Selamat Hari Guru, Berikut Beberapa Ulasan Untuk Menjadi Guru Terbaik

Penulis: Jernih 1 - Rabu, 25 November 2020 , 17:41 WIB
Abdullah Al-Marwi, S.Kom.I
dok. pribadi
Abdullah Al-Marwi, S.Kom.I


Penulis: Abdullah Al-Marwi, S.Kom.I*

MENGHIASI DIRI DENGAN SIFAT-SIFAT MULIA

Seorang guru hendaknya memiliki sifat-sifat mulia, karena jiwa seorang murid itu cenderung kepada jiwa gurunya. Guru adalah panutan bagi muridnya dalam sifat dalam akhlak dan tingkah laku. Jika seorang guru memiliki sifat-sifat mulia maka muridnya akan cenderung juga seperti gurunya yang memiliki sifat-sifat mulia.

Diantara sifat-sifat yang harus dimiliki seorang guru adalah:

Menjaga Taqwa kepada Allah dimanapun berada, Bersifat tawadhu’, Lemah lembut terhadap muridnya, Bersifat tenang tidak tergesa-gesa, Wara’ menjaga diri dari yang Haram, Bersifat Khusyu’, Bersifat Kasih sayang, Bersifat Penyantun, Manis muka dan ramah, Sabar dalam mendidik, Istiqomah dalam menjalankan syari’at Islam

SEORANG GURU HENDAKNYA MENJAGA SYARI’AT ISLAM DAN MENJAGA SUNNAH-SUNNAH RASULULAH

Seorang guru hendaknya menjaga dan selalu melaksanakan syari’at-syari’at Islam dalam kesehariannya. Dan juga menjaga sunnah-sunnah Rasulullah SAW.  Seperti: Sholat berjama’ah, Menebarkan salam, Melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Sabar atas musibah,Tilawatil qur’an, Zikrullah fil qolbi wal lisan, Solat sunnah, Berpuasa, Membaca sholawat, Dan ibadah-ibadah lainnya.

MEMBERSIHKAN ZOHIR DAN BATINNYA DARI SIFAT TERCELA

Seorang guru hendaknya membersihkan batinnya dengan cara menjauhi saifat-sifat tercela,  seperti: Syirik, Maksiyat, Bermasam muka, Dengki, Menyeleweng, Ujub/ingin dipuji, Sombong, Menipu, Zalim, Pelit/bakhil, Tamak, Dusta, Riya, Su’uzzon, Dan sifat-sifat tercela lainnya.

GURU HENDAKNYA  CINTA  ILMU DAN SELALU BELAJAR

Hendaknya seorang guru cinta terhadap ilmu cinta terhadap buku. Selalu mengambil faidah, selalu menambah ilmunya setiap hari. jangan merasa telah pandai karena, Seseorang dikatakan berilmu selama ia mau belajar, apabila ia meninggalkan belajar dan menyangka dirinya telah mengetahui maka dia adalah orang yang bodoh.

Selain itu seorang guru hendaknya menulis sebuah karya jika memang ia  mampu terhadap hal tersebut, karena fatwa-fatwa guru sangat dibutuhkan oleh ummat dikemudian hari.

GURU HENDAKNYA MEYELARASKAN ANTARA UCAPAN DAN PERBUATANNYA

Seorang guru hendaklah melaksanakan apa ia ucapkan. Karena seorang guru adalah ikutan bagi murid-muridnya, GU_RU diGUgu dan ditiRU, kesan murid kepada gurunya sangat dalam jika seorang guru melaksanakan apa yang ia ucapkan. Namun jika tidak, maka kuranglah pandangan kemuliaan murid terhadap gurunya.

Allah memerintahkan agar menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan sebagaimana firman Allah SWT. Dalam al-qur’an:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

IKHLAS MENGAJARKAN ILMU KARENA ALLAH TA’ALA

Seorang guru hendaknya berniat dengan ikhlas dalam menyampaikan ilmunya tanpa mengharap imbalan. Karena keikhlasan guru akan sangat berpengaruh kepada muridnya atas ilmu yang disampaikan.

Firman Allah dalam al-qur’an.

Artinya: “Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS. Al-An’am: 90)

BERDO’A TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMULAI BELAJAR

Apabila keluar dari rumah untuk menuju tempat mengajar maka hendaknya seorang guru berdo’a terlebih dahulu denga do’a berikut ini:

"Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku,  dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”. (QS. Taha: 25-28)

Dan do’a berikut ini:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu akan tersesat atau menyesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menzolimi atau dizolimi, jadi bodoh atau dibodohi atasku, Maha Mulia engkau pemberi keselmatan dan Maha Agung engkau semua pujian untuk-Mu dan tiada tuhan selain Engkau. Dengan menyebut nama Allah, aku beriman kepada Allah, berpegang kepada Allah, bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan Allah. Ya Allah tetapkanlah hatiku dan ingatkanlah kebenaran atas lidahku.

PERJELAS PENYAMPAIAN MATERI

Dalam menyampaikan materi seorang guru hendaknya menyampaikan materi dengan jelas sehingga murid bisa faham dengan sebenar-benarnya. Seorang guru bisa menggunakan isyarat dalam memperjelas penyampaiannya, seperti isyarat marah maka muka seakan-akan memerah atau jika berbelas kasih maka wajah ceria  dan lembut. Dan bisa juga menggunakan gerak tangan dan anggota badan lainnya untuk memperjelas penyampaian materinya.

Atau menggunakan media seperti laptop ditayangkan materinya misyalnya tentang solat atau haji maka tampilkan gambar-gambar yang berkaitan dengan sholat dah haji, hal itu bertujuan untuk memperjelas dalam memberi pemahaman.

Baca juga : Mengenal Sosok Abdullah Al Marwi, S.Kom.I

Selain itu untuk memperjelas materi bisa juga memberikan kesempatan kepada murid untuk bertanya. Atau seorang guru bertanya kepada muridnya tentang hal mana yang belum paham dari pemaparan yang disampaikan oleh sang guru.

Metode berkisah bisa juga digunakan untuk memperjelas materi, dengan cara mengambil cerita-cerita yang ada kaitannya dengan meteri yang disampaikan, seperti penyampaian tentang sombong dan menumpuk-numpuk harta maka bisa kita ambil kisah Qorun untuk sebagai pelajaran. Didalam Al-Qur’an sendiri Allah banyak menggunakan kisah-kisah dan tamsil-tamsil untuk dijadikan Ibroh bagi orang yang hidup sesudahnya. Contoh-contoh adalah jembatan  nyata antara teori dan kenyataan.

TEKHNIK MENJAWAB PERTANYAAN

Pertanyaan yang diajukan kepada guru ada tiga macam jenisnya. Pertama pertanyaan yang mudah, pertanyaan yang mudah dijawab maka guru bisa langsung memberikan jawabannya sa’at itu juga. Kedua pertanyaan yang setengah sulit hal ini guru hanya bisa menjawab semampunya saja sesuai pengetahuannya. Dan yang ketigapertanyaan yang sulit. Jika hal ini terjadi maka jawablah bahwa kita belum mengetahuinya. Jangan menjawab pertanyaan yang tidak tahu jawabannya karena hal itu termasuk menyia-nyiakan agama. Apabia seorang guru ditanya oleh muridnya, tentang sesuatu yang ia tidak ketahui sama sekali. Maka jawablah bahwa ia belum tahu la a’lam aku tidak tahu atau la adri aku tidak menemukan. Karena ucapan tidak tahu itu tidak menggugurkan kewibawaan, bahkan hal itu menunjukkan kehormatannya dan kehati-hatiannya, karena ia telah mengagungkan syari’at dengan tidak menjawab sesuatu yang tidak ia ketahui.

Rasulullah SAW. Juga Pernah ditanya sahabat tentang suatu hal yang Nabi sendiri tidak tahu, maka Nabi menjawab tidak tahu. Sahabat bertaanya, kota manakah yang paling buruk didunia ini ? Rasulullah SAW menjawab Aku tidak Tahu. Imam syafi’i juga pernah ditanya orang tentang nikah mut’ah apakah ada talak atau tidak maka ia menjawab “Aku tidak tahu.

Jika memang perkara tersebut belum ia ketahui maka jawablah tidak tahu karena hal itu menunjukkan kehati-hatiannya dalam menjaga syari’at. Jangan lah menjawab sesuatu yang kita tidak mengetahuinya karena kalau salah dalam memberikan jawaban maka  akan salah juga pemahanan yang diterima oleh penuntut ilmu. Kita bisa mengatakan hal itu belum tahu dan akan dicarikan jawabannya dikemudian hari.

*Penulis merupakan Guru Pondok Pesantren Sa’adatul Abadiyah Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Penulis Buku Bersamamu Kuraih Surga



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID