Perkokoh Bisnis Bank Daerah: Direksi Bank Jambi Genjot Transparansi dan Akuntabilitas

Penulis: Redaksi , Editor: Ardy - Kamis, 22 Oktober 2026 , 16:25 WIB
Gedung Mahligai Bank 9 Jambi Gedung Mahligai Bank 9 Jambi


JERNIH.ID, JAMBI – Pengamat perbankan STIE Jambi, Laila Farhat, menilai komitmen Direksi Bank Jambi menggenjot pengelolaan keuangan transparan dan akuntabel menjadi langkah krusial. Kebijakan ini memperkuat tata kelola perusahaan, menjaga kepercayaan publik, sekaligus memperkokoh keberlanjutan bisnis bank daerah.

Menurut Laila, transparansi dan akuntabilitas menjadi dua landasan utama industri perbankan. Prinsip ini tidak sekadar menyajikan laporan keuangan, tetapi juga mengawal proses pengambilan keputusan, manajemen risiko, hingga alokasi anggaran secara bertanggung jawab.

“Transparansi dan akuntabilitas wajib menjadi budaya kerja. Setiap keputusan bisnis harus memiliki dasar jelas dan patuh pada aturan,” tegas Laila.

Sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Jambi mengemban misi ganda: mengejar profitabilitas sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Pengelolaan keuangan yang sehat menjadi fondasi utama untuk menyeimbangkan dua peran tersebut.

Laila mendorong Direksi Bank Jambi mewujudkan komitmen ini lewat penerapan Good Corporate Governance (GCG) secara konsisten. Langkah ini mencakup keterbukaan informasi, kepatuhan regulasi, pengawasan internal yang efektif, serta kejelasan pembagian wewenang.

“Bank dengan GCG kuat lebih tangguh menghadapi tantangan industri. Keterbukaan informasi memastikan publik menerima data secara layak, sementara akuntabilitas menjamin setiap kebijakan memiliki pertanggungjawaban jelas,” jelasnya.

Sistem tata kelola yang terbuka juga menutup celah penyimpangan dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Pengelolaan anggaran harus berjalan seiring dengan prinsip kehati-hatian (prudential banking) serta manajemen risiko yang ketat.

Penguatan tata kelola ini makin krusial di tengah persaingan perbankan dan era digitalisasi. Bank tidak hanya dituntut menyajikan layanan cepat, tetapi juga menjamin keamanan transaksi dan keandalan pencatatan keuangan.

“Transformasi digital harus sejalan dengan pengawasan internal dan integritas pengelolaan keuangan agar bisnis tumbuh sehat dan berkelanjutan,” tambah Laila.

Ia mengingatkan, kepercayaan masyarakat merupakan modal utama Bank Jambi dalam menjalankan fungsi intermediasi—menghimpun dana dan menyalurkan kredit ke sektor produktif. Kepercayaan ini lahir dari kinerja terukur dan transparansi manajemen.

Namun, Laila menekankan bahwa komitmen Direksi memerlukan dukungan seluruh elemen perbankan, dari jajaran manajemen hingga staf operasional. Transparansi tak boleh berhenti sebagai dokumen formal, melainkan wajib menjadi standar kerja harian.

“Keberhasilan tata kelola bergantung pada eksekusi di lapangan. Budaya kerja berintegritas menciptakan sistem operasional yang tertib, profesional, dan akuntabel,” paparnya.

Ia berharap Bank Jambi terus memperkuat pengawasan internal secara berkesinambungan sesuai standar regulator.

Penerapan GCG secara konsisten akan memperkokoh posisi Bank Jambi dalam menjaga kesehatan usaha, meningkatkan daya saing, serta memperluas kontribusi bagi perekonomian Provinsi Jambi.

“Tata kelola yang baik tidak hanya menjaga reputasi, tetapi memastikan bank memberi manfaat nyata bagi pembangunan daerah,” pungkasnya.(*/JR2)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID