Musibah Gelombang Pasang Air Hitam Laut, Bupati Romi Sebut Relokasi Dipertimbangkan

Bupati Tanjab Timur, Romi Hariyanto
Istimewa
Bupati Tanjab Timur, Romi Hariyanto
Pernulis: Redaksi

JERNIH.ID, Muara Sabak - Musibah rusaknya delapan rumah warga akibat gelombang pasang di muara Desa Air Hitam Laut Kecamatan Sadu Kabupaten Tanjung Jabung Timur disebut-sebut merupakan musibah tahunan yang terus berulang. Bahkan kondisi parahnya selalu terjadi mengikuti siklus lima tahunan. Terjadinya selalu di awal atau akhir tahun saat gelombang laut meningkat.

Dihubugi Sabtu 16 Januari 2020, KH As’ad Arsyad, tokoh masyarakat Desa Air Hitam Laut, mengungkapkan bahwa tahun ini adalah puncak siklus lima tahunan itu. Dia sudah menduga gelombang pasang tahun ini berakibat fatal bagi warga yang masih bertahan bermukim dibibir pantai Babussalam tersebut.

“Masih bersyukur tidak ada korban jiwa, saya kira kita harus segera mengambil langkah agar kejadian ini tidak terulang di masa mendatang,” ucap As’ad, Sabtu (16/1/2021).

Sebagai Ketua Baznas Tanjabtim, As’ad juga sudah melaporkan kepada Bupati Tanjabtim Romi Hariyanto terkait rencana penyaluran bantuan sesuai kapasitas Baznas. “Kita segera salurkan bantuan,” ucapnya.

Disebutkannya, beberapa warga yang tertimpa musibah diketahu merupakan janda tua yang perekonomiannya memprihatinkan. “Ada yang istri nelayan tapi suaminya sudah meninggal, rasanya sulit untuk bangkit apalagi untuk memperbaiki kerusakan rumahnya,” As’ad menjelaskan.

Dia cukup hafal dengan kondisi warga di sana lantaran memang Desa Airhitamlaut adalah tanah kelahirannya. Dia menceritakan bahwa sejumlah warga yang tahun ini tertimpa musibah kebanyakan statusnya menumpang di tanah keluarga almarhum H Arsyad pendiri pondok pesantren Wali Peetu, Ayah As’ad. Kebanyakan mereka adalah nelayan. Namun saat ini sudah ada yang alih profesi sebagai pekerja kebun.

Terpisah, Bupati Tanjab Timur Romi Hariyanto menyebut opsi relokasi sedang dipertimbangkan. Menurut Romi, relokasi adalah jalan terbaik yang harus dipikirkan agar warga di sana terhindar dari musibah yang kemungkinan terjadinya terus berulang, terutama jika memang siklus lima tahunan sepeti laporan As’ad tak bisa dihidari.

“Tadi Kiyai As’ad sudah melaporkan juga bahwa lokasi musibah tersebut sebagian besar merupakan tanah keluarga beliau. Beliau berkenan membantu relokasi,” kata Romi.

Sementara untuk membantu delapan keluarga yang rumahnya diterjang gelombang, Romi menyebut tim reaksi cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tanjabtim sudah diterjunkan. Pemkab juga sedang mengupayakan bantuan untuk para korban.

Camat Sadu, Frans Apriyanto dihubungi Sabtu siang membenarkan kedalapan KK yang terkena musibah saat ini sudah diungsikan ke rumah kerabatnya di desa setempat. Pihak kecamatan juga sudah mendirikan posko untuk empat hari kedepan. Pihaknya merasa perlu untuk mengantisipasi gelombang pasang yang naik kembali.

“Kita berjaga - jaga, memang saat ini gelombang relatif mereda, mungkin karena curah hujan yang sudah tak separah senin, tapi cuaca kan tidak bisa dipastikan, TRC juga sudah di lokasi,” jelas Fran.

Kepala BPBD Tanjabtim, Jakfar, menyebut Tanjabtim termasuk rawan dilanda bencana pasang rob dan gelombang pasang. Sejumlah permukiman warga diketahui berada di pesisir dan kontruksi bangunan kebanyakan berbahan kayu.

“Usianya juga relatif sudah tua, seperti yang di pantai Babussalam itu, bangunannya juga sudah rapuh termakan usia, apalagi kawasan itu berada di jalur terbuka yang berpotensi dihantam gelombang tinggi,” kata Jakfar.

Sejumlah desa juga diketahui rawan abrasi. Jakfar akan mengusulkan pembuatan dinding pemecah ombak untuk sejumlah titik yang rawan seperti desa - desa di kecamatan Sadu dan sejumlah desa di Kecamatan Nipahpanjang, Kecamatan Muarasabak Timur dan Kecamatan Mendahara.