi salah satu isu yang muncul paling banyak pada pelaksanaan pilkada 2018. Dia berkata jika terdapat sekitar 50 persen isu agama.

Berbagai Media sosial, misalnya Facebook, Instagram, serta Twitter sendiri biasanya adalah tempat yang akan digunakan untuk menyebarkan isu-isu SARA saat mendekati pilkada. Polisi, kata Setyo, sendiri juga akan melakukan patroli sampai 24 jam dan 7 hari dalam sepekan agar dapat memantau penyebaran isu SARA pada berbagai media sosial. Jika polisi tersebut akan menemukan hal-hal negatif, polisi nantinya langsung melakukan penindakan dengan persuasif.

Kabar politik terkini juga membuat masyarakat diminta untuk tidak coba-coba melakukannya. Beberapa daerah yang rawan juga akan perlu pengamanan ekstra. Daerah tersebut Ujar Setyo, adalah pada Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, sampai Papua.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID